tirto.id - Sebanyak 146 orang warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu mengalami gangguan kesehatan berupa diare, muntah, dan gatal-gatal.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Allin Hendalin Mahdaniar pada Rabu (14/10/2026), menyebutkan, dari ratusan warga yang terdampak terdapat 11 orang yang harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit (RS).
"Kasus diare tersebut terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak hingga orang dewasa. Berdasarkan hasil pendataan sementara, kelompok balita merupakan kelompok yang paling banyak terdampak," ujarnya.
Dia juga bilang, berdasarkan pendataan hingga 13 Oktober 2026, warga yang menjadi korban paparan bakteri tersebut mengalami keluhan yang sama yakni muntah, diare hingga gatal pada bagian tubuhnya.
"Dinkes Tangsel mulai menerima laporan peningkatan kasus diare akut pada 7 Oktober 2026, setelah sejumlah warga mengalami keluhan kesehatan dalam waktu yang hampir bersamaan," ucapnya.
Air di Serpong Lagoon Positif E. coli
Dinkes menyebut air konsumsi di kawasan Perumahan Serpong Lagoon di Kecamatan Setu terkontaminasi bakteri E. coli berdasarkan hasil pengujian baku mutu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tangsel Fitria Oriza di Tangerang, Rabu, mengatakan hampir semua sampel air yang diuji dari penampungan WTP (water treatment plant) menunjukkan hasil positif bakteri E. coli.
"Total terdapat tiga sampel yang diambil dan semuanya positif E. coli. Air tersebut dinyatakan tidak layak konsumsi," katanya.
Ia menuturkan, setelah adanya temuan penelitian tersebut pihaknya memberikan rekomendasi kepada pihak Satpol PP yang berwenang nantinya melakukan penyegelan terhadap WTP agar tidak dilakukan distribusi kembali kepada masyarakat.
"Dinkes menyarankan agar masyarakat untuk sementara waktu mengonsumsi air yang layak pakai. Disarankan air kemasan guna menghindari penggunaan air dari WTP tersebut," paparnya.
Dalam hal ini, Dinkes Tangsel belum bisa menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena kewenangannya ada di Wali Kota, meskipun saat ini sudah terdapat ratusan korban yang terdampak dari paparan bakteri E. coli tersebut.
"Peningkatan kasus terjadi karena sumber air yang digunakan berasal dari sumber yang sama, yaitu WTP. Namun, sejauh ini semua korban telah tertangani dan sebagian besar korban sudah sembuh, namun ada juga yang masih sakit," ungkap dia.
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































