Abdurrahman Wahid

Presiden Republik Indonesia (1999 - 2001)
LahirJombang, Jawa Timur, Indonesia, 7 September 1940
ProfesiPresiden Republik Indonesia (1999 - 2001)
Karier
  • Presiden Republik Indonesia (1999-2001)
Pendidikan
  • Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000-2000)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002-2002)
  • Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003-2003)
  • Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003-2003)
  • Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003-2003)
  • Universitas Baghdad (1966-1970)

Abdurrahman Wahid lahir pada 7 September 1940 di Denannyar, Jombang ,Jawa Timur pada saat masa penjajahan Belanda. Ia adalah putra dari Wahid Hasyim dan Solichah. Pada mulanya Abdurrahman Wahid lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama RI tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Saudaranya adalah Salahuddin Wahid dan Lily Wahid. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alisa,Yenny, Anita, dan Inayah.

Ada banyak kisah tentang presiden ketiga republik Indonesia ini. Sebagian dari kisah itu adalah kisah jenaka yang memang menjadi kebiasaan Gus Dur, begitu ia biasa di sapa. Gus Dur memang selalu punya lelucon untuk setiap hal. Bahkan ketika ia dijatuhkan, Gus Dur dengan tenang membuat cerita bahwa ia menjadi presiden dengan modal dengkul. Itu pun dengkul Amien Rais, orang yang menjatuhkannya melalui parlemen. Lalu bagaimana kisah lainnya? Pada 7 Oktober 1999, Amien Rais melalui poros tengahnya berhasil mendudukkan Gus Dur sebagai Presiden Indonesia. Tapi tugas berat menanti Gus Dur. Indonesia sedang dalam masa krisis multidemensi: krisis ekonomi, krisis politik, krisis keamanan dan seabreg masalah lain.

Maka, sebagai negara yang sedang krisis-krisisnya, Indonesia di tahun-tahun awal pasca Reformasi mencoba untuk bangkit. Presiden berinisiatif mengirim delegasi para ekonom nomor wahid tanah air ke negeri Paman Sam. Adalah sang Presiden sendiri, (Alm) Abdurahman Wahid alias Gus Dur yang memberikan pertintah langsung perihal itu. Gus Dur memang fenomenal. Ia adalah Kyiai yang berani menentang kesewenang-wenangan rezim Orba bersama Amien Rais, Megawati Soekarno Putri, dan tokoh-tokoh politik lainnya. Ia pun disegani oleh tokoh-tokoh dunia lain. Namun di balik sikapnya yang kritis sekaligus berani, yang tidak bisa dilupakan orang adalah sosoknya yang humoris.

Gus Dur sendiri selama hidupnya dulu baik sebagai pengurus Nahdatul Ulama (NU) maupun ketika sudah menjadi Presiden RI hobi melempar lelucon-lelucon yang bikin orang terpingkal-pingkal. Sampai-sampai ia sendiri dulu pernah berujar. “Indonesia itu tak butuh pelawak. Wong presidennya saja lucu!”

Rekam jejak Gus Dur selalu diasosiasikan orang sebagai seorang muslim yang berpandangan liberal. Dari banyak karyanya yang berbentuk tulisan bisa terlihat kecenderungan tersebut. Maka, sebagaimana tokoh Islam lain yang mendaku diri maupun tidak sebagai seorang yang beraliran liberal, ia juga sering menimbulkan kontroversi. Salah satu contohnya adalah pendapatnya yang ingin mengganti salam “Assalamualaikum” dengan “selamat pagi”.

Terlepas dari label yang dilekatkan padanya, pembelaannya terhadap orang tertindas tak perlu diragukan lagi. Ia adalah presiden yang tak hanya berwawasan tinggi tentang pluralisme, namun juga berusaha untuk mewujudkannya saat menjabat sebagai Presiden. Ia kemudian dikenal sebagai pembela kaum minoritas yang tangguh. Saking konsistennya pembelaan tersebut, barangkali tak ada orang Tionghoa atau elemen minoritas lain di Indonesia yang tak bersedih saat mendengar berita kematiannya akhir 2009. Pada 14 November 2018, buku “Gus Dur on Religion, Democracy and Peace” diluncurkan bertepatan acara Festival HAM Indonesia 2018 di Wonosobo, Jawa Tengah.