tirto.id - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) memaparkan peta jalan pemulihan keuangan dan target operasional terbarunya dalam ajang Paparan Publik (Public Expose) Tahunan yang digelar secara daring pada Kamis, (1/10/2026).
Di tengah upaya pemulihan persepsi pasar dan status suspensi sahamnya, manajemen emiten BUMN konstruksi ini mengumumkan sejumlah langkah agresif, mulai dari target pertumbuhan kontrak, monetisasi aset bernilai triliun rupiah, hingga respons terkait rencana konsolidasi di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
1. Kantongi 71 Proyek Berjalan Senilai Rp40,25 Triliun
Direktur Utama WIKA, I Ketut Pasek Senjaya Putra, mengungkapkan bahwa hingga Agustus 2026 perseroan tengah aktif menggarap 71 proyek berjalan dengan total nilai kontrak menghadapi (order book) sebesar Rp40,25 triliun.
Proyek-proyek tersebut tersebar di 19 provinsi dan didukung oleh operasional 18 pabrik milik grup.
"Dari 71 proyek tersebut, sebanyak 27 proyek merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan 7 proyek berada di Ibu Kota Nusantara (IKN)," jelas Pasek.
Untuk keseluruhan tahun buku 2026, WIKA membidik penjualan (non-JO) sebesar Rp13,60 triliun dengan proyeksi laba kotor mencapai Rp1,25 triliun.
Manajemen optimis target laba kotor tersebut dapat dicapai melalui evaluasi ketat terhadap Harga Pokok Produksi (HPP) serta kolaborasi intensif bersama subkontraktor dan pemasok.
2. Target Kontrak Baru 2027 Naik 20%
Menatap tahun depan, WIKA memasang target pertumbuhan yang cukup signifikan. Direktur WIKA Sonny Setyadhy menyatakan perseroan membidik nilai kontrak baru sebesar Rp25,7 triliun pada tahun 2027.
Target tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 20% dibandingkan target tahun 2026. Secara stand-alone, holding diklaim memberikan kontribusi dominan sebesar 16,9%, sementara entitas anak usaha menyumbang 8,7%.
"Sumbangan dari holding besar karena adanya program streamlining sebelumnya, di mana proyek-proyek strategis dinaikkan ke level holding," ungkap Sonny.
3. Restrukturisasi Utang Rp10,2 T dan Obral Aset Rp5,5 Triliun
Langkah penyehatan neraca keuangan menjadi sorotan utama dalam pubex kali ini. WIKA tengah mematangkan proses restrukturisasi surat utang senilai Rp10,2 triliun dan kewajiban perbankan sebesar Rp17,6 triliun.
Manajemen berharap kesepakatan final dengan para pemegang obligasi dan perbankan dapat diketok palu pada akhir tahun 2026.
Sebagai bagian dari komitmen restrukturisasi tersebut, Kompas dan Antara memberitakan rencana besar WIKA untuk melakukan divestasi aset dengan total target dana Rp5 triliun hingga Rp5,5 triliun sepanjang periode 2026–2028.
Aset-aset non-inti yang masuk dalam daftar monetisasi gelombang pertama (akhir 2026) bernilai Rp1,9 triliun, meliputi:
- Kepemilikan saham di PT JCC.
- Saham di PT Jasamarga Manado Bitung (JMLC) selaku pengelola Tol Manado-Bitung.
- Aset properti Cilacap/Laswi.
- Konsorsium Pelabuhan Mabar/Patimban.
Dana hasil divestasi anak usaha ini nantinya akan dialirkan kembali ke WIKA holding berupa pengembalian pinjaman pemegang saham (shareholder loan) untuk langsung diprioritaskan membayar utang.
4. Tinggalkan Proyek Turnkey demi Amankan Arus Kas
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menegaskan perbaikan portofolio kontrak (order book) kini dilakukan secara ketat. WIKA tidak lagi mengambil proyek dengan skema pembayaran turnkey (pembayaran penuh di akhir proyek).
Sebaliknya, perseroan mewajibkan klausul pembayaran bulanan (progress payment) berdasarkan sertifikat progres bulanan untuk mempercepat cash collection dan menekan risiko piutang macet.
Perseroan juga menetapkan ambang batas minimum margin kotor yang lebih tinggi, yaitu di atas 8% untuk proyek kerja sama operasi (JO) dan di atas 10% untuk proyek regular.
5. Menanti Keputusan Merger di Bawah Danantara
Isu mengenai konsolidasi BUMN Karya turut diklarifikasi oleh manajemen. Direktur Keuangan WIKA, Mulyadi, menyatakan bahwa pihaknya saat ini sedang menunggu keputusan resmi dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terkait skema penggabungan atau merger badan usaha milik negara sektor konstruksi.
Meskipun keputusan akhir berada di tangan Danantara selaku pengelola superholding, Mulyadi menegaskan bahwa internal WIKA sudah melakukan persiapan matang secara mandiri.
"Sebelum rencana itu diwujudkan, kami sudah mempersiapkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas internal yang memadai," pungkas Mulyadi.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id





























