tirto.id - Setelah dua hari sempat membaik, kabut asap di Palembang kembali pekat yang menyebabkan kualitas udara berbahaya. Asap ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di lahan gambut Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Peningkatan polutan udara telah terjadi sejak Senin (19/10/2026) malam. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Stasiun Talang Betutu Palembang berada pada angka 300-an mikrogram meter per kubik.
Kualitas udara makin memburuk pada Selasa (20/10/2026) dini hari menjelang pagi. PM2.5 pada pukul 00.00 WIB tercatat berada pada angka 355 mikrogram meter per kubik dan pukul 06.00 WIB berada pada angka 309,9 mikrogram meter per kubik.
Polutan udara kembali meningkat pada dua jam setelahnya. PM2.5 pada pukul 07.00 WIB tercatat 486 mikrogram meter per kubik dan bertambah signifikan pada pukul 08.00 WIB di angka 597,2 mikrogram meter per kubik.
"Benar, hari ini PM2.5 di Palembang kembali memburuk, hingga pagi ini masih berada di level hitam atau berbahaya," ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis, Selasa (20/10/2026).
Wandayantolis mengatakan, asap yang menyelimuti Palembang dominan berasal dari karhutla di OKI dan sekitarnya. Pergerakan angin ke barat laut membawa asap menuju Palembang dan terkonstrasi di kota itu.
"Kami imbau masyarakat memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah," sambungnya.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengakui asap di Palembang berasal dari Karhutla di OKI. Kemarin pihaknya melakukan operasi pemadaman di Karhutla yang cukup luas di kawasan Cengal dan Tulung Selapan, OKI.
"Iya, sumber asap memang dari situ (karhutla di OKI)," kata Ferdian.
Masuk tirto.id


































