Menuju konten utama

BMKG Jelaskan PM2.5 di Palembang Turun Usai Uji Coba Dry Ice

Meski kualitas udara meningkat, namun masih masuk dalam level sangat tidak sehat hingga berbabahaya.

BMKG Jelaskan PM2.5 di Palembang Turun Usai Uji Coba Dry Ice
Foto udara sejumlah pengendara melintas di atas jembatan Musi IV Palembang yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (4/10/2026). Berdasarkan pantauan aplikasi ISPUnet milik Kementerian Lingkungan Hidup, kualitas udara di Kota Palembng pada Minggu (4/10) masuk dalam kategori berbahaya akibat dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan nilai indeks standar pencemaran udara mencapai angka 780. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut turunnya konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Palembang bukan semata-mata karena uji coba dry ice. Meski kualitas udara meningkat, namun masih masuk dalam level sangat tidak sehat hingga berbabahaya.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengungkapkan, terjadi penurunan PM2.5 di Palembang dalam satu jam usai digelar uji coba dry ice, Kamis (15/10/2026) siang. Pukul 14.00-18.00 WIB, PM2.5 berada di kisaran angka 200 mikrogram meter per kubik atau turun dibanding pukul 06.00-12.00 WIB yang berada di angka 500 mikrogram meter per kubik.

"Kemarin, satu jam setelah operasi dry ice terjadi penurunan tingkat PM2.5 yang terukur di Staklim Musi II mulai pukul 14.00 WIB," ungkap Wandayantolis, Jumat (16/10/2026).

Namun, Wandayantolis menilai penurunan PM2.5 tersebut tidak bisa langsung disimpulkan disebabkan penggunaan teknologi dry ice yang diujicobakan di langit Palembang. Pengamatan lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah penurunan konsentrasi partikel halus setelah operasi berkaitan dengan penggunaan teknologi tersebut atau dipengaruhi faktor lain, seperti kecepatan angin.

"Saat ini, penerapan masih taraf uji coba, masih banyak faktor yang perlu diobservasi," kata dia.

Wandayantolis mengakui teknologi dry ice bertujuan untuk mengurangi PM2.5 menjadi normal saat terjadi kebakaran hutan dan lahan dengan mengurai kabut asap. Jika teknologi itu efektif, pengoperasiannya bisa dilanjutkan, termasuk ke wilayah Kalimantan.

"Ini metode baru. Jadi, masih butuh kajian lebih lanjut untuk dampak yang lebih luas," kata dia.

Sementara itu, kualitas udara di Palembang hari ini terpantau sedikit berkurang dibanding hari sebelumnya. Berdasarkan pengamatan Stasiun Talang Betutu, Jumat (16/10/2026), PM2.5 pada pukul 00.00-08.00 WIB, tercatat berada di 265,7-668,9 mikrogram meter per kubik.

Wandayantolis menyebut salah satu faktor meningkatnya PM2.5 hari ini akibat angin. Sebab, kecepatan angin bisa mempengaruhi sebaran asap di suatu wilayah.

"Faktor paling menonjol kecepatan angin. Hari ini angin lebih kencang dari pada kemarin pagi," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait MODIFIKASI CUACA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi