Menuju konten utama

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Melalui EEC, pelaku industri, pemerintah, dan sektor swasta didorong untuk melihat kontribusi ekonomi sebuah event secara lebih menyeluruh.

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event
Ribuan penonton saksikan konser Coldplay di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Rabu (15/11/2023). ANTARA/Pamela Sakina/aa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Experience/Event Economic Calculator (EEC) menjadi salah satu perspektif penting dalam mendorong industri event Indonesia mengukur kontribusi ekonomi secara lebih terstruktur. Melalui pendekatan ini, nilai sebuah acara tidak hanya dilihat dari keberhasilan penyelenggaraan, tetapi juga dari peluang usaha, perputaran aktivitas ekonomi, kolaborasi bisnis, hingga dampak yang dirasakan masyarakat dan wilayah di sekitarnya.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari agenda Indonesia Event Management Summit (IVES) 2026 yang akan berlangsung pada 17–19 November 2026 di J-Club dan Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Melalui EEC, pelaku industri, pemerintah, dan sektor swasta didorong untuk melihat kontribusi ekonomi sebuah event secara lebih menyeluruh sekaligus membuka ruang diskusi mengenai cara mengoptimalkan manfaatnya.

Pengukuran dampak ekonomi menjadi relevan seiring berkembangnya industri event yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari hiburan, akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga jasa produksi dan penyelenggaraan acara. Pendekatan yang lebih terstruktur diharapkan membantu pemangku kepentingan memahami nilai yang dihasilkan sebuah event, tidak hanya berdasarkan jumlah pengunjung atau pendapatan tiket.

“Melalui EEC, kami ingin membantu pelaku industri mengukur dampak ekonomi sekaligus nilai pengalaman yang dihasilkan sebuah event. Pengukuran ini menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan menunjukkan kontribusi nyata industri,” kata CEO Konect, Aryo Febrian Moedanton, di Hotel Grand Sahid Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Mengusung tema “From Invisible to Indispensable” dan tagline “Make It Count”, IVES 2026 mengajak pelaku industri untuk melihat lebih jauh dari sekadar acara yang sukses terselenggara. Nilai sebuah event juga tercermin dari aktivitas ekonomi yang bergerak, peluang bisnis yang tercipta, serta dampak berkelanjutan yang dapat dihasilkan bagi masyarakat.

Selain pengukuran dampak ekonomi, pengembangan industri event juga membutuhkan strategi untuk menjaga relevansi dan nilai dalam jangka panjang. Head of Marketing & Promotion Musica, Chandra Samhari, menilai bahwa industri musik tidak cukup hanya mengandalkan popularitas sesaat dalam mengembangkan sebuah karya atau kekayaan intelektual (intellectual property/IP).

“Dalam industri musik, sebuah karya atau IP tidak cukup hanya populer sesaat. Dibutuhkan identitas yang kuat, strategi pengembangan yang konsisten, dan kemampuan membangun hubungan dengan audiens agar relevansinya terus terjaga. Tantangannya bukan hanya menciptakan momentum, tetapi mengubah momentum tersebut menjadi nilai yang bertahan dalam jangka panjang,” kata Chandra.

Di sisi lain, nilai sebuah event juga ditentukan oleh kualitas pelaksanaan dan kesiapan operasional. Ketua Presidium API, Reza Pamungkas menegaskan, tingginya minat penonton yang tercermin dari tiket terjual habis tidak otomatis menjamin keberhasilan sebuah pertunjukan.

“Tiket sold out bukan jaminan pertunjukan siap berjalan. Kesiapan teknis, produksi, dan koordinasi tim menjadi kunci untuk memastikan pengalaman yang dijanjikan kepada audiens benar-benar terwujud,” ujarnya.

Tantangan serupa dalam menjaga nilai penyelenggaraan juga dihadapi industri MICE (meetings, incentives, conventions, and exhibitions). Di tengah tekanan anggaran, pelaku industri dituntut menjaga kualitas sekaligus memastikan sumber daya digunakan secara efektif dan efisien.

“Tantangan industri MICE bukan hanya tumbuh di tengah tekanan anggaran, tetapi bagaimana menjaga kualitas dan tetap memberikan nilai melalui strategi yang efektif dan efisien,” jelas General Manager Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta, Herman Courbois.

IVES 2026 akan menghadirkan lebih dari 40 sesi dengan melibatkan lebih dari 70 pembicara dan moderator. Acara ini juga menargetkan lebih dari 240 pertemuan melalui program speed networking untuk memperluas jejaring dan membuka peluang kolaborasi antar-pelaku industri.

Rangkaian kegiatan akan berlangsung melalui tiga panggung utama, yaitu The Industry, The Business, dan The Engine Room. Ketiganya menghadirkan perspektif berbeda mengenai perkembangan industri, strategi bisnis, serta aspek teknis penyelenggaraan event.

Penyelenggaraan IVES 2026 turut didukung enam asosiasi industri event, yakni APMI, Backstagers, Event Owner, IMARINDO, IVENDO, dan Rental Indonesia. Keterlibatan berbagai asosiasi ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengalaman dan sudut pandang pelaku industri untuk memperkuat ekosistem event nasional.

Baca juga artikel terkait EVENT atau tulisan lainnya dari Antara

tirto.id - Sosial Budaya
Penulis: Antara
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama