Menuju konten utama

Tirto.id Ajak Media Lokal Lawan Hoaks & Utamakan Akurasi Berita

Melalui Jangkar Media Day di Bogor, Tirto.id mendorong kolaborasi dengan media lokal untuk menjaga akurasi dan kredibilitas informasi di era digital.

Tirto.id Ajak Media Lokal Lawan Hoaks & Utamakan Akurasi Berita
Foto bersama para narasumber dalam kegiatan Jangkar Media Day yang diselenggarakan Tirto.id di Sentosa Seafood Kota Wisata, Kabupaten Bogor, Rabu (4/11/2026). Foto/Nanda Surya Shadan.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perkembangan media digital membuka peluang bagi media lokal untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Namun, persaingan mendapatkan perhatian publik, maraknya informasi yang belum terverifikasi, hingga tantangan membangun model bisnis yang berkelanjutan saat ini menjadi persoalan utama yang perlu dihadapi.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Jangkar Media Day bertema “Membangun Konten Kredibel dari Citizen Journalism” yang digelar oleh Tirto.id di Sentosa Seafood Kota Wisata, Kabupaten Bogor, Rabu (4/11/2026).

Fotum ini mempertemukan pengelola media lokal, pemerintah, Dewan Pers, dan akademisi untuk membahas penguatan kredibilitas informasi serta peluang kolaborasi antarmedia.

Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rachmadin Ismail, mengatakan telah bertemu dengan sejumlah pengelola akun media lokal di berbagai wilayah. Dari pertemuan tersebut, ia melihat adanya persoalan serupa yang dihadapi para pengelola media lokal.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut menjadi salah satu alasan Tirto menginisiasi Jangkar Media Day sebagai ruang untuk membangun kolaborasi dengan media lokal. Ia menilai, kerja sama dapat membantu media menghadapi tantangan dibandingkan jika setiap pihak berjalan sendiri-sendiri.

“Jadi tujuan hari ini adalah bagaimana kita bisa kolaborasi bersama. Saya yakin semua sepakat kalau sendiri-sendiri itu akan lebih merepotkan,” katanya.

Menjaga Ruang Digital Jadi Tanggung Jawab Bersama

Direktur Ekosistem Media, Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, menjelaskan bahwa pengelolaan ruang digital membutuhkan tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, dan platform digital memiliki peran masing-masing dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat.

Farida menekankan, kebebasan di ruang digital tetap perlu berjalan beriringan dengan aturan. Sebab, ruang digital bukan berarti ruang tanpa batas dan tanpa tanggung jawab.

“Ruang digital itu bukan ruang yang bebas, maka karena bukan ruang yang bebas maka itu harus ada aturannya,” kata Farida yang hadir sebagai salah satu pembicara dalam Jangkar Media Day di Bogor.

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah perlu memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat. Di sisi lain, upaya menjaga ruang digital tetap kondusif harus tetap memperhatikan kebebasan berekspresi sebagai bagian dari hak masyarakat.

Farida menambahkan, platform digital memiliki kewajiban untuk melakukan moderasi konten. Platform juga perlu menyediakan mekanisme pengaduan dan proses keberatan apabila pengguna merasa dirugikan oleh keputusan moderasi.

“Kita harus memastikan bahwa masyarakat bisa mendapatkan informasi yang sehat, yang bersih,” ujarnya.

Menurut Farida, pengawasan terhadap ruang digital tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Platform perlu menjalankan kewajibannya, sementara masyarakat juga harus berperan dalam menjaga kualitas informasi yang beredar.

Verifikasi Menjadi Kunci Kredibilitas Informasi

Berbicara dalam forum yang sama, Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menyoroti pentingnya akurasi dan kebenaran dalam menjaga kredibilitas media.

Menurutnya, banyaknya informasi yang beredar di ruang digital membuat proses verifikasi tetap menjadi bagian penting dalam kerja jurnalistik.

Totok mengatakan kredibilitas media tak cukup dibangun melalui kecepatan menyampaikan informasi. Media juga perlu memastikan informasi yang dipublikasikan telah melalui proses pemeriksaan dan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.

“Kredibilitas itu akurasi, kredibilitas itu kebenaran,” kata Totok.

Ia juga menyoroti pentingnya keberadaan media lokal karena memiliki kedekatan dengan masyarakat di wilayahnya. Informasi dari media lokal dapat membantu warga mengetahui peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.

“Jadi saya kira [media] lokal itu bukan sesuatu yang harus dianggap kecil,” ujarnya.

Persaingan Merebut Perhatian di Era Digital

Pembicara lainnya, Dosen Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, menjelaskan bahwa setiap orang memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Sebagian besar waktu tersebut telah tersita untuk tidur, bekerja, dan menjalani rutinitas harian.

Sementara itu, waktu luang yang tersisa juga harus dibagi dengan berbagai aktivitas digital, mulai dari mengakses media sosial hingga menggunakan layanan hiburan dan komunikasi.

“Jadi perhatian itu menjadi mahal,” ujarnya.

Menurut Firman, tantangan media bertambah seiring penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain propaganda dan hoaks, kemunculan teknologi deepfake turut membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi yang benar dan manipulatif.

"Nah sekarang kita masuk era artificial intelligence, jadi tantangan kita selain propaganda, hoaks, juga deepfake. Kita akan bingung mendapatkan informasi-informasi ini, informasi yang benar atau yang palsu," ucap Firman.

Ia menilai, di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI, kredibilitas tetap menjadi hal utama yang perlu dipertahankan media, termasuk ketika mengembangkan model bisnis.

“Tetap yang paling penting dari model bisnisnya ini adalah mempertahankan kredibilitas,” kata Firman.

Mengembangkan Model Bisnis Media Lokal

Dalam forum Jangkar Media Day di Bogor, CEO JTN Media, Miko Susilo, turut membagikan pengalamannya membangun Jakarta Terkini sejak 2017. Ia mengatakan, pada awalnya, media tersebut tidak dibangun dengan tujuan bisnis.

"Jujur di awal membangun Jakarta Terkini di 2017 saya tidak tahu tentang monetisasi atau punya tujuan untuk memonetisasi dari akun tersebut,” ujarnya.

Miko mengaku memulai Jakarta Terkini karena memiliki latar belakang jurnalistik dan ingin mendokumentasikan berbagai peristiwa yang ditemuinya di jalan, seperti kecelakaan maupun kebakaran.

"Jadi memang berangkat dari karena saya ada background jurnalistik ada rasa ketika di jalan itu ketemu kecelakaan atau kebakaran atau peristiwa apa pun itu ya sudah kita abadikan aja di sosmed tersebut," ungkap Miko.

Miko juga menjelaskan bahwa pengembangan media lokal membutuhkan pengelolaan operasional yang disesuaikan dengan kemampuan tim. Setelah merasa operasional media cukup stabil, perekrutan tenaga baru baru dilakukan.

“Ketika kita sudah merasa yakin bahwa secara finansial kita merasa stabil, baru kita pelan-pelan untuk rekrutmen gitu, dan itu pun dari orang terdekat, tetangga dulu, kita tawarin, kita ajarin dulu," katanya.

Melalui Jangkar Media Day, Tirto.id mendorong penguatan kolaborasi dengan media lokal sekaligus membuka diskusi mengenai pentingnya konten yang kredibel dan model bisnis yang berkelanjutan di tengah perubahan ekosistem digital.

Baca juga artikel terkait KOLABORASI JANGKAR atau tulisan lainnya dari Nanda Surya

tirto.id - Aktual dan Tren
Reporter: Nanda Surya
Penulis: Nanda Surya
Editor: Addi M Idhom