Menuju konten utama

Drakor Doctor X: Mafia in White Dikecam, Singgung Kasus Gwangju

Serial Netflix Doctor X: Mafia in White mendapatkan kecaman usai menampilkan cerita yang menyinggung Pemberontakan Gwangju 1980. Simak penjelasannya.

Drakor Doctor X: Mafia in White Dikecam, Singgung Kasus Gwangju
Doctor X Mafia in White. youtube/Dok. Netflix
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Serial drakor Doctor X: Mafia in White (2026) dikecam sebagian publik Korea Selatan (Korsel) setelah salah satu episodenya menyinggung peristiwa Pemberontakan Gwangju 1980. Episode tersebut memicu petisi untuk menangguhkan penayangannya di televisi dan membuat aktor pemeran utamanya menerima gelombang kritik di media sosial.

Menukil The Straits Times, kecaman terhadap serial tersebut kini tengah berlangsung di Korsel. Sebuah petisi untuk menghentikan penayangan drama itu di televisi itu diajukan ke Majelis Nasional Korsel.

Petisi diajukan melalui situs web Majelis Nasional dan berisi desakan agar proses produksi drakor Doctor X: Mafia in White ditinjau ulang. Petisi ini dilaporkan telah memenuhi syarat 100 dukungan awal yang diperlukan untuk dipublikasikan dan kini tengah ditinjau untuk dibuka secara publik.

Dalam keterangannya, pemohon petisi menilai bahwa pembuat serial ini telah memaksakan jalan cerita agar bersinggungan dengan peristiwa sejarah yang sensitif. Pemohon petisi juga menuduh pembuat serial menggunakan sejarah Pemberontakan Gwangju 1980 sebagai cara untuk “mempromosikan pandangan politik tertentu”.

Di Korsel, kontroversi tersebut berpusat pada penayangan episode keenam serial Doctor X: Mafia in White pada Sabtu (24/10/2026). Episode itu menampilkan kisah protagonis, seorang dokter bernama Gye Su-jeung (diperankan oleh Kim Ji-won), melakukan operasi pengangkatan serpihan peluru yang telah bersarang di otak seorang pasien selama 46 tahun.

Latar belakang karakter sang pasien kemudian menjadi inti kontroversi. Karakter itu bernama Oh Sang-beom (diperankan Ha Sung-kwang) dan digambarkan sebagai salah satu korban kekerasan negara dalam peristiwa pemberontakan demokratis Gwangju pada 18 Mei 1980.

Serpihan yang bersarang di kepala karakter Oh Sang-beom ditampilkan sebagai bagian peluru senapan otomatis yang ditembakkan pasukan militer Korsel dari helikopter selama gelombang protes di Gwangju tahun 1980. Dalam cerita drama, serpihan ini kemudian menjadi penting karena bernilai sebagai barang bukti aksi kekerasan negara.

Selain itu, kontroversi seputar episode tersebut juga berasal dari kemunculan karakter mantan presiden tahun 1980 bernama Ji Do-seok. Sang mantan presiden diceritakan bertemu dengan karakter pasien Oh Sang-beom yang tiba-tiba mengalami fase trauma karenanya.

The Chosun Daily melaporkan bahwa perilisan episode itu telah direspons secara beragam oleh penonton. Sebagian menyanjungnya karena menampilkan kaitan tragedi sejarah dengan dampak personal para korbannya, sementara yang lain mengkritik seperti para pemohon petisi.

“Beberapa pihak memuji drama tersebut karena menghubungkan tragedi sejarah dengan kehidupan seorang individu … Pihak lain melontarkan kritik terkait interpretasi politik yang berlebihan dalam sebuah drama medis,” tulis laporan The Chosun Daily.

Pemberontakan Gwangju sendiri merupakan peristiwa bersejarah yang penting dalam sejarah modern Korsel. Peristiwa itu adalah gerakan pro-demokrasi yang berlangsung dari 18-27 Mei 1980 sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan militer mantan Presiden Chun Doo-hwan .

Dalam peristiwa itu, para pemuda menggelar unjuk rasa besar-besaran di Gwangju dan memicu bentrokan berdarah dengan pihak militer. Menukil The Korea Times, komite investigasi Kementerian Pertahanan Korsel merilis laporan pada 2018 yang berisi konfirmasi bahwa pasukan pendukung pemerintahan militer turut menembakkan senapan otomatis dari helikopter untuk melerai massa yang berunjuk rasa. Pemberontakan ini berakhir ketika pasukan dan tank memasuki Gwangju pada 27 Mei 1980 dan menumpas perlawanan secara brutal.

Akan tetapi, kendati sesuai dengan gambaran umum peristiwa yang terjadi, sebagian publik Korsel menganggap penggambaran tragedi Gwangju dalam serial Doctor X: Mafia in White sebagai hal yang tak pantas. Kecaman atas hal ini bahkan turut meluas ke aktor pemeran utama drama tersebut, Kim Ji-won.

Seturut Korean JoongAng Daily, akun Instagram Kim Ji-won menerima gelombang kritik pedas di kolom komentarnya imbas episode drama tersebut. Beberapa komentar negatif yang ia terima karena episode tersebut.

“Jadi ini ternyata drama sayap kiri”, kata warganet.

“Aku akan memboikot proyekmu di kemudian hari”, tutur yang lain.

“Aku penggemarmu, tapi aku kecewa dengan jalan cerita tentang 18 Mei,” tulis warganet lainnya.

Doctor X: Mafia in White Turut Dikritik soal Ketidakakuratan Medis

Tim produksi serial Doctor X: Mafia in White sejauh ini belum memberikan keterangan terbuka terkait kontroversi soal targedi Gwangju. Namun, serial ini sebelumnya juga sempat mendapat kritik terpisah dari komunitas medis di Korsel.

Kritik itu bermula dari unggahan warganet yang memperkenalkan dirinya sebagai dokter bedah ortopedi. Ia menyatakan telah mengajukan permohonan peninjauan siaran serial tersebut karena ketidakakuratan medis.

Ia mengkritik cara drama tersebut menggambarkan dunia medis bekerja. Beberapa penggambaran metode kerja petugas medis ia kritik, termasuk “menampilkan kegiatan visit pasien sebagai pekerjaan administratif yang tidak perlu”, “menyederhanakan sosok tenaga medis jadi karakter jahat yang tak kompeten”, dan “mengabaikan ketidakpastian dalam prosedur medis”.

Warganet itu juga mengatakan bahwa dirinya telah mengajukan keluhan ke Komisi Penyiaran Korsel. Keluhan ini berkisar pada adanya “distorsi realitas medis” pada serial televisi tersebut.

“Sebagai seorang profesional, saya tidak bisa tinggal diam membiarkan persepsi yang keliru terus mengakar,” tuturnya.

Premis utama serial Doctor X: Mafia in White sendiri berkisar pada kisah seorang dokter bedah jenius bernama Kye Soo-jung. Jalan ceritanya berpusat pada intrik karakter Kye Soo-jung yang harus bekerja di tengah korupsi di rumah sakit.

Baca juga artikel terkait DRAKOR atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar