Dandhy Dwi Laksono

Dandhy Dwi Laksono

timeter overall

+33
Lahir
Lumajang, 29/06/1976
Profesi
Editorial Consultant First Media News (cable) – 2010-2011 (2010-2011)
Karier
  • Reporter Tabloid Kapital (1998-2000) (1998-2000)
  • Reporter Warta Ekonomi Magazine (2000) (2000-)
  • Editor PAS FM Radio (2000) (2000-2001)
  • Chief Editor AHA Digital Lifestyle Magazine (2001) (2001-)
  • Editorial Writer SMART FM Radio (2001-2003) (2001-2003)
  • News Producer RAMAKO Radio (2000-2002) (2000-2002)
  • News Producer Liputan 6, SCTV (2002-2003) (2002-2003)
  • Freelance Indonesian Political Analyst ABC Radio, Indonesian Section, Australia (2001-2003) (2001-2003)
  • Chief Editor Acehkita.com (2003-2005) (2003-2005)
  • Head of Assigment Desk RCTI (2006-2009) (2006-2009)
  • Editorial Consultant First Media News (cable) – 2010-2011 (2010-2011)
Penghargaan
  • 1st Prize for Padjadjaran University Education Writing Competition: “Membangun Kampus dari Dalam Kelas” (1998)., Universitas Padjajaran (1998)
  • 5th Prize for Pikiran Rakyat Daily Election Writing Competition: “Pemilu dan Pemilih Pemula” (1997)., PIkiran Rakyat (1997)
  • 1st Prize for Jakarta Stock Exchange Journalist Writing Competition: “Anjing Penjaga di Lantai Bursa” (2002)., Jakarta Stock Exchange (2002)
  • 1st Prize for Jakarta The Best Journalist 2008: Investigative Report on “Pembunuhan Munir”, a Human Right Defender Murder Case (Alliance of Independent Journalist - AJI), AJI (2008)
  • 1st Prize for British Council Broadcast Competition: “Ranger di Tepian Leuser”, an Illegal Logging Story in Aceh (2008)., AJI (2008)
  • Chevening Scholar-led Program, ‘Alkinemokiye’ public screening in U.K, Chevening Scholar-led Program ()
  • People Choice Award for “Alkinemokiye”, Screen Below the Wind, Southeast Asia Documentary Festival, 2012, People Choice Award (2012)
Kegiatan Lain
  • Ohio University Internship Program on Broadcast Journalist Covering Conflict, (Ohio, New York, Washington DC) July-August 2007 (-)
  • British Council Broadcasting Program, London, Oktober-November 2008. (-)
  • Conference for International Media Worker, Seoul, October 2003. (-)
  • USA International Visitor Program for Journalist, Washington DC, Atlanta, Phoenix, and San Francisco, May-June 2004. (-)
  • Alternative Approaches to Media Coverage of Conflict Seminar, Cebu, Philippines, April 2005. (-)
  • Conference for Media and Conflict in Aceh, Penang, Malaysia, July 2004. (-)
  • Journalism Asia Forum 2004, Bangkok, Thailand, January 2005. (-)
  • Journalists Covering Disaster, Shantou, China, March 2005. (-)

Dandhy Dwi Laksono adalah seorang jurnalis yang dikenal dengan produk-produk jurnalistik berupa buku maupun film dokumenter dengan pendekatan jurnalisme investigatif. Dandhy dikenal sebagai seorang idealis yang selalu menjadikan pembelaan terhadap orang-orang kecil atau marjinal sebagai dasarnya dalam berkarya, terutama dalam film-film dokumenternya yang menggugah perhatian publik.


Dalam sebuah wawancara dengan The Jakarta Post, sedari muda ia mulai mendedikasikan dirinya untuk membuat karya yang bermutu baik dan membuat Dandhy kenyang akan segala macam serangan yang dilancarkan dari pihak-pihak yang ia kritisi di karya-karya jurnalistiknya.


Dandhy selalu berpegangan pada fakta saat berkarya dan siap berhadapan dengan siapa saja yang menghadang jalannya dalam rangka mencari dan mengungkap kebenaran. Keberaniannya dalam mengungkap kasus yang sensitif, semisal kasus Munir, menempatkan dirinya pada posisi yang siap “dimangsa” pihak-pihak yang tak sejalan. Bahkan istrinya pun pernah difoto oleh dua orang tak dikenal saat turun dari bus.


Dandhy mengawali karir di penghujung era 1990-an alias masa dimana hak untuk berekspresi terutama di ranah jurnalistik masih terkekang. Di era reformasi, Dandhy masih bertahan sebagai jurnalis yang idealis, hingga kemudian ia tak tahan dengan perlakuan sebuah perusahaan media tempat ia bekerja sampai akhirnya ia dipecat.


Kasus pemecatannya memang berakhir tak baik untuknya setelah kalah di pengadilan. Namun mulai saat itulah idealismenya mulai teruji dan ia yakin bahwa pemecatannya terkait dengan laporannya tentang operasi militer di Aceh yang memicu kemarahan beberapa pejabat tinggi. Ia juga pernah memutuskan keluar dari sebuah perusahaan media nasional terkemuka karena muak dengan kepentingan politis yang hadir di meja redaksinya.


Ia memulai karier di tahun 1998 sebagai reporter di tabloid Kapital, dan selama ia menjalani karier dunia kewartawannya selama 14 tahun, Dandhy telah mencoba hampir semua jenis media: cetak, TV, online, dan lain sebagainya. Namun pada akhirnya, hatinya berlabuh untuk film dokumenter. Padahal di tahun 2008 ia dianugerahi titel jurnalis terbaik oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) atas laporan investigasinya tentang Munir.


Ia adalah pendiri rumah produksi WatchdoC, dan menghasilkan banyak karya dokumenter dengan tema-tema seputar isu kemanusiaan. Beberapa karya WatchdoC yang menyita perhatian publik antara lain Di Balik Tembok Arsip Nasional (2008), Kiri Hijau Kanan Merah (2009), Baret Coklat (2010), dan yang paling menimbulkan kontroversi namun juga dianggap salah satu yang terbaik, Alkinemokiye (2012).


Tahun 2015-2016 Dhandy dan seorang kawan jurnalisnya melakukan perjalanan panjang berkeliling Indonesia dengan memakai sepeda motor dan dinamai Ekspedisi Biru. Ia melakukan dokumentasi terkait isu-isu energi, ekonomi mikro, kearifan lokal, sosial-budaya, dan menghasilkan beberapa film dokumenter pendek yang membahas isu-isu lokal namun sensitif dan berdaya jangkau nasional yang jarang dilaporkan media secara mendalam.


Hingga di umurnya yang mendekati kepala empat, Dandhy masih terus berkarya sambil sesekali menjadi pembicara terkait jurnalisme investigatif di banyak forum.