Menuju konten utama

Hari Pahlawan, Mensos Ingatkan Pentingnya Jaga Amanat Konstitusi

Dalam peringatan Hari Pahlawan, Gus Ipul menyoroti tiga pasal UUD 1945 dan pentingnya meneruskan perjuangan melalui pendidikan dan perlindungan sosial.

Hari Pahlawan, Mensos Ingatkan Pentingnya Jaga Amanat Konstitusi
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dalam acara Malam Peringatan Hari Pahlawan yang digelar di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (2/11/2026). foto/Dok. Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengajak masyarakat meneruskan perjuangan para pahlawan dengan menjaga nilai-nilai yang diwariskan, termasuk amanat konstitusi dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Hal tersebut disampaikan Gus Ipul dalam Malam Peringatan Hari Pahlawan di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (2/11/2026)

Menurut Gus Ipul, terdapat tiga pasal dalam UUD 1945 yang menjadi bagian penting dari warisan perjuangan para pendiri bangsa, yakni Pasal 31 tentang hak pendidikan, Pasal 33 tentang pengelolaan kekayaan negara untuk kemakmuran rakyat, serta Pasal 34 tentang perlindungan fakir miskin dan anak-anak terlantar.

“Dari Undang-Undang Dasar itu kita melihat dengan nyata bahwa para pahlawan tidak berpikir untuk dirinya sendiri. Mereka berpikir untuk bangsa Indonesia, khususnya generasi yang akan datang,” jelasnya dalam keterangan resmi.

Gus Ipul mengatakan, amanat konstitusi tersebut perlu diwujudkan melalui kebijakan dan program pemerintah. Salah satunya dengan menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat pelaksanaan Pasal 34, dimulai dari pembenahan data penerima bantuan sosial.

Akurasi data dinilai penting agar bantuan pemerintah dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Kita ingin datanya akurat, sasarannya tepat, sehingga bantuan pemerintah diterima oleh mereka yang paling membutuhkan,” tegasnya.

Selain memperkuat ketepatan sasaran bantuan sosial, Gus Ipul menyebut Program Sekolah Rakyat sebagai salah satu upaya konkret untuk menjalankan amanat konstitusi, terutama Pasal 31 dan Pasal 34.

Program yang merupakan gagasan langsung Presiden Prabowo Subianto tersebut menyasar anak-anak dari keluarga paling tidak mampu, terutama mereka yang putus sekolah atau berisiko tidak dapat melanjutkan pendidikan akibat keterbatasan ekonomi.

“Hadirnya Sekolah Rakyat ini untuk menjangkau mereka yang tertera dalam Pasal 34, yaitu fakir miskin dan anak-anak terlantar. Mereka berasal dari keluarga-keluarga paling tidak mampu yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan secara layak,” ujarnya.

Empat Nilai Kepahlawanan

Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul juga mengingatkan empat nilai utama yang dapat diteladani dari para pahlawan, yaitu keberanian, ketulusan, rela berkorban, dan kedisiplinan.

Ia menjelaskan, keberanian para pahlawan bukan semata-mata ditunjukkan melalui perlawanan terhadap penjajah, melainkan juga melalui tekad memperjuangkan kemerdekaan dan kepentingan bangsa.

“Para pahlawan memiliki keberanian luar biasa, tetapi keberanian itu bukan tanpa tujuan. Mereka berani untuk memerdekakan bangsa ini,” pungkasnya.

Menurutnya, keberanian tersebut perlu diteruskan oleh generasi sekarang dengan memperjuangkan kebaikan dan kepentingan bangsa, bukan untuk memusuhi sesama anak bangsa.

Nilai berikutnya adalah ketulusan. Gus Ipul menilai para pahlawan telah menunjukkan pengabdian tanpa mengutamakan kepentingan pribadi maupun keluarga. Sikap tersebut juga tercermin dari keluarga dan keturunan para pahlawan yang tetap berkontribusi secara sukarela dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan sosial tanpa meminta keistimewaan.

"Maka itu, kita doakan mudah-mudahan seluruh keluarga pahlawan diberi kekuatan untuk meneruskan perjuangan para leluhurnya. Inilah ketulusan yang harus kita tiru. Ketulusan yang harus kita catat karena sesungguhnya pahlawan memang memperjuangkan untuk kepentingan Indonesia, tidak untuk kepentingan dirinya sendiri maupun keluarganya," tegasnya.

Nilai ketiga adalah rela berkorban. Gus Ipul mencontohkan, setelah Indonesia merdeka, banyak pahlawan tidak mengejar kekayaan maupun jabatan. Sebagian di antaranya bahkan kembali menjalani profesi semula sebagai petani, nelayan, maupun pelayan masyarakat di daerah masing-masing.

Adapun kedisiplinan, menurut Gus Ipul, tidak hanya berkaitan dengan ketepatan waktu atau kepatuhan terhadap aturan. Sikap tersebut juga tercermin dari kemampuan menjaga amanah serta membedakan kepentingan negara dan kepentingan pribadi.

“Para pahlawan juga disiplin dalam menjaga harta mereka. Mereka memisahkan mana harta negara dan mana harta pribadi. Itulah luar biasanya para pahlawan kita,” ungkapnya.

IKPNI Ajak Generasi Muda Kenali Warisan Perjuangan

Ajakan untuk meneruskan nilai-nilai kepahlawanan juga disampaikan Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Prof. Meutia Farida Hatta Swasono. Ia berharap generasi muda tidak sekadar mengenal para pahlawan nasional melalui catatan sejarah, tetapi juga memahami dan meneruskan nilai-nilai perjuangan mereka.

Meutia menjelaskan, setiap pahlawan nasional memiliki peran dan perjuangan masing-masing dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, pertahanan, sosial budaya, kemasyarakatan, hukum, hingga pendidikan. Meski memiliki latar belakang perjuangan berbeda, mereka dipersatukan oleh semangat pengabdian serta kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.

“Kami sebagai keluarga mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh orang tua dan leluhur kami. Kecintaan mereka kepada rakyat dan tanah air Indonesia menjadi nilai-nilai yang kami catat, kami tulis dalam memorabilia, dan kami simpan agar cita-cita, semangat, serta perasaan cinta tanah air dan bangsa tetap terjaga,” ujar Meutia.

Putri proklamator Indonesia Mohammad Hatta tersebut mengatakan, salah satu upaya IKPNI memperkenalkan warisan perjuangan para pahlawan dilakukan melalui pameran buku dan memorabilia peninggalan pahlawan nasional.

Pameran tersebut menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan siswa Sekolah Rakyat, untuk mengenal lebih dekat sejarah serta nilai-nilai perjuangan para pahlawan.

Meutia menegaskan, kepahlawanan tidak hanya berkaitan dengan sosok yang tercatat dalam buku sejarah. Hal yang lebih penting adalah memahami semangat, pengorbanan, keberanian, dan kecintaan mereka terhadap Indonesia agar dapat menjadi pedoman dalam kehidupan saat ini.

“Pahlawan itu tidak hanya ada di dalam sejarah, tetapi yang lebih penting adalah nilai-nilai dan semangat yang ada pada diri mereka masing-masing. Itu bisa dibaca melalui buku, tetapi juga akan terus kami sosialisasikan,” tuturnya.

Malam Peringatan Hari Pahlawan tersebut juga dimeriahkan sejumlah penampilan seni. Di antaranya pertunjukan grup angklung IKPNI dan drama musikal siswa-siswi Sekolah Rakyat yang berkolaborasi dengan aktor Aryo Wahab serta IKPNI.

Gus Ipul dan para tamu undangan tampak mengapresiasi penampilan drama musikal tersebut. Gus Ipul bahkan memberikan acungan jempol kepada para siswa sebagai bentuk pujian.

Anggota Komisi VIII DPR RI Sigit Purnomo atau Pasha juga turut menghibur tamu undangan dengan bernyanyi bersama istrinya, Adelia Wilhelmina. Ia membawakan tiga lagu sekaligus menyapa para siswa Sekolah Rakyat yang hadir.

Sejumlah pejabat Kemensos turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Penasihat DWP Kemensos Fatma Saifullah Yusuf, Wakil Penasihat DWP Kemensos Intan Agus Jabo, Sekretaris Jenderal Kemensos M Hasan Chabibie, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Mira Riyati, dan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Supomo. Hadir pula keluarga para pahlawan yang tergabung dalam IKPNI.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis