tirto.id - Indonesia Contemporary Art & Design (ICAD) 16 kembali digelar di GrandKemang, Jakarta Selatan, hingga 8 November 2026. Mengusung tema "Being: Becoming", festival ini menghadirkan lebih dari 40 seniman, desainer, dan praktisi kreatif dari 12 negara.
Karya-karya yang ditampilkan mengeksplorasi isu kekuasaan, memori budaya, perkembangan teknologi, hingga perjalanan personal. Tema tersebut mengajak publik menengok kondisi saat ini sekaligus membayangkan kemungkinan di masa depan.
Kurator ICAD 16, Putra Hidayatullah, menjelaskan bahwa being merupakan kondisi yang sedang dijalani, sedangkan becoming menggambarkan kemungkinan untuk berkembang melampaui kondisi tersebut. Menurutnya, proses menjadi adalah upaya bernegosiasi dengan berbagai kekuatan yang membentuk seseorang sekaligus membayangkan kemungkinan lain di luar kondisi yang ada.
“Proses menjadi, dengan demikian, adalah tentang bernegosiasi dengan kekuatan yang membentuk kita, membayangkan kemungkinan lain, serta mengambil atau mengambil kembali, meski hanya sekejap kebebasan yang dibutuhkan untuk sekadar ‘ada’, sambil membawa fragmen yang kita tolak untuk hilang,” ujar Putra di Jakarta, Rabu (07/10/2026).
Karya yang dipamerkan datang dari Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Jepang, Korea Selatan, Palestina, Turki, Prancis, Belanda, Uganda, dan Amerika Serikat. Kehadiran seniman lintas negara itu menjadi bagian dari upaya ICAD mempertemukan beragam perspektif melalui seni dan desain.
Sejumlah nama turut hadir lewat program kuratorial ICAD 16. Made Wianta tampil sebagai Special Appearance, Putu Sutawijaya dan Ahmet Öğüt masuk kategori In Focus, sedangkan Jamaluddin Phonna dan Larissa Sansour hadir sebagai seniman Featured.
ICAD 16 juga membuka ruang bagi seniman lewat program Open Call. Karya-karya di program ini mengangkat beragam isu dan pengalaman, antara lain memori sejarah, identitas budaya, pengalaman perempuan, dan persoalan sosial di masyarakat.
Festival Director ICAD 16, Edwin Nazir, mengatakan ICAD sejak awal menjadi ruang yang mempertemukan seni, desain, dan berbagai disiplin secara inklusif.
“Di ICAD 16, kami kembali membuka ruang bagi seniman dan praktisi kreatif dari Indonesia maupun berbagai negara untuk menghadirkan karya dan perspektif mereka,” kata Edwin.
Selain pameran, ICAD 16 menggelar program publik berupa talks dan workshop selama periode pameran. Program ini menjadi ruang diskusi bagi pengunjung untuk bertemu langsung dengan para seniman dan praktisi yang terlibat.
ICAD 16 juga menyelenggarakan Student Tour yang diikuti 24 sekolah, dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Melalui program ini, peserta dapat bertemu kurator dan seniman serta merasakan langsung karya yang ditampilkan.
Masuk tirto.id


































