Budiman Sudjatmiko

Anggota DPR RI
LahirCilacap, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia, 10 Mei 1970
ProfesiAnggota DPR RI
Karier
  • Anggota DPR RI
Pendidikan
  • SMA Muhammadiyah I Yogyakarta
  • S2 Ilmu Politik Universitas London
  • S2 Hubungan Internasional Universitas Cambridge

Lahir di Cilacap pada 10 Maret 1970, Budiman Sudjatmiko adalah anak pertama dari empat bersaudara. Tumbuh besar di Cilacap, Bogor, dan Yogyakarta, Budiman hidup di tengah keluarga yang menanamkan nilai-nilai keagamaan, nasionalisme, dan kepedulian. Dari situ, ia berkembang menjadi pemuda yang aktif dalam berbagai kegiatan diskusi dan organisasi.

Sejak masa SMA ia telah terjun dalam dunia aktivis yang membuatnya kerap terlibat dalam diskusi-diskusi politik. Aktivitas gerakannya tersebut masih berlanjut bahkan hingga Budiman tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Kiprahnya dalam dunia politik sebagai aktivis lantas membawa Budiman duduk sebagai anggota DPR RI periode 2009 – 2014 dari Partai PDI Perjuangan.

Pada awal perannya sebagai aktivis di kampus, Budiman bergerak sebagai organisator komunitas selama empat tahun. Ia bertugas melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi, dan ekonomi di kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Aktivitas tersebut sering ia lakukan secara gerilya karena tingginya resistansi dan tekanan dari pihak militer dan pemerintah pada saat itu.

Nama Budiman Sudjatmiko kemudian mulai dikenal secara luas kala mendeklarasikan terbentuknya Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1996. Di tahun yang sama, tepat pada 22 Juli PRD mengeluarkan manifesto perlawanan terhadap kekuatan Orde Baru yang isinya mengkritik kondisi politik dan sosial-ekonomi di bawah pemerintahan Soeharto.

PRD sejak awal memang mengambil sikap oposisi terhadap pemerintahan Orde Baru. Karena aktivitasnya sering membahayakan kedudukan pemerintah, Budiman selaku Ketua PRD pun pernah dicap sebagai ‘orang yang paling berbahaya’. Saat terjadi insiden 27 Juli 1996, nama Budiman Sudjatmiko menjadi orang pertama yang dicari pemerintah atas tuduhan sebagai aktor intelektual di balik peristiwa tersebut. Akibatnya, ia dijatuhi vonis 13 tahun penjara dan mendekam di LP Cipinang, Jakarta Timur.

Bagi Budiman, belajar otodidak dan fokus merealisasikan misi partainya di tanah air tidaklah cukup. Maka selepas bebas dari bui, Budiman kemudian memilih melanjutkan studinya S2 dalam Ilmu Politik di Universitas London dan Hubungan Internasional di Universitas Cambridge. Ia pun berhasil menyandang titel Master Ilmu Politik dengan tesis tentang politik Cina kontemporer dan Master Hubungan Internasional dengan tesis mengenai politik Klientelisme. Selanjutnya, Budiman kembali ke Indonesia dan meneruskan kiprah politiknya.

Bukannya lanjut mengembangkan PRD, Budiman justru memilih bergabung dengan PDI Perjuangan. Meski menuai beragam reaksi, pria berkaca mata ini memiliki alasannya tersendiri dengan pilihannya. Menurut Budiman, PRD dan PDI Perjuangan memiliki kesamaan ideologi yaitu sama-sama membela masyarakat kecil. Selama tergabung dalam PDI Perjuangan, Budiman juga membentuk Relawan Perjuangan Demokrasi. Sementara itu, dalam struktur kepengurusan PDI Perjuangan ia memegang posisi sebagai Ketua Departemen Pemuda PDI Perjuangan.

Bersama PDI Perjuangan, Budiman berhasil memenangkan Pemilu 2009 sehingga terpilih sebagai anggota DPR RI. Selama menjadi anggota dewan, ia ditempatkan di Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, dan agraria. Kesibukannya sebagai anggota dewan tidak menghambatnya menyalurkan ketertarikannya menulis. Pada April 2012, Budiman meluncurkan buku pertamanya yang berjudul Anak-Anak Revolusi.