Menuju konten utama

BPOM: Hampir 80 Persen Masyarakat Mengobati Penyakit Sendiri

Taruna mengakui, swamedikasi di Indonesia memang mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir dengan angka saat ini sekitar 78,9 persen.

BPOM: Hampir 80 Persen Masyarakat Mengobati Penyakit Sendiri
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, saat menghadiri APSMI Sumit 2026 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (31/10/2026). FOTO/Ayu Mumpuni
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Swamedikasi atau pengobatan diri sendiri masih menjadi pekerjaan rumah (PR) di Indonesia, apalagi tidak sedikit masyarakat mulai menggunakan Artificial Inteligent (AI) sebagai acuan dalam berobat.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, tak menampik bahwa sejumlah masyarakat bahkan menjadikan AI sebagai dokter pribadinya, bukan asisten. Padahal, jawaban yang diberikan merupakan akumulasi informasi dari berbagai sumber informasi di internet.

"Betul bahwa tidak seluruh informasi yang di AI itu benar, karena AI kan menggunakan algoritme berdasarkan berita-berita yang muncul secara online, terus dia cover, iya kan? Kecuali kalau bisa dikontrol oleh Meta misalnya, dengan aturan-aturan tersendiri," ujar Taruna usai menghadiri acara APSMI Sumit 2026 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (31/10/2026).

Dia menerangkan, aturan mengenai peredaran obat menjadi salah satu cara menanggulangi agar masyarakat tidak salah dalam mengonsumsi jika sumber informasinya bukan dari medis. Selain itu, batas waktu pembelian obat dari resep juga dibatasi.

Menurut Taruna, BPOM juga tengah menyosialisasikan mengenai barcode keterangan kandungan obat yang akan tertera pada kemasan. BPOM berharap keberadaan barcode membuat kembali masyarakat untuk memahami kandungannya untuk menentukan apakah tepat mengatasi keluhan yang dirasakan.

"Dan kita kerja sama dengan Kementerian Kesehatan juga mengatur yang disebut dengan sistem satu sehat. Bahkan kita sekarang sudah login kita sistemnya, kita satukan dengan khususnya di Satu Sehat itu bersama dengan Direktorat Jenderal Alat Kesehatan dan Farmasi," ucap Taruna.

Ditambahkan Taruna, edukasi masyarakat untuk swamedikasi memang masih sangat diperlukan. Kebanyakan masyarakat juga melakukan swamedikasi saat mengalami keluhan, namun semakin parah dan baru menuju ke dokter untuk pengobatan secara langsung.

"Sakit kepala, oh cari mungkin ini obat ini. Itu kenyataannya. Dia flu sedikit, dia ini. Nanti betul-betul sudah tidak bisa ditahan, baru 20%-nya ini ke dokter. Nah, apa dampaknya? Karena seperti itu, biasanya karena dia sudah tidak bisa tahan, biasanya yang 20% ini sudah agak-agak gawat," ungkap dia.

Taruna mengakui, swamedikasi di Indonesia memang mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Sekitar 78,9% masyarakat melakukan swamedikasi.

"Kita lihat skala daripada rakyat kita, hampir 80% mengobati dirinya sendiri," kata Taruna.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - Flash News
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Andrian Pratama Taher