Menuju konten utama

Kronologi Atap Jebol Akibat Dry Ice di Palembang & Ulasan BMKG

Warga di Palembang mengeluhkan atap dan plafon rumahnya jebol. Ia menduga karena kejatuhan dry ice. BMKG membantah bahwa dry ice penyebabnya.

Kronologi Atap Jebol Akibat Dry Ice di Palembang & Ulasan BMKG
Penampakan benda diduga bahan dry ice menimpa rumah warga Palembang hingga atap dan plafon jebol. FOTO/Facebook Mak Cilla
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai video viral di media sosial terkait dugaan atap dan plafon rumah di Palembang yang jebol karena terjangan dry ice. BMKG memastikan, penyebab hal tersebut bukanlah dry ice yang menjadi bahan semai untuk mengurai kepekatan asap.

Diketahui, pemerintah menggelar uji coba operasi modifikasi cuaca (OMC) di Palembang pada 15 Oktober 2026 dengan melakukan penyemaian 800 kilogram dry ice. Setelah diklaim berhasil mengurai asap karhutla, Kementerian Kehutanan bersama BMKG dan BNPB kembali melanjutkan teknologi ini hingga 25 Oktober 2026.

Operasi dry ice di Palembang untuk mengurai asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di sisi lain, muncul laporan dari seorang warga Palembang menceritakan ada benda jatuh dari langit dan menimpa rumahnya pada Jumat (16/10/2026) sore. Atap dan plafon rumahnya sampai jebol.

Kronologi Atap dan Plafon Rumah Jebol di Palembang Diduga Karena Dry Ice

Pengalaman atap dan plafon rumah jebol di Palembang yang diduga karena terjangan dry ice tersebut diposting melalui akun Facebook pribadinya @Mak Cilla hingga viral di media sosial. Mak Cilla bercerita, kejadian tersebut terjadi saat dirinya sedang tiduran di rumahnya. Tiba-tiba, dia dikagetkan mendengar suara kencang seperti bom.

Awalnya Mak Cilla mengira sumber suara berasal dari kipas anginnya. Tak lama usai suara itu terdengar, sebuah benda berukuran cukup besar jatuh ke dalam rumahnya yang membuat atap dan plafon jebol.

"Tiba-tiba terdengar suara kencang seperti bom meledak, ada yang jatuh. Saya kira kipas angin di dinding meledak, ternyata benda satu ini, mirip es batu, berasap, jatuh dari atas sampai plafon rumahku jebol," tulis Mak Cilla yang menyampaikannya dalam bahasa daerah setempat di akun Facebooknya.

Penasaran, Mak Cilla lantas memasukkan benda tersebut ke ember berisi air. Dia kaget benda warna putih itu mengeluarkan gelembung menyerupai uap.

Mak Cilla khawatir kejadian serupa kembali terulang. Dia juga menyinggung operasi dry ice yang tengah dilakukan pemerintah dalam mengatasi asap karhutla di kota itu.

"Apa tidak ada cara lain untuk menghilangkan asap ini, jangan pakai kayak es batu ini. Joka menimpa kepalaku, aku pasti mati atau masuk rumah sakit. Berantakan di rumah ini sampai keluar. Soal seng rumah sama plafon yang jebol tidak apa-apa, tapi jika menimpaku pasti beda ceritanya," keluh Mak Cilla.

Penjelasan BMKG soal Video Atap dan Plafon Rumah Jebol Karena Dry Ice

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis memastikan benda yang menerjang atap dan plafon rumah di Palembang dalam video viral bukan berasal dari dry es. Namun, dia tidak bisa menjelaskan benda apa yang jatuh menimpa warga rumah tersebut.

"Bukan [bahan dry ice] pak. Dry ice ukurannya kecil, sudah menguap di atas," kata Wandayantolis.

Sementara itu, tim teknis OMC dry ice, Adi Bayu Rusandi menjelaskan, dry ice umumnya tersedia dalam bentuk balok atau butiran kecil berukuran 3-6 mm. Meskipun berbeda bentuk, keduanya memiliki tingkat kemurnian lebih dari 99,5 persen serta kemampuan menyerap panas yang sama.

Namun, dalam aplikasinya sebagai bahan semai, ukuran partikel sangat menentukan strategi operasional. Oleh karena itu, penggunaan bahan semai berukuran besar mengharuskan penaburan dilakukan pada titik yang lebih tinggi di atas lapisan inversi target dibandingkan jika menggunakan partikel berukuran kecil.

"Dry ice berukuran kecil akan lebih cepat menyublim dan menyerap panas, sedangkan ukuran yang lebih besar akan menyerap panas lebih lambat," kata Adi.

Sesuai tujuannya, dry ice berguna untuk membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer yang membuat asap tertahan dan menumpuk di dekat permukaan. Lapisan inversi terjadi ketika udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan sehingga menghambat pergerakan udara ke atas dan menyebabkan asap serta polutan terperangkap di lapisan bawah atmosfer.

Baca juga artikel terkait MODIFIKASI CUACA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Ilham Choirul Anwar