Menuju konten utama

Diversifikasi Pangan Lokal: Ragam Sumber Karbohidrat dan Manfaat

Diversifikasi pangan lokal mendorong konsumsi sumber karbohidrat beragam seperti singkong, jagung, sagu, dan sorgum untuk memperkuat ketahanan pangan.

Diversifikasi Pangan Lokal: Ragam Sumber Karbohidrat dan Manfaat
Ragam karbohidrat. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Edukasi kepada masyarakat guna meningkatkan keragaman sumber pangan terus diperluas oleh pemerintah. Agar pilihan sumber nutrisi makin beragam, pemanfaatan berbagai sumber pangan lokal menjadi salah satu alternatif yang saat ini didorong penerapannya.

Untuk itu, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Perpres ini mengamanatkan percepatan upaya peningkatan keanekaragaman pangan yang berbasis pada sumber daya dan kearifan lokal.

Beleid yang sama mengatur detail strategi nasional beserta rencana aksi untuk mempercepat penganekaragaman atau diversifikasi pangan lokal. Strateginya mencakup penguatan kebijakan dan regulasi, mendorong produksi-konsumsi pangan lokal, mengoptimalkan pemanfaatan lahan, pengembangan industri pangan lokal berbasis UMKM, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman), dan lain sebagainya.

Kehadiran perpres 81/2024 menegaskan pandangan pemerintah bahwa diversifikasi pangan lokal diperlukan untuk meningkatkan keberagaman dan pasokan makanan bagi penduduk Indonesia.

Mengapa Diversifikasi Pangan Lokal Penting?

Diversifikasi pangan lokal adalah upaya memperbanyak jenis makanan pokok masyarakat dengan memanfaatkan berbagai jenis pangan asal nusantara. Melalui diversifikasi pangan lokal Indonesia, ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat diharapkan makin meningkat.

Adapun Perpres Nomor 81 tahun 2024, secara khusus merumuskan definisi penganekaragaman pangan atau diversifikasi pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

Mengutip penjelasan Peneliti Pusat Riset Agroindustri, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sri Widowati, diversifikasi pangan lokal dapat menjadi solusi agar warga Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu jenis makanan pokok, terutama beras. Dalam konteks ini, diversifikasi pangan lokal untuk ketahanan pangan nasional merupakan langkah strategis dalam menjaga pasokan makanan pokok.

Ketergantungan terhadap beras berisiko melahirkan kerentanan karena pasokan pangan pokok ini tidak bisa dijamin terus melimpah. Berbagai faktor seperti perubahan iklim hingga bencana dan gejolak ekonomi dapat mengganggu stabilitas produksi.

Risiko tersebut perlu diantisipasi dengan membiasakan masyarakat mengonsumsi aneka jenis makanan sumber karbohidrat yang berasal dari pangan lokal. Dengan beragamnya jenis pangan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat, stabilitas pasokan jangka panjang akan lebih terjaga.

Di sisi lain, peluang mengubah pola konsumsi masyarakat masih cukup terbuka mengingat banyak kearifan lokal yang menunjukkan diversifikasi pangan di Indonesia sejak lama menjadi tradisi di berbagai daerah. Sebagian tradisi itu pun masih hidup seperti kebiasaan mengonsumsi sagu di masyarakat Indonesia timur.

Sumber daya pangan lokal Indonesia juga melimpah. Namun, Sri Widowati menyayangkan masih rendahnya konsumsi pangan lokal di masyarakat.

Maka itu, dua pendekatan diversifikasi pangan perlu diterapkan. Diversifikasi pangan horizontal, sebagai pendekatan pertama, berfungsi mengalihkan kebiasaan konsumsi sumber karbohidrat dari hanya beras ke pangan lain seperti umbi-umbian, sagu, sorgum, talas, atau jagung.

Adapun pendekatan kedua, yakni diversifikasi vertikal berupa pengembangan produk olahan dari pangan lokal. Misalnya ubi kayu (singkong) dapat diolah menjadi tepung kasava untuk bahan roti, pasta bebas gluten, dan mi. Pengolahan pangan lokal menjadi produk turunan semacam tepung kasava akan meningkatkan pendapatan petani dan UMKM sekaligus mengurangi ketergantungan pada tepung terigu yang bahannya gandum impor.

Contoh Pangan Lokal untuk Sumber Karbohidrat

Indonesia kaya akan sumber daya pangan lokal. Selain mengandung berbagai nutrisi yang bermanfaat untuk tubuh, cita rasa sejumlah pangan lokal pun sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Sebagian pangan lokal bahkan punya cita rasa khas karena dipengaruhi iklim, kondisi tanah, dan metode pertanian di masing-masing wilayah.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Profesor Wawan Sujarwo mengungkapkan, setidaknya ada 2.564 spesies tumbuhan di Indonesia yang bisa menjadi sumber pangan lokal. Ratusan jenis umbi-umbian, kacang-kacangan, buah, sayuran, hingga rempah-rempah selama ini juga lazim digunakan untuk makanan tradisional.

Dari ribuan spesies, Wawan mencatat terdapat 77 tanaman pangan lokal Indonesia yang bisa menjadi sumber karbohidrat. Berbagai tumbuhan itu telah berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan di sejumlah daerah selama ratusan dan bahkan ribuan tahun.

Karena itu, banyak contoh diversifikasi pangan lokal yang bisa diterapkan untuk memenuhi asupan karbohidrat bagi masyarakat Indonesia.

Mengutip kajian Dina Omayani Dewi dan Mewa Ariani dalam buku Diversifikasi Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan: Perspektif Ekonomi, Sosial, dan Budaya (2023), di antara pangan lokal sumber karbohidrat yang paling banyak dibudidayakan adalah jagung dan singkong. Selama ini jagung dan singkong juga diolah menjadi pakan ternak dan bahan baku industri, selain menjadi makanan pokok warga di beberapa daerah.

Di luar itu, ada ubi jalar, sagu, dan sorgum yang cukup banyak dibudidayakan di sejumlah daerah. Sagu bahkan masih menjadi makanan pokok sebagian warga di Indonesia timur. Ubi jalar pun masih sering mengisi meja makan rumah-rumah di perdesaan meski hanya menjadi makanan selingan. Adapun sorgum lebih banyak diolah menjadi produk pangan maupun non-pangan

Selain beberapa jenis tadi, banyak daerah memiliki tanaman lokal sumber karbohidrat yang agak kurang populer seperti talas, ganyong, gadung, gembili, garut, porang, hanjeli (jali), sukun, kimpul, dan hoton. Pangan-pangan lokal sumber karbohidrat ini kebanyakan tumbuh liar di kebun-kebun warga atau ditanam di pekarangan rumah. Sebagian pangan lokal itu mudah diolah untuk dikonsumsi, tapi ada juga yang memerlukan teknik pengolahan khusus seperti gadung dan porang.

Di antara beragam jenis pangan sumber karbohidrat itu, ada yang bisa dengan mudah ditanam di lahan kering dan kurang subur. Budidaya tanaman ini dapat dikembangkan di daerah-daerah yang rawan pangan karena faktor minimnya kesuburan lahan.

Salah satunya ialah hanjeli (jali), tanaman biji-bijian dari suku padi-padian yang banyak tersebar di Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Selain menjadi sumber karbohidrat, hanjeli masih sering digunakan untuk pengobatan tradisional.

Sorgum (cantel) juga termasuk tanaman yang cocok dibudidayakan di lahan kritis, kering, dan tidak subur. Tanaman pangan lokal dari jenis serealia ini bahkan mampu tumbuh di tanah kering bersuhu tinggi maupun lahan terdegradasi dan pinggiran pantai yang pekat garam. Sorgum kini banyak dibudidayakan oleh petani di Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Studi Dina Omayani dan Mewa Ariani menyimpulkan terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan beragam pangan lokal belum menjadi sumber karbohidrat utama bagi masyarakat Indonesia. Di antaranya belum kuatnya kebiasaan makan yang mengikuti prinsip B2SA, keterbatasan akses terhadap pangan lokal, cita rasa yang kurang akrab di lidah, hingga besarnya ketergantungan masyarakat Indonesia pada beras dan tepung terigu.

Selain meningkatkan sosialisasi dan edukasi, salah satu cara lain agar pangan lokal populer adalah mengolahnya menjadi tepung. Keduanya menilai diversifikasi pangan lokal berbasis tepung berpotensi lebih mudah diterima oleh masyarakat, terutama karena tahan lama dan mudah diolah menjadi beragam jenis makanan.

Dari singkong, misalnya, bisa dihasilkan tepung tapioka dan MOCAF (modified cassava flour). Porang pun bisa diolah menjadi tepung yang kaya zat glukomanan (serat pangan larut air). Demikian pula sagu, garut, jagung, sukun, dan sorgum yang bisa diolah menjadi tepung untuk alternatif selain terigu.

Manfaat Diversifikasi Pangan Lokal

Besarnya potensi pangan lokal di Indonesia hingga kini belum banyak dimanfaatkan. Padahal, menurut Profesor Wawan Sujarwo dari BRIN, diversifikasi pangan lokal tidak hanya menambah opsi makanan bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional terhadap dampak perubahan iklim maupun gejolak ekonomi.

"Pengembangan pangan lokal sesungguhnya merupakan strategi ekologis, ekonomis, sekaligus sosial," ujarnya seperti dikutip dari laman BRIN.

"Pangan lokal mampu memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan pengetahuan tradisional, mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan yang panjang, serta menjaga keberagaman genetik tanaman yang penting untuk adaptasi di masa depan," tambahnya.

Tak hanya menambah pasokan makanan, diversifikasi pangan lokal juga dapat mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Peneliti Pusat Riset Agroindustri dari BRIN, Sri Widowati, mengungkapkan sejumlah pangan lokal memiliki kualitas sebagai makanan fungsional yang berguna menunjang kesehatan. Banyak jenis umbi-umbian lokal Indonesia sudah terbukti bisa menjadi sumber karbohidrat yang indeks glikemiknya rendah sekaligus kaya dengan serat, pati resisten, dan antioksidan.

"Pangan fungsional ini tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan, tapi juga dapat membantu mencegah penyakit degeneratif, dan meningkatkan daya tahan tubuh," kata Widowati.

"[Diversifikasi pangan lokal] Juga bisa menjadi solusi masalah stunting, diabetes, dan hipertensi," tambahnya.

Publikasi dari Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia UGM menjelaskan diversifikasi pangan lokal bisa mencegah kekurangan mikronutrien yang memicu berbagai masalah kesehatan. Konsumsi beragam jenis pangan lokal pun berguna mengurangi risiko beragam penyakit.

Misalnya, pangan lokal seperti ubi jalar dan singkong memiliki kandungan karbohidrat kompleks beserta serat sehingga bisa menjadi sumber energi sekaligus menjaga kesehatan pencernaan.

Dari segi nutrisi, singkong mengandung pula vitamin C, tiamin (vitamin B1), folat, dan mangan. Adapun ubi jalar kaya akan kandungan beta-karoten dan antioksidan. Sementara itu, ubi jalar ungu mengandung antosianin yang bisa menangkal radikal bebas serta membantu mengontrol gula darah, tetapi konsumsinya tetap harus seimbang sesuai kebutuhan tubuh atau mengikuti anjuran petugas medis.

Pangan lokal lain, sorgum, memiliki kandungan serat tinggi dan rendah gula. Demikian pula sagu, mengandung pati resisten yang berperan dalam pengaturan gula darah, beserta serat, kalsium, fosfor, zat besi, hingga lemak dan protein.

Contoh lainnya, seperti dilansir laman BPPSDMP Kementan RI, umbi garut bisa diolah menjadi tepung bebas gluten. Tepung garut bisa digunakan untuk bahan pembuatan aneka jenis kue, roti, cookies, dan bubur.

Masih banyak ragam jenis pangan lokal di Indonesia lainnya yang bisa menjadi sumber karbohidrat sekaligus kaya kandungan bermanfaat bagi kesehatan. Pemanfaatan aneka jenis pangan lokal itu perlu terus disosialisasikan ke masyarakat.

Dengan meningkatkan diversifikasi pangan lokal, ketahanan pangan nasional akan lebih terjaga dan kualitas kesehatan masyarakat juga bisa makin membaik. Pemanfaatan beragam jenis pangan lokal secara luas juga akan mendukung kesejahteraan petani, pengembangan UMKM di lini usaha pengolahan makanan, hingga memperkuat perekonomian daerah.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis