tirto.id - Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengumpulkan kepala Sekolah Rakyat dari berbagai daerah di Indonesia dalam kegiatan Penguatan Kapasitas Manajerial Kepala Sekolah di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (27/10/2026).
Pertemuan tersebut digelar untuk memperkuat tata kelola, konsolidasi, serta evaluasi penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait keberagaman latar belakang siswa dan sistem pendidikan berasrama.
"Saya hari ini sekali lagi bertemu dengan seluruh kepala sekolah rakyat yang datang dari berbagai daerah untuk melakukan konsolidasi," ujar Gus merujuk keterangan resmi pada Rabu (28/10/2026).
Gus Ipul mengatakan dirinya bersama Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan Sekolah Rakyat. Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul harus ditangani melalui pendekatan yang tepat dan berkelanjutan.
"Karena kita tahu bahwa tantangan dan dinamika di sekolah rakyat memang perlu mendapatkan penanganan yang baik," katanya.
Ia menjelaskan, sebagian besar siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga rentan dengan kondisi sosial dan pengalaman hidup yang beragam. Sejumlah siswa menghadapi keterbatasan akses pendidikan, pola asuh yang berbeda, hingga pengalaman kekerasan dan persoalan kesehatan mental.
"Kadang juga ada pola asuh yang tidak sesuai, sehingga anak-anak ini memiliki kebiasaan yang berbeda-beda," jelasnya.
Menurut Gus Ipul, kondisi tersebut membutuhkan pendampingan yang tidak hanya berorientasi pada pembelajaran akademik, tetapi juga pemulihan dan pembentukan karakter siswa.
"Semuanya ini harus didampingi dengan penuh empati," tuturnya.
Untuk memastikan kesiapan siswa mengikuti pendidikan berasrama, Kementerian Sosial menerapkan pemeriksaan kesehatan pada tahap awal penerimaan. Siswa yang membutuhkan penanganan lanjutan dapat menjalani rehabilitasi di sentra-sentra Kemensos sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran.
Tantangan penyelenggaraan juga meningkat seiring bertambahnya jumlah siswa dan lokasi Sekolah Rakyat. Saat ini, program tersebut telah tersebar di 182 titik di Indonesia, mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA.
Setiap jenjang memiliki kebutuhan pendampingan berbeda, mulai dari pembentukan kemandirian pada siswa SD, perkembangan remaja pada siswa SMP, hingga persiapan menuju kedewasaan bagi siswa SMA.
"Jadi banyak masalah, banyak dinamika, yang ini terus berusaha kita dekati dengan cara yang baik, dengan cara yang sesuai prosedur, mengikuti norma, tetapi juga menghormati, menghargai siswa-siswa itu sebagai manusia," katanya.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, Gus Ipul menyatakan penyelenggaraan Sekolah Rakyat secara umum berjalan lancar. Pemerintah, kata dia, terus mengevaluasi kebutuhan tenaga pendidik, fasilitas, serta sistem pendampingan siswa.
"Kekurangan-kekurangan terus kita benahi, termasuk mencukupi kebutuhan guru, wali asrama, dan wali asuh," ucapnya.
Kemensos Siapkan Jalur Pendidikan dan Keterampilan Siswa
Selain memperkuat tata kelola, Gus Ipul meminta seluruh kepala Sekolah Rakyat mulai mempersiapkan masa depan siswa setelah lulus.Ia menekankan pentingnya pemanfaatan hasil tes Talent DNA sebagai salah satu acuan untuk mengidentifikasi potensi siswa. Hasil tersebut diharapkan dapat membantu sekolah mengarahkan peserta didik, baik untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja sesuai keterampilannya.
Agus menambahkan, penyamaan persepsi antara pihak sekolah, tenaga pendidik, dan orang tua diperlukan untuk mengurangi berbagai persoalan selama proses pendidikan berlangsung. Menurutnya, penyelenggaraan Sekolah Rakyat membutuhkan sistem yang kuat agar tujuan program dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan dapat tercapai.
"Jadi, ruhnya itu. Bahwa sekolah rakyat adalah pendidikan formal dan karakter. Ini yang membedakan kita dengan sekolah-sekolah reguler," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemensos, M. Hasan Chabibie, menekankan pentingnya penerapan sistem pendidikan yang didukung sumber daya manusia profesional.
Ia mengatakan, penyelenggaraan Sekolah Rakyat dapat mengacu pada pedoman sistem pendidikan nasional. Namun, keberhasilan pelaksanaannya juga membutuhkan komitmen para tenaga pendidik dan pengelola sekolah.
"Kalau tidak didukung oleh semangat akan menyerah, tanpa pasukan tidak takut mati dan tidak takut lapar, ini pasti tidak bisa berjalan dengan baik," katanya.
Hasan juga mendorong penerapan personalized learning atau pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Pendekatan tersebut perlu didukung pendidikan vokasi serta kerja sama dengan perguruan tinggi.
Menurutnya, kolaborasi dengan politeknik di berbagai daerah dapat menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan lulusan Sekolah Rakyat agar memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
"Pendekatan vokasi bisa dikejar sama-sama dengan seluruh Politeknik yang ada di seluruh Indonesia. Saya sudah izin, sebelum saya pindah ke sini untuk kemudian bisa berkomunikasi dengan semua kampus, dan semua Politeknik di seluruh Indonesia untuk bisa membantu bersama-sama membesarkan sekolah rakyat," tutupnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Agus Zainal Arifin, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Supomo, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Mira Riyati Kurniasih, serta jajaran pejabat Kemensos dan kepala Sekolah Rakyat dari berbagai daerah.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































