Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid

timeter overall

+28
Lahir
Jombang, 07/04/1940
Profesi
Presiden Republik Indonesia (1999-2001)
Karier
  • Presiden Republik Indonesia (1999-2001)
Pendidikan
  • Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002-2002)
  • Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003-2003)
  • Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003-2003)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003-2003)
  • Universitas Baghdad (1966-1970)
Penghargaan
  • Tasrif Award-AJI , Pejuang Kebebasan Pers (2006)
  • Ramon Magsaysay Award, Community Leadership (1993)

Abdurrahman Wahid lahir pada 7 September 1940 di Denannyar, Jombang ,Jawa Timur pada saat masa penjajahan Belanda. Ia adalah putra dari Wahid Hasyim dan Solichah. Pada mulanya Abdurrahman Wahid lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".


Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Saudaranya adalah Salahuddin Wahid dan Lily Wahid. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alisa,Yenny, Anita, dan Inayah.


Ada banyak kisah tentang presiden ketiga republik Indonesia ini. Sebagian dari kisah itu adalah kisah jenaka yang memang menjadi kebiasaan Gus Dur, begitu ia biasa di sapa. Gus Dur memang selalu punya lelucon untuk setiap hal. Bahkan ketika ia dijatuhkan, Gus Dur dengan tenang membuat cerita bahwa ia menjadi presiden dengan modal dengkul. Itu pun dengkul Amien Rais, orang yang menjatuhkannya melalui parlemen.


Lalu bagaimana kisah lainnya? Pada 7 Oktober 1999, Amien Rais melalui poros tengahnya berhasil mendudukkan Gus Dur sebagai Presiden Indonesia. Tapi tugas berat menanti Gus Dur. Indonesia sedang dalam masa krisis multidemensi: krisis ekonomi, krisis politik, krisis keamanan dan seabreg masalah lain.


Maka, sebagai negara yang sedang krisis-krisisnya, Indonesia di tahun-tahun awal pasca Reformasi mencoba untuk bangkit. Presiden berinisiatif mengirim delegasi para ekonom nomor wahid tanah air ke negeri Paman Sam. Adalah sang Presiden sendiri, (Alm) Abdurahman Wahid alias Gus Dur yang memberikan pertintah langsung perihal itu.



Mulanya misi delegasi itu sukses sebab yang menemui langsung adalah Presiden Bill Clinton sendiri. Usai jabat tangan dan basa-basi seperlunya, ketua tim segera menyampaikan maksud kedatangan kunjungan mereka ke Washington. Diakhiri dengan pertanyaan tersurat maupun tersirat tentang bagaimana langkah-langkah yang paling efektif untuk memulihkan ekonomi Indonesia yang tengah bergejolak tanpa kepastian.
Mendengar persoalan itu, dahi Bill Clinton berkerut. Dari paparan yang disampaikan tim ekonomi dan pandangannya terhadap Indonesia hasil lawatannya tahun lalu, ia malah membuat gestur dan pernyataan yang amat pesimistis.


“Kami di AS punya Johny CASH (aktor Hollywood), Stevie WONDER (penyanyi kondang), dan Bob Hope (komedian tenar).” begitu Clinton memulai percakapan.


“Nama-nama tersebut sudah cukup untuk menggambarkan kondisi ekonomi di Amerika. Kami punya CASH (uang tunai), WONDER (keajaiban), dan HOPE (harapan). Sedangkan negara kalian CASHLESS, WONDERLESS, dan HOPELESS!” tegasnya.



Seluruh anggota tim ekonomi tertunduk lesu. Mereka tak menyangka, bahkan seorang Presiden Clinton pesimis dengan kondisi perekonomian Indonesia di masa mendatang. Mereka pamit dan mengakhiri kunjungan dengan tangan hampa.



Sesampainya di Indonesia, Gus Dur sudah menunggu kedatangan tim ekonomi di ruang kerjanya.


“Bagaimana hasil kunjungan kemarin? Bertemu dengan Presiden Bill Clinton, kan?” serentetan pertanyaan keluar dari mulut Presiden keempat Indonesia itu saking semangatnya.



“Payah, Gus! Negara kita dibilang tak punya harapan sebab Indonesia tak punya Johny CASH, Stevie WONDER, atau Bob HOPE!” jawab ketua tim sambil bersungut-sungut.



Tak dinyana, jawaban Gus Dur sungguh di luar dugaan. Ia tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak.



Ketua tim bingung. “Kok ketawa, Gus?”


Dengan cerdik sekaligus jenaka, Gus Dur menjawab, “Kita memang tak punya ketiga orang-orang itu, tapi yang jelas kita punya banyak orang yang bernama SLAMET, HARTO, dan UNTUNG! Gitu aja Kok repot…”



Gus Dur memang fenomenal. Ia adalah Kyiai yang berani menentang kesewenang-wenangan rezim Orba bersama Amien Rais, Megawati Soekarno Putri, dan tokoh-tokoh politik lainnya. Pun disegani oleh tokoh-tokoh dunia lain. Namun dibalik sikapnya yang kritis sekaligus berani, yang tidak bisa dilupakan orang adalah sosoknya yang humoris.



Cerita di atas adalah sebagian dari cerita-cerita lucu yang tersaji oleh sebab rekam jejak Gus Dur. Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut, toh yang dicari banyak orang adalah punchline-nya yang khas, tak diduga-duga, dan tentu saja menghibur.



Gus Dur sendiri selama hidupnya dulu baik sebagai pengurus Nahdatul Ulama (NU) maupun ketika sudah menjadi Presiden RI hobi melempar lelucon-lelucon yang bikin orang terpingkal-pingkal. Sampai-sampai ia sendiri dulu pernah berujar. “Indonesia itu tak butuh pelawak. Wong presidennya saja lucu!”



Rekam jejak Gus Dur selalu diasosiasikan orang sebagai seorang muslim yang berpandangan liberal. Dari banyak karyanya yang berbentuk tulisan bisa terlihat kecenderungan tersebut. Maka, sebagaimana tokoh Islam lain yang mendaku diri maupun tidak sebagai seorang yang beraliran liberal, ia juga sering menimbulkan kontroversi. Salah satu contohnya adalah pendapatnya yang ingin mengganti salam “Assalamualaikum” dengan “selamat pagi”.



Terlepas dari label yang dilekatkan padanya, pembelaannya terhadap orang tertindas tak perlu diragukan lagi. Ia adalah presiden yang tak hanya berwawasan tinggi tentang pluralisme, namun juga berusaha untuk mewujudkannya saat menjabat sebagai Presiden. Ia kemudian dikenal sebagai pembela kaum minoritas yang tangguh. Saking konsistennya pembelaan tersebut, barangkali tak ada orang Tionghoa atau elemen minoritas lain di Indonesia yang tak bersedih saat mendengar berita kematiannya akhir 2009.



Penghargaannya yang tinggi pada orang kecil juga sempat mengilhaminya untuk sebuah cerita humor. Bahkan menjadi salah satu humor Gus Dur yang paling populer.



Ceritanya, seorang sopir metromini dan Gus Dur sedang di gerbang pintu akhirat untuk menunggu keputusan Tuhan yang disampaikan malaikat pada kedua orang itu, yaitu mau dimasukkan ke surga tipe apa.



Malaikat bertanya pada supir metro mini, “Apa kerjamu di dunia?”


“Saya supir metromini, Pak.” Jawabnya.


Malaikat pun mempersilahkan si supir untuk memasuki surga dengan kondisi yang terbaik, bahkan dipesankan kamar yang mewah dan megah sebab seluruh peralatannya terbuat dari emas.



Lalu datang lah Gus Dur beserta ajudannya yang setia. Pertanyaan yang sama ditujukan Malaikat untuknya, “Apa kerjamu selama di dunia?”


Gus Dur menjawab, “Saya mantan Presiden RI dan juga juru dakwah dari salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia, Pak.”


Lalu Malaikat mempersilahkan Gus Dur untuk memasuki surga dengan kondisi biasa, tanpa peralatan-peralatan mewah apalagi berlapis emas.


Gus Dur protes, “Pak, kenapa saya yang mantan presiden dan juru dakwah dikasih surga yang lebih jelek?”


Malaikat menjawab dengan tenangnya, “Lho, Bapak kerjaannya di dunia kan cuma pidato dan ceramah, dengan kata lain Bapak bikin semua mengantuk dan tertidur, sehingga lupa sama Tuhan. Sedangkan Pak Supir Metromini ini hobinya ngebut di jalan, hasilnya para penumpang malah berdoa terus ingat Tuhan!”



Bukan cerita itu saja yang diwariskan Gus Dur. Cerita lain tersiar pada jaman Reformasi 1998. Keberanian Gus Dur dalam menantang Soeharto dan para jendral militer yang ada di belakangnya tentu sudah terjamin. Taruhannya tak main-main. Banyak aktivis yang dibui, diculik, atau malah dihilangkan nyawanya.



Namun lagi-lagi bukan Gus Dur namanya jika tidak santai saja menghadapi itu semua. Malah dengan cerdik dan jenaka ia bisa menampilkan wajah seram Orba dalam lelucon khasnya.



Bagi Gus Dur, para jenderal Orba terbagi dalam dua kelompok. Terlihat dalam tiap pertemuan. Yang berada di sebelah kiri ruangan adalah para jendral yang tidak takut istri. Sedangkan yang sebelah kanan adalah mereka yang takut istri.


Suatu hari dalam sebuah pertemuan ada seorang jenderal yang takut istri tiba-tiba menggabungkan diri ke barisan para jenderal yang tidak takut istri.



Saat jenderal lain riuh rendah memuji tindakannya, ia bingung. Setelah ditanya alasan penggabungan diri itu oleh salah satu jenderal, ia menjawab dengan lantang, “Wah nggak tahu deh. Saya disuruh istri saya duduk di barisan ini. Yaudah saya ngikut aja!”