Abdurrahman Mohammad Fachir

LahirBanjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia, NaN undefined NaN
Profesi
Karier
  • Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Kementerian Luar Negeri (2011-2014)
  • Duta Besar RI untuk Mesir (2007-2011)
  • Duta Besar RI untuk Arab Saudi (2014-2014)
  • Wakil Menteri Luar Negeri Kementerian Luar Negeri (2014-2019)
Pendidikan
  • Fakultas Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah

Abdurrahman Mohammad Fachir adalah seorang diplomat yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia dalam Kabinet Kerja. Dilantik pada 27 Oktober 2014, Fachir menjadi satu-satunya yang menduduki posisi wakil menteri dari total 34 kementerian di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pria kelahiran Banjarmasin, 26 November 1957 ini sebelumnya pernah bertugas sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Arab Saudi periode Maret – Oktober 2014.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Banjarmasin, Fachir memutuskan hijrah ke Pulau Jawa pada tahun 1972. Ia lantas melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar dan Pondok Modern Darussalam Gontor. Setelah lulus, pada 1978 ia meneruskan studi di Fakultas Sastra dan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Pada bulan Agustus 1983, Fachir resmi diwisuda sebagai sarjana bergelar doctorandus.

Pada awal Mei 2010, Fachir mendaftar kuliah S3 Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Minat Kajian Timur Tengah di Sekolah Pascasarjana UGM. Ia berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Ketimpangan Hubungan Indonesia-Mesir 1950 – 2010: Kajian Resiprositas” pada 5 Mei 2015. Fachir dinyatakan lulus dengan predikat "sangat memuaskan" dan berhak menyandang gelar doktor.

Fachir mengawali karier diplomatnya di Kementerian Luar Negeri pada 1985 ketika menjabat Pjs. Kepala Seksi Dewan Keamanan PBB Direktorat Organisasi. Sejak 1988 hingga 1992, ia kemudian ditugaskan di KBRI Baghdad. Sepulang dari sana, Fachir dipercaya menjabat sebagai Ketua Badan Pelaksana Gerakan Non Blok (GNB) saat Indonesia memimpin GNB pada 1992 hingga 1995.

Setelah itu, pria 56 tahun ini juga pernah menjadi perutusan tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York sebagai penanggung jawab satuan tugas GNB di tahun 1995 hingga 1999. Kemudian, di tahun 1999 ia menjabat sebagai Kepala Subdit Politik dan Keamanan di Direktorat Organisasi Internasional Kementerian Luar Negeri. Fachir sekaligus menjabat sebagai Sekertaris Panitia Kerja Tetap Antar Departemen hingga tahun 2002.

Pada periode 2002 hingga 2004, Fachir pernah didaulat sebagai kepala biro naskah dan penerjemahan sekertaris negara sekaligus penerjemah resmi Presiden Megawati Soekarnoputri. Selanjutnya, di tahun 2004 ia diamanatkan sebagai Wakil Kepala Perwakilan di Malaysia. Kemudian pada Februari 2007 Fachir menjadi kuasa usaha AD interim. Di tahun yang sama, ia juga dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjalani tugas pertama sebagai Duta Besar RI di Mesir.

Selama bertugas di sana, dia menyelenggarakan lokakarya untuk mendukung prestasi Mahasiwa Indonesia di Mesir pada 12-13 April 2008 lalu di Azhar Confence Center (ACC). Berkat lokakarya tersebut, sebanyak 67 persen mahasiswa Indonesia berhasil dalam studinya. Jelang masa tugasnya berakhir, Fachir juga memimpin tim untuk menyelamatkan para pelajar Indonesia dan keluarga terkait peristiwa revolusi rakyat yang menumbangkan rezim Husni Mubarak.

Setelah menunaikan tugas di Mesir, pada tahun 2011 ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi. Fachir bertugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang informasi dan diplomasi publik. Semasa bertugas, Fachir telah berhasil mengkonsolidasikan program kerja sama teknis Indonesia.

Terakhir, ia menjabat sebagai duta besar Arab Saudi di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2014. Menurut jadwal, pada 26 Oktober 2014 Fachir seharusnya berangkat ke Mekah untuk melepas jamaah haji Indonesia. Namun, secara mendadak ia membatalkan penerbangan karena mendapat telepon dari protokol Istana yang memberitahukan bahwa ia akan dilantik sebagai Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia.