Dewi Lestari Simanunsong

LahirBandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia, 20 Januari 1976
Profesi
Karier
  • Novelis Novelis (1994)
  • Musisi Musisi (1993)
Pendidikan
  • Fakultas Hubungan Internasional Universitas Parahyangan

Dewi Lestari Simanunsong dikenal sebagai seorang novelis yang karyanya menjadi salah satu produk sastra terlaris di toko-toko buku di Indonesia. Selain menulis novel, ia juga berkarier sebagai seorang penyanyi. Pertama kaki dikenal publik sebagai penyanyi adalah saat ia bergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD), sebuah grup trio vokal.

Perempuan dengan panggilan akrab Dee tersebut lahir di Bandung pada 20 Januari 1976 dan berstatus sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya adalah Yihan Simangunsong sedangkan ibunya adalah Tiurlan br Siagian (alm).

Dee adalah kakak dari vokalis Mocca, Arina Ephiphania, dan sudah akrab dengan dunia musik. Ayahnya, misal, belajar piano secara otodidak. Dee juga pernah menjadi backing vokal untuk Iwa K sebelum bergabung dengan RSD. Setelah ikut membidani lahirnya RSD di tahun 1994 bersama Rida Farida dan Indah Sita Nursanti, Dee pun memulai kariernya di dunia tarik suara.

Antara Kita di tahun 1995 keluar sebagai album debut RSD yang kemudian dilanjutkan dengan keluarnya album Bertiga dua tahun kemudian. Album Satu rilis tahun 1999 di bawah bendera Sony Music Indonesia degan single andalan seperti “Tak Perlu Memiliki” dan “Kepadamu”. Tahun 2002 muncul album The Besy of Rida Sita Dewi dengan menggandeng Yovie Widianto.

Album solo Dee muncul di tahun 2006 dengan judul Out of Shell, sebuah album berbahasa Inggris. Tahun 2008 ia kembali meluncurkan album RectoVerso dan kali ini berbahasa Indonesia. Ia menggandeng sang adik Arina untuk berduet di lagu “Aku Ada”. Namun yang menjadi hits besar dan melambungkan namanya di ranah musisi pop tanah air adalah lagu “Malaikat Juga Tahu”.

Karier kepenulisan Dee diawali dari kesenangannya menulis untuk beberapa media. Antara lain cerpennya yang berjudul “Sikat Gigi” pernah dimuat di Jendela Newsletter. Tahun 1993, ia mendapat hadiah juara pertama majalah Gadis dengan tulisan berjudul “Ekspresi”. Tahun selanjutnya, Majalah Mode memuat cerita bersambungnya yang berjudul “Rico the Coro”.

Tanggal 16 Februari 2001, karier kepenulisannya segera mencuri perhatian saat menerbitkan novel pertamanya, Supernova Satu: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Dalam 35 hari saja novelnya laku 12.000 eksemplar hingga akhirnya penjualan totalnya mencapai 75.000 buah. Bulan Maret 2002, Supernova Satu edisi Inggris dilempar ke pasar internasional.

Kualitas yang cukup berbobot membuat novelnya masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang diselenggarakan di QB World Books. Karya selanjutnya sebagai lanjutan dari Supernova pun makin mudah dikenal orang. Diantaranya adalah “Akar” dan “Petir”. Tahun 2008 ia meluncurkan novel RETOVERSO, dan tahun 2009 novel Prahu Kertas-nya meledak di pasaran hingga dibuatkan film sekuel.

Di tahun-tahun berikutnya, novel lanjutan Sueprnova masih dibuat dengan gaya penceritaan yang sama. Antara lain GELOMBANG, dan yang terkahir diterbitkan tanggal 26 Feburari 2016 dengan judul Intelegensia Embun Pagi (IEP).

Dee menikah dengan penyanyi Marcel Siahaan dan di tahun 2005 dikaruniasi seorang anak laki-laki yang diberi nama Keenan Avalokita Kirana. Sayang, di tahun 2008 keduanya bercerai dan Dee menikah lagi dengan seorang pakar penyembuhan holistik, Reza Gunawan.