Akbar Tandjung

Dewan Kehormatan Wakil Ketua
LahirSibolga, Kota Sibolga, Sumatera Utara, Indonesia, 14 Agustus 1945
ProfesiDewan Kehormatan Wakil Ketua
Karier
  • Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar (2015)
  • Dewan Kehormatan Wakil Ketua
Pendidikan
  • Sekolah Rakyat (SR) Muhammadiyah
  • SR Nasrani
  • SMP Perguruan Cikini
  • SMA Kanisius
  • Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Akbar Tandjung dikenal sejak awal sebagai seorang politikus. Ia lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 14 Agustus 1945. Saat ini ia berumur 70 tahun. akbar tandjung adalah mantan Ketua DPR-RI yang tahun 2015 ini ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar.

Di masa muda, akbar tandjung menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Muhammadiyah di Tapanuli Tengah. Pernah pula belajar di SD Nasrani di Jalan Seram, Medan, Sumatera Utara. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kolese Kanisius, Jakarta. Lulus dari SMA, ia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Cikini, Jakarta. akbar tandjung melanjutkan ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Ia lulus di Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan juga lulus dari Pascasarjana Doktoral Universitas Gadjah Mada.

Selama menjadi mahasiswa, akbar tandjung aktif sebagai aktivis. akbar tandjung aktif menjadi aktivis di Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Universitas Indonesia (KAMI-UI) tahun 1966. Tak hanya KAMI yang menjadi tempatnya beraktifitas, akbar tandjung juga bergabung dengan LASKAR AMPERA di mana di sana ada Arief Rahman Hakim.

Pada periode tahun 1967-1968, akbar tandjung menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Secara otomatis, karena ia aktif sebagai Ketua Senat maka paska tak menjabat lagi ia menjadi satu bagian dalam Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Indonesia.

Selain menjabat sebagai Ketua Senat, akbar tandjung sempat menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta, tahun 1969-1970. Selama periode itu, akbar tandjung tak cuma membesarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) aktif pula dalam membesarkan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra Universitar, antara lain GMNI, GMKI, PMKRI, dan PMII.
Keterlibatan akbar tandjung di dunia politik praktis mulai mendapat perhatian publik dan lawan politik ketika Akbat menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar. Sebelum dipercaya untuk menjabat posisi penting tersebut akbar tandjung pada tahun 1988-1993, Akbar resmi menjadi anggota Dewan Pembina DPP Golkar. Barulah pada tahun 1993-1998, Akbar menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pembina Golkar. Periode berikutnya, akbar tandjung menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar dan kemudian menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar dalam periode 1998-2004. 

Kemampuan organisasi dan manajerial yang didapat karena pengalaman berorganisasi di kemahasiswaan, kepemudaan, maupun di partai politik menarik perhatian Presiden. Sehingga ia terpilih sebagai menteri. Tercatata dalam sejarah, bahwa Akbar Tandjung berada di dalam lingkaran orang-orang pengambil kebijakan.

Akbar Tandjung untuk pertama kalinya menjadi menteri terjadi pada periode tahun1988-1993. Waktu itu, ia menjabat sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, pada Kabinet Pembangunan V. Selanjutnya periode 1993-1998, Akbar Tandjung dipercaya menduduki posisi sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kabinet Pembangunan VI. Ketika terjadi pergantian presiden dari Soeharto ke BJ Habibie, Akbar Tandjung tidak dikeluarkan dari susunan kabinet, melainkan diangkat oleh BJ Habibie menjadi Menteri Sekretaris Negara dalam Kabinet Reformasi Pembangunan periode 1998-1999. 

Belum lama ini, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar tersebut berkomentar mengenai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto. Menurutnya Setya Novanto merupakan sosok yang baik. Walaupun begitu, ia mengaku tak dapat membendung pendapat masyarkat mengenai kepribadian Setya Novanto terutama setelah ia terlibat dalam dua isu yang merugikan banyak pihak. Dua isu yang menjerat kredibilitas Setya Novanto dan secara tak langsung mencoreng kredibilitas partai tempat Akbat Tandjung bernaung ialah kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam negosiasi kontrak freeport dan pertemuan dengan bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald J. Trump, belum lama ini.

Terkait dengan kedua masalah tersebut, tetua partai Golkar ini bepihak pada norma hukum yang berlaku. "Selama kita tidak melihat dia melanggar hukum tentunya kita harus berprasangka baik," kata Akbar pada wartawan di kediamannya, Jakarta, Rabu, 18 November 2015.

Saat ditemui wartawan di kediamannya tersebut, suami dari Krisnina Maharani dan bapak dari empat anak yaitu Fitri Krisnawati, Karmia Krissanty, Triana Krisandini, dan Sekar Krisnauli menyatakan akan menurut pada keputusan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) pada kasus Setya Novanto, kader Partai Golkar yang ditunjuk oleh Akbar Tandjung sendiri. Sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pertimbangan Partai Golkar, Ia baru akan melakukan tindakan yang semestinya pada Setya Novanto setelah mendapat kepastian keputusan dari badan etik DPR tersebut.

Sudah pasti sikapnya nanti amat organisatoris, sebab sejak masih muda akbar tandjung sudah mengikuti berbagai proses dalam kegiatan keorganisasian. Ia tahu bagaimana cara menghadapi kader yang terbukti bersalah dan yang membuat masalah. Kehidupan Akbar Tandjung yang sudah akrab dengan dunia keorganisasian, menjadikannya memiliki sikap dan langkah mantap dalam bidang politik.

Di luar kasus tersebut, sebagai orang yang pernah menjadi kandidat presiden, Akbar Tandjung memiliki pandangan tersendiri terhadap Indonesia. Menurutnya, permasalahan nasional saat ini faktor utamanya karena Indonesia masih belum stabil setelah masa transisi pasca Orde Baru. Pada Pemilihan umum 2004 ia menyatakan bahwa Pemilihan Umum 2004, sebagai hajatan pertama pemilihan langsung presiden di Indonesia, merupakan batas konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945 yang diharapakan sudah mampu melahirkan pimpinan nasional yang terampil, memiliki agenda jelas dan terukur untuk membawa Indonesia kepada situasi yang lebih baik.
Aktifitasnya di dunia politik membuatnya dianugerahi penghargaan dari berbagai pihak, terutama dari pihak politik luar negeri. Akbar Tandjung mendapat Penghargaan dari Kruis in de Orde van Oranje-Nassau dari Pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1996.

Pengalaman Internasional lain Akbar Tandjung diantaranya:

Pada tahun 1972, Akbar Tandjung mengikuti Asia and Pacific Students Leaders Program-Departement of State USA, acara ini berlangsung selama tiga bulan. Dua tahun kemudian, tahun 1974, ia mengikuti pertemuan Majelis Pemuda se Dunia (World Assembly of Youth) di Nakhadka, Rusia.

Tahun 1988, Akbar Tandjung terpilih untuk memimpin Delegasi Indonesia dalam pertemuan Menteri-Menteri Olah Raga se Dunia di Moskow. Lagi-lagi, ia memiliki peranan penting dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1990, akbar tandjung memimpin delegasi Indonesia dalam Dialog Malaysia Indonesia (Malindo), di Kuala Lumpur.
Tahun 1995, Akbar Tandjung menjadi peserta terpilih mengikuti Seminar Federasi Real Estat Sedunia (FIABCI), di Paris, Perancis. Selanjutnya tahun 1996, Akbar Tanjdung berada di dalam Kongres Habitat II di Nairobi, Afrika. 

Perjalanan internasionalnya di tahun 1998 ialah mengikuti Komite Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Hanoi. Masih dalam suatu peranan penting, kemampuan manajerialnya masih membuatnya dipercaya sebagai pemimpin delegasi dalam acara Sidang International Parliament Union (IPU) di Yordania pada Oktober 1999.

Mantan aktivis mahasiswa ini kembali dipercaya untuk memimpin Delegasi pada Sidang Inter-parliamentary Union (IPU) di Jakarta, pada tahun 2000 dan masih di tahun yang sama, Akbar Tandjung terpilih untuk memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Singapura.
 
Belum berhenti sampai di sana, sepak terjang Akbar Tandjung di dunia internasional dengan membawa nama pemerintah Indonesia masih terus berlanjut. Ia, pada tahun 2001 memimpin delegasi Konferensi Ketua-Ketua Parlemen Se-Dunia, di NewYork dan masih di tahun yang sama, Akbat Tandjung harus memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Thailand. Setahun kemudian, ia masih pulang pergi ke negara-negara tetangga, pada tahun 2002, Akbar Tandjung pergi memimpin delegasi pada Sidang AIPO di Vietnam.