Andika Perkasa

Komandan Resor Militer Komandan Resor Militer 023/Kawal Samudera, Kodam I/Bukit Barisan
LahirBandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia, 21 Desember 1964
ProfesiKomandan Resor Militer Komandan Resor Militer 023/Kawal Samudera, Kodam I/Bukit Barisan
Karier
  • Komandan Pasukan Pasukan Pengamanan Presiden (2014)
  • Kepala Dinas Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI-AD (2013)
  • Komandan Resor Militer Komandan Resor Militer 023/Kawal Samudera, Kodam I/Bukit Barisan
Pendidikan
  • The Military College of Vermont, Norwich University (Northfield, Vermont, USA)
  • National War College, National Defense University (Washington D.C., USA)
  • Harvard University (Massachusetts, USA)
  • The Trachtenberg School of Public Policy and Public Administration, The George Washington University (Washington D.C., USA)
  • Akademi Militer (Akmil) kecabangan Infanteri
  • Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat

Andika Perkasa adalah salah seorang perwira militer Indonesia yang memperoleh penghargaan bergengsi di dunia militer, yakni Bintang Kartika Eka Paksi Nararya. Sejak 23 Oktober 2014, ia dipromosikan sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), menggantikan Mayjen Doni Munardo.

Pengangkatan Andika Perkasa dinilai berbau nepotisme. Kontroversi pun tak terhindarkan. Media massa mengaitkan promosi jabatan tersebut dengan posisi mertua Andika Perkasa. Mertuanya, Jenderal Purn. A.M. Hendropriyono, adalah mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) dan menjadi penasehat senior presiden Jokowi.

Media massa juga mengaitkannya dengan insiden “Babinsa” dalam pemilihan presiden 2014 kemarin. Kasus Babinsa terkait erat dengan isu penyingkiran Kasad Jenderal TNI Budimen oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Andika Perkasa menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer pada tahun 1987. Penyandang pangkat Mayor ini telah meraih posisi sebagai Komandan Paspamres hanya dalam waktu 11 bulan. Terpantau pada awal tahun 2013 ia baru diangkat menjadi Kolonel, namun pada 8 November 2013, kolonel baru ini diangkat menjadi Kepala Dinas Angkatan Darat dan pangkatnya pun dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal.

Naik jabatannya menjadi semakin mengejutkan ketika sebelas bulan kemudian, ia mendapat promosi jabatan menjadi Komandan Paspamres. Dikarenakan waktu yang amat singkat itulah, kenapa sampai banyak media massa menilai ada nepotisme dalam penaikan jabatan itu. Dengan menjadi Komandan Paspamres, Andika Perkasa juga mendaptkan kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal.

Kalangan militer juga mempersoalkan kenaikan pangkat Andika Perkasa. Mereka mempertanyakan kelayakan kenaikan pangkat yang terjadi hanya dalam waktu sekian bulan padahal tidak terjadi sesuatu yang luar bias dalam perjalanan karirnya yang dapat dijadikan alasan kenaikan pangkat.

Selama bertugas, tugas-tugas Andika Perkasa sebagai perwira tidak diwarnai oleh berbagai macam operasi militer, tidak juga mengalami penugasan sebagai staf, dan penugasan teritorial seperti yang dialami perwira-perwira militer Indonesia pada umumnya. Diketahui bahwa Andika Perkasa banyak menghabiskan waktnya hanya untuk pendidikan. Andika perkasa melewatkan waktu dalam kurun waktu antara 2003 sampai 2011, berada di Washington D.C, Amerika Serikat untuk memperoleh pendidikan militer. Selain menempuh pendikan militer, ia juga mengikuti pendidikan di unversitas pada umumnya. Ia menempuh pendikan di Norwich University di negara bagian Vermont, Amerika Serikat dan ia berhasil memperoleh gelar master dari universitas tersebut.

Satu-satunya operasi militer yang pernah dilakukan oleh Andika Perkasa dalam perjalanan karir militernya ialah memimpin penangkapan pimpinan Al Qaeda, Omar Al-Faruq, di Bogor tahun 2002. Meskipun begitu, keberhasilan dalam menangkap Al-Faruq ini pun tetap diwarnai kontroversi. Sebab penangkapan dilakukan di bawah perintah BIN dan setelah ditangkap, Al-Faruq justru langsung diserahkan ke pihak Amerika Serikat tanpa adanya interogasi terlebih dahulu. Entah kebetulan atau tidak, pemimpin BIN yang memerintahkan penangkapan itu pun merupakan mertua Andika Perkasa, Hendropriyono.

Setelah lulus dari akademi militer, Andika langsung bergabung dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Di dalam pasukan itu, karirnya dimulai dengan menjadi komandan peleton. Masih di tahun yang sama, Andika sudah dipromosikan menjadi Komandan Unit 3 Grup 2, kemudian berangsur-angsur naik menjadi Dansub Tim 2 Detasemen 81 Kopassus (1991), Den 81 Kopassus (1995), Danden-621 Yon 52 Grup 2 Kopassus (1997), Pama Kopassus (1998), dan Pamen Kopassus (1998).

Andika kemudian mencicipi kedudukan sebagai Kepalasa Seksi Kajian Strategis Hankam di Departemen Pertahanan selama setahun. Tahun 2002, dia diangkat menjadi Danyon 32 Grup 3/Sandha Kopassus. Di sini, ia pun bertugas dalam waktu singkat saja, karena kemudian ia dimutasi menjadi Kepala Seksi Korem 051/WKT Dam Jaya. Lagi-lagi, jabatan ini diembannya dalam waktu singkat, ia kembali di mutasi dan menjabat sebagai Pabandya A-33 Direktorat A Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI yang bertugas secara khusus menangani masalah-maslaah dalam negeri.

Jabatan-jabatan lain juga dijalani Andika Perkasa dalam waktu singkat, seperti menjadi komandan Korem 023/Kawal Samudera di Sibolga. Lokasi tugasnya merupakan daerah pesisir di sebelah selatan Pulau Sumatera. Daerah ini realtif tenang, tidak banyak konflik sosial atau politik yang mengancam keamanan negara. Jabatan ini dilaksanakannya hanya dalam waktu enam bulan. Selanjutnya, ia sudah kembali dipromosikan ke jabatan penting lainnya.

Pada November 2013, sepeti yang telah disebutkan di atas ia menjadi Kepala Dinas Penerangan TNI-AD. Andika Perkasa sungguh-sungguh sebuah anomali, rata-rata petinggi militer lain akan menjalani masa jabatannya minimal satu tahun, namun Andika Perkasa hanya sebelas bulan saja dan sudah diangkat ke posisi sebagai Komandan Paspampres.

Dia juga dinilai miskin dalam strategi operasi tempur. Meskipun begitu, dalam siaran pers, dikatakan bahwa ia pernah malaksanakan operasi di Timor Timur. Pengalaman ini disampaikannya dalam acara peluncuran buku biografi Andika Perkasa. Dalam buku itu dikatakan kalau Andika Perkasa pernah menjalani operasi di Timor Timor pada 1990, Operasi Teritorial di Timor Timur (1992) dan operasi bakti TNI di Aceh (1994). Disebutkan pula bahwa Andika Perkasa pernah bertugas dalam misi operasi khusus di Papua. Akan tetapi, informasi ini tidak cukup membuat puas media massa dan petinggi elit militer lainnya. Petinggi militer ini mengetahui bahwa Andika Perkasa hanya menjalani operasi militer pada awal karirnya saja.

Andika pernah mendapatkan penghargaan yaitu sebagai Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, karena sudah menunjukkan kemampuan, kebijaksanaan dan jasa-jasa luar biasa melebihi panggilan kewajiban tanpa merugikan tugas pokok. Serta mendapatkan penghargaan Bintang Yudha Dharma Pratama merupakan sebuah tanda kehormatan yang dikeluarkan oleh angkatan bersenjata yaitu Kapolri dan Tentara Nasional Indonesia secara bersama.

Andika merupakan calon pengganti Jenderal TNI Mulyono sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dia dilantik oleh Presiden Jokowi pada Kamis, 22 November 2018 pukul 09:00 WIB bertempat di Istana Merdeka Jakarta.