Diah Pramana Rachmawati Soekarno

LahirJakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, 27 September 1950
Profesi
Karier
  • Pendiri Partai Pelopor
  • Politisi Indonesia
Pendidikan
  • Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1969)

Berbeda dengan sang kakak, perempuan bernama lengakah Diah Pramana Rachmawati Soekarnoputri relatif lebih telat terjun ke dunia politik praktis dibandingkan Megawati. Namun, anak ketiga Soekarno ini tampaknya ingin mewarisi semangat berorasi sang ayah.

Semangat itu terlihat saat Rachmawati berorasi dengan semangat berkobar-kobar di hadapan sekitar 5.000-an massa Partai Pelopor, di Lapangan Lumintang, Denpasar, Bali, 31 Maret 2004. Partai Pelopor didirikan oleh Rachmawati sejak 2002, yang memiliki basis konstituen dari kalangan Marhaenis urban. Baginya, Partai Pelopor lebih mewakili keyakinan rakyat.

Rachmawati merupakan hasil pernikahan Soekarno dengan Fatmawati. Ia lahir di Jakarta pada 27 September 1950. Ia bernama lengkap Diah Pramana Rachmawati Soekarnoputri. Saat Rachmawati kecil baru berusia 3 tahun, ia menjadi korban prahara rumah tangga akibat dari sikap flamboyan ayahnya. Soekarno memilih menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hartini.  Fatmawati memutuskan untuk meninggalkan istana. Rachmawati diasuh oleh seorang wanita sal Solo bernama Ibu Hadi yang kemudian menjadi ibu angkatnya.

Sejak kecil pula Rachmawati menjadi lebih dekat kepada ayahnya ketimbang ibu kandungnya. Menginjak remaja, Rachmawati mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap dunia seni. Sejak SD hingga SMP belajar menari, antara lain tari-tarian daerah yang berasal dari Sumatera, Sunda, maupun Jawa. Ia pun gemar bermain beberapa cabang olahraga seperti bulu tangkis, renang, dan anggar. Rachmawati mengambil jurusan IPS saat SMA. Cita-citanya sebagai dokter pun kandas. Jurusan Hukum di Universitas Indonesia jadi pilihannya.

Sebelum terjun ke dunia poltiik seperti kakak-kakaknya, Rachmawati terlebih dahulu memfokuskan dirinya di beberapa kegiatan terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Ia menginisiasi berdirinya Yayasan Pendidikan Soekarno dan Universitas Bung Karno (UBK), yang hingga kini masih eksis berdiri, demi abadinya ide-ide politik Soekarno.

Salah satu ide Soekarno adalah tentang Marhaenisme, sebuah ideologi kerakyatan yang dijadikan pegangan utama bagi  Rachmawati, Sukmawati, maupun Megawati dalam menggerakkan partai politiknya masing-masing. Idealisme yang tentu disesuaikan dengan tafsirnya sendiri-sendiri, hingga terlihat dalam bagaimana ketiga perempuan itu menggagas corak partai politiknya.

Sebelum mendirikan Partai Pelopor, Rachmawati sempat mengawali karier politiknya dengan ikut mendeklarasikan Forum Nasional pada 2001. Forum tersebut diisi oleh para politisi yang berani mengecam elit politik tanah air yang nyaman berada di posisi menara gading, alias jauh dari rakyatnya.

Sebagai Ketua Umum Partai Pelopor, Rachmawati justru melancarkan serangan-serangan terhadap kakaknya, Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI-P. Sikap Rachmawati terbilang cukup konsisten. Ia selalu ingin menempatkan dirinya dalam posisi yang berseberangan dengan Megawati. Di berbagai kesempatan untuk berbicara, di podium maupun saat berhadapan dengan awak media, Rachmawati kerap melancarkan kritik kepada sang kakak. Saat kisruh KPK vs Polri mencuat, Rachmawati juga menyerang Megawati.

Sayangnya, Partai Pelopor tak berumur panjang, sedangkan PDI-P masih menjadi salah satu partai yang paling besar di Indonesia. Bahkan PDI-P bisa dianggap memenangkan Pemilu 2014 sebab Megawati berhasil menaikkan status Jokowi dari seorang walikota hingga menjadi presiden. Sementara itu, Partai Pelopor tereliminasi sebelum penyelenggaraan Pemilu 2014. Pada 2012, Rachmawati bergabung dengan Partai Nasional Demokrat. Namun itu tak lama, pada 2015 Rachmawati bergabung dengan Partai Gerindra.