Menuju konten utama

Asa Kembali Menyala: 133 Hari Pemulihan Listrik Sumatra

PLN memulihkan jaringan listrik pascabanjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar melalui kerja keras petugas, inovasi & pembangunan jaringan berkelanjutan.

Asa Kembali Menyala: 133 Hari Pemulihan Listrik Sumatra
Petugas PLN memperbaiki jaringan listrik di daerah pedalaman pascabencana banjir bandang di Lokop, Aceh Timur, Aceh, Senin (22/12/2025). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di warung milik Asrun di kawasan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, lampu darurat terpaksa dinyalakan seperlunya pada malam-malam awal Desember 2025. Ketika daya baterai gawai penyuplai cahaya itu akhirnya tandas, ia tak memiliki pilihan lain kecuali memantik batang-batang lilin.

Bencana banjir bandang merendam wilayah tersebut pada akhir November hingga mendorong penetapan status tanggap darurat pada Rabu (26/11/2025) silam.

Sudut-sudut kota Kuala Simpang sempat tenggelam dalam gulita berhari-hari. Sejumlah warga terpaksa menyalakan perapian di pinggir jalan sekadar untuk mendapatkan penerangan minimal.

Bagi Asrun, mengandalkan mesin generator set atau genset bukanlah opsi yang mudah karena kelangkaan dan tingginya harga bahan bakar minyak saat bencana melanda.

“Genset ada, tapi bahan bakarnya yang bikin pusing. Daging di freezer saya masak rendang, dibagi ke tetangga biar tidak busuk. Tetangga yang kena genset kasih listrik bergiliran, cukup untuk nyalain kipas dan cas HP,” kata Asrun saat dihubungi wartawan Tirto, Selasa (3/11/2026).

Lilin-lilin kecil itu terpaksa terus dinyalakan Asrun di dalam kamar demi menenangkan sang buah hati yang ketakutan setiap kali kegelapan menyergap malam.

“Anak saya takut tidur kalau lampu mati, jadi saya nyalakan lilin,” tuturnya.

Pemulihan jaringan listrik pascabencana di pedalaman Aceh

Petugas PLN memperbaiki jaringan listrik di daerah pedalaman pascabencana banjir bandang di Lokop, Aceh Timur, Aceh, Senin (22/12/2025). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra.

Bayang-bayang Gelap di Tiga Provinsi

Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), petaka hampir satu tahun silam itu menerjang pada pekan terakhir November 2025. Hantaman banjir bandang dan tanah longsor secara serentak melumpuhkan jaringan listrik, akses jalan darat, hingga saluran komunikasi di tiga wilayah provinsi: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 4 Desember 2025 mencatat sebanyak 2,29 juta pelanggan terdampak pemadaman total.

Wilayah Aceh menanggung dampak kerusakan paling parah dengan 1.471.201 pelanggan padam, disusul Sumatra Utara sebanyak 544.048 pelanggan, dan Sumatra Barat sebanyak 270.148 pelanggan.

Dahsyatnya kerusakan infrastruktur kelistrikan di Tanah Rencong sempat diungkapkan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero) yang menjabat saat itu, Darmawan Prasodjo, dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI pada 21 Januari 2026. Kerusakan fisik jaringan di Aceh menjangkau 442 titik—angka yang melonjak drastis jika dibandingkan dengan musibah tsunami 2004 yang kala itu hanya mencatatkan delapan titik kerusakan fatal.

PLN mencatat setidaknya 66 menara transmisi mengalami kerusakan parah, dengan rincian 19 menara roboh diterjang air bah dan 47 menara mengalami deformasi struktur.

Robohnya menara transmisi di jalur vital Langsa–Pangkalan Brandan bahkan sempat memutus koneksi sistem kelistrikan Aceh dari sistem interkoneksi besar Sumatra.

Sementara di Sumatra Barat, Kementerian ESDM mendata 74 penyulang dan 2.302 unit gardu distribusi ikut lumpuh.

Kondisi serupa dialami warga di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, yang menjadi salah satu titik terparah di Sumatra Barat.

Ahmad, seorang pemilik kios sembako lokal, mengenang masa-masa sulit ketika permukimannya terisolasi tanpa penerangan selama dua pekan penuh.

Kiosnya terpaksa hanya beroperasi sekenanya pada siang hari dengan mengandalkan pancaran sinar matahari.

“Kios saya cuma buka siang, kalau mendukung. Begitu lampu menyala sore itu, pas sudah hampir dua Minggu padam, orang-orang keluar rumah, sapa-sapa di jalan. Anak-anak main lagi. Kayak desa hidup lagi,” kata Ahmad kepada Tirto.id pada Selasa (3/11/2026).

PLN mencatat seluruh jaringan terdampak di Kabupaten Agam berhasil dipulihkan secara bertahap hingga kembali menyala pada Jumat (5/12/2025) pukul 17.53 WIB, setelah bantuan 35 unit genset darurat dikirimkan Kementerian ESDM bersama PLN ke wilayah tersebut.

Maraton 133 Hari Menuju Normal

Sekitar empat bulan pascabencana, perseroan menyatakan seluruh proses pemulihan sistem kelistrikan di tiga provinsi telah rampung 100 persen. Penegasan tersebut disampaikan pihak manajemen melalui jawaban tertulis kepada Tirto, Rabu (4/11/2026).

“Seluruh jaringan kelistrikan PLN di wilayah terdampak telah kembali beroperasi normal. Proses penormalan kelistrikan di ketiga provinsi berlangsung secara bertahap sesuai kondisi kerusakan dan tantangan pemulihan di lapangan,” kata Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, kepada wartawan Tirto.

Dihitung sejak munculnya gelombang bencana pada 25 November 2025, PLN membutuhkan rentang waktu pemulihan yang bervariasi di tiap provinsi.

Sumatra Barat menjadi wilayah pertama yang pulih total pada 2 Januari 2026 atau dalam kurun 38 hari.

Provinsi Aceh menyusul pulih sepenuhnya pada 8 Maret 2026 (103 hari), sedangkan Sumatra Utara menjadi wilayah terakhir yang tuntas ditangani pada 7 April 2026 (133 hari).

Di Aceh, percepatan pemulihan merangkak naik sepanjang bulan Desember. Data menunjukkan bahwa hingga malam 4 Desember 2025, sebanyak 759.173 pelanggan atau sekitar 52 persen dari total warga terdampak sudah kembali menikmati pasokan listrik.

Pada 21 Desember 2025, seluruh 20 unit gardu induk di Aceh dinyatakan beroperasi kembali, disusul catatan Kementerian ESDM dua hari kemudian yang menunjukkan angka pemulihan pelanggan telah menembus 97,8 persen.

Torehan tersebut dicapai melalui pengerahan kekuatan penuh di lapangan. PLN mengoperasikan sebanyak 4.679 personel gabungan yang disebar ke pelbagai titik krisis, mencakup 3.153 personel di Aceh, 949 personel di Sumatra Utara, dan 577 personel di Sumatra Barat.

Para petugas di lapangan harus bertaruh dengan medan yang ekstrem dan kondisi geologis yang belum stabil. Pergerakan tanah yang terus bergeser pascabanjir bandang kerap membuat tiang-tiang pancang yang baru didirikan kembali roboh.

Untuk mengantisipasi keterputusan pasokan yang berlarut-larut, PLN membangun dua jalur menara darurat di titik-titik kritis sembari menyiapkan trase jaringan permanen baru yang dirancang lebih tahan terhadap ancaman banjir bandang di masa depan.

Menjangkau Permukiman Terakhir dan Pembelajaran Medan

Memasuki awal tahun, kantong-kantong permukiman yang terisolasi mulai terhubung kembali dengan sistem utama.

Pada 21 Januari 2026, Darmawan Prasodjo—yang saat itu menjabat Direktur Utama PLN—melaporkan jumlah desa yang mengalami pemadaman di Aceh telah menyusut signifikan hingga tersisa 60 desa dari total 6.500 desa terdampak.

Wilayah yang masih mengalami kendala teknis tersebut tersebar di Aceh Tengah sebanyak 29 desa, Bener Meriah 12 desa, Gayo Lues 7 desa, Aceh Tamiang 6 desa, Aceh Timur 3 desa, serta masing-masing satu desa di Aceh Barat, Aceh Utara, dan Bireuen.

Sementara untuk wilayah Sumatra Utara, sebanyak 99,97 persen dari total 6.223 desa terdampak dilaporkan telah kembali menyala normal pada periode yang sama.

Pihak PLN menegaskan bahwa pasokan kelistrikan untuk ribuan desa dalam jaringan resmi perseroan kini telah pulih sepenuhnya tanpa lagi mengandalkan generator darurat.

“Di Aceh, sebagai wilayah dengan kerusakan infrastruktur kelistrikan paling besar, seluruh pelanggan PLN di 6.500 desa telah kembali menikmati pasokan listrik secara permanen melalui jaringan PLN. Dengan demikian, tidak ada lagi desa terdampak yang masih bergantung pada genset sebagai sumber pasokan listrik sementara akibat kerusakan jaringan PLN,” jelas Gregorius.

Di luar jaringan eksisting perseroan, terdapat tujuh desa di Kabupaten Gayo Lues yang sebelumnya mengandalkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) kelolaan pemerintah daerah yang hancur diterjang banjir.

Desa-desa tersebut meliputi Kute Lengat, Jeret Onom, Pintu Gayo, Marpunge, dan Singah Mulo di Kecamatan Putri Betung, serta Desa Setul dan Pulo Gelime di Kecamatan Tripe Jaya.

PLN menegaskan komitmennya untuk mengambil alih dan mengintegrasikan wilayah tersebut ke dalam jaringan nasional.

“PLN juga mengambil peran dalam memperluas akses listrik bagi masyarakat di tujuh desa. Untuk menghadirkan pasokan listrik yang lebih andal dan berkelanjutan, PLN tengah membangun jaringan listrik melalui Program Listrik Desa (Lisdes) dengan target penyelesaian pada Desember 2026,” tambah Gregorius.

Kompleksnya penanganan krisis di Sumatra melahirkan sejumlah terobosan teknis bagi sistem manajemen bencana PLN.

Perseroan memanfaatkan pemetaan udara menggunakan drone untuk mengidentifikasi titik kerusakan di medan yang tak terjangkau jalur darat, serta menyediakan perangkat internet satelit agar koordinasi antarpetugas di lapangan tidak terputus saat menara telekomunikasi mandek.

Di samping itu, penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), genset mobile, Uninterruptible Power Supply (UPS), hingga Battery Energy Storage System (BESS) dioptimalkan untuk menerapkan skema island operation—yakni mengoperasikan sistem kelistrikan daerah secara mandiri saat jaringan transmisi utama terganggu—guna mempercepat proses black start pascalumpuh total.

Transisi Hunian dan Catatan Jangka Panjang

Tuntasnya penanganan di sektor transmisi utama menggeser fokus kerja ke penyediaan akses kelistrikan bagi warga terdampak yang bermukim di lokasi pengungsian maupun hunian sementara (huntara).

PLN menyatakan kesiapannya untuk menyuplai energi bagi 15.000 unit huntara yang tersebar di wilayah Sumatra.

Sesuai dengan keputusan dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI pada Januari 2026, manajemen PLN saat itu mengonfirmasi bahwa pemakaian listrik bagi para penghuni huntara di tiga provinsi digratiskan selama enam bulan pertama, termasuk penanggungan penuh biaya instalasi awal dan pemasangan kWh meter.

Langkah rehabilitasi ini beriringan dengan pengesahan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi 2026–2028 oleh DPR RI yang mengalokasikan anggaran sebesar Rp100,166 triliun untuk 11.512 kegiatan pemulihan fisik dan ekonomi.

Meski langkah tanggap darurat PLN untuk mengalirkan kembali listrik mendapat apresiasi, pengamat energi Hadi Ismoyo memberikan catatan evaluasi kritis terkait ketahanan infrastruktur energi nasional dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.

“Perlu peningkatan surveillance dan intervention plan dengan drone sepanjang jaringan utama, agar potensi gangguan jaringan terdeteksi lebih awal. Proses ini sudah biasa dilakukan di jaringan pipa migas,” kata Hadi Ismoyo kepada Tirto, Kamis (5/11/2026).

Hadi juga menggarisbawahi pentingnya keterbukaan indikator pemulihan publik—baik berbasis jumlah pelanggan, permukiman desa, maupun beban daya—agar capaian pemulihan bencana dapat terukur secara transparan.

Selain itu, skema keberlanjutan pasokan listrik bagi permukiman warga pasca-berakhirnya masa bebas biaya enam bulan perlu dirancang secara matang agar tidak membebani ekonomi masyarakat terdampak.

Namun kini, kebiasaan malam di warung Asrun telah kembali pada ritme lamanya. Suasana remang yang dahulu diwarnai lelehan lilin dan deru mesin genset telah berganti dengan cahaya lampu yang stabil.

“Sudah lama listrik kami nyala terus. Anak saya belajar malam pakai lampu, tidak pakai lilin lagi. Warung buka sampai malam, dagangan tidak cepat basi,” kata Asrun lega.

Terang yang kembali memeluk Sumatra bukan sekadar cerita tentang pulihnya kabel dan transmisi yang sempat lumpuh, melainkan simbol ketangguhan warga dan tekad bersama untuk bangkit dari kegelapan.

Ketika proyek Listrik Desa di tujuh pelosok Gayo Lues tuntas akhir tahun nanti, pijar cahaya itu akan menjadi penanda paripurna bahwa tak ada lagi sudut Sumatra yang ditinggalkan sendirian dalam gulita.

Baca juga artikel terkait PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - News Plus
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Alfitra Akbar