Menuju konten utama

Paviliun Campuspreneur di TEI 2026, Panggung Bagi Eksportir Muda

Paviliun Campuspreneur di ajang TEI ke-41 memberikan kesempatan kepada sejumlah anak muda untuk meraih peluang mengekspor produk lokal yang berkualitas.

Paviliun Campuspreneur di TEI 2026, Panggung Bagi Eksportir Muda
Menteri Perdagangan Budi Santoso saat mencicipi bandeng asap di Paviliun Campuspreneur di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten pada Sabtu (17/10/2026). (FOTO/dok.Kemendag)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perhelatan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14—18 Oktober 2026 lalu tidak hanya memberikan kesempatan bagi eksportir berpengalaman untuk bertemu calon buyer internasional. Banyak eksportir muda juga memperoleh peluang yang sama, termasuk para mahasiswa peserta program Campuspreneur.

Kehadiran sejumlah mahasiswa yang menampilkan berbagai produk berkualitas ekspor di ajang TEI ke-41 itu tidak luput dari perhatian Menteri Perdagangan Budi Santoso. Dia pun sempat menemui beberapa mahasiswa yang turut meramaikan Paviliun Campuspreneur di pameran TEI ke-41.

Selama pameran TEI 2026 berlangsung di ICE BSD City, sosok yang akrab disapa Mendag Busan tersebut memang rutin jalan-jalan sore untuk berinteraksi dengan para ekshibitor. Berkeliling aula pameran baginya adalah agenda wajib ketika kesibukan hari itu mulai reda.

Di tengah aktivitas itu, ia tidak lupa meluangkan waktu untuk meninjau beberapa booth di Paviliun Campuspreneur.

Menikmati Bandeng Asap yang Diminati Pembeli dari Berbagai Negara

Paviliun Campuspreneur memamerkan beragam produk karya mahasiswa dan sivitas akademika terpilih. Produk-produk itu dikurasi melalui Program Campuspreneur Pengembangan Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor yang diprakarsai oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI.

Salah satu produk yang dipamerkan adalah Allikan Bandeng Asap. Mendag Busan pun menyempatkan diri untuk menikmati cita rasa produk makanan olahan itu saat menyambangi Paviliun Campuspreneur pada Sabtu sore (17/10/2026).

Sembari mencicipi bandeng asap tanpa duri dari Kalimantan ini, ia berbincang dengan dua sosok anak muda yang berada di balik produk tersebut, yakni Sugandi dan Gevbry Ranti Ramadhani Simamora.

"Wah, ini enak sekali. Sudah ada buyer belum?" tanya Mendag Busan.

"Kalau calon buyer, sudah, Pak," jawab Gevbry sumringah.

Sepanjang TEI ke-41, sudah ada calon pembeli dari Malaysia, Jepang, Korea, hingga Brunei Darussalam yang menyatakan berminat memesan produk Allikan Bandeng Asap.

Produk mitra binaan Institut Teknologi Kalimantan bahkan mencatat permintaan pasokan hingga 28 ton per bulan dari Afrika sekaligus menerima rata-rata empat letter of intent (LoI) setiap harinya.

Merespons hal itu, Mendag Busan mengingatkan Sugandi dan Gevbry untuk segera menindaklanjuti minat calon pembeli agar peluang yang tercipta bisa terealisasi menjadi kerja sama konkret, terutama jika sudah ada LoI.

"Buyer-nya di-follow up, ya. Supaya transaksinya bisa terealisasi," ujar Mendag Busan berpesan.

Betawi Boys, Fesyen Lokal yang Mengusung Misi Sosial

Mendag Busan kemudian beralih meninjau produk lainnya di Paviliun Campupreneur. Langkahnya terhenti di booth Betawi Boys, merek fesyen lokal besutan Septo Hidayatullah, seorang mahasiswa dari Universitas Esa Unggul, Jakarta.

"Selama pameran ini, kami sudah menjajaki peluang ekspor dengan calon buyer dari Malaysia dan Republik Senegal. Semoga bisa segera terealisasi," ujar Septo.

Produk-produk fesyen Betawi Boys memadukan gaya berpakaian modern dengan unsur budaya Betawi. Septo juga mengembangkan produk suvenir hasil olahan limbah botol plastik.

Tak sekadar bisnis, usaha Septo membawa misi sosial untuk memberdayakan masyarakat. Betawi Boys melibatkan sejumlah bekas narapidana dan mantan pengguna narkotika sebagai pekerja.

Olahan Kakao dari Bali Tarik Minat Buyer dari Jepang dan Australia

Semangat membawa produk lokal ke pasar internasional juga ditunjukkan oleh I Ketut Bagus Adi, mahasiswa Bina Nusantara University Alam Sutera asal Bali.

Bagus mengolah kakao dari kebun dan fasilitas lokal di Bali menjadi beragam produk, mulai dari cokelat batangan, cokelat bubuk, dan biji kakao. Usahanya juga memproduksi mentega kakao yang dihasilkan dari ekstraksi lemak biji kakao.

Berkat pendampingan dalam program Campuspreneur, Bagus berhasil memperluas jejaring internasional dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama calon buyer dari Tokyo, Jepang. Dia juga berhasil menandatangani LoI dari pembeli asal Australia di ajang TEI ke-41.

"Saya senang sekali ikut serta di Paviliun Campuspreneur. Selain bisa ketemu langsung dengan buyer, saya juga bisa bertemu dengan sesama mahasiswa yang memiliki pandangan yang sama tentang ekspor," kata Bagus.

Mendag Busan Apresiasi Semangat Eksportir Muda

Melihat antusiasme para wirausaha muda tersebut, Mendag Busan mengaku bangga. Dia mengapresiasi semangat dan keberanian generasi muda Indonesia untuk bersaing di tingkat global.

"Saya bangga sekali dengan anak-anak muda Indonesia karena memiliki visi meningkatkan ekspor dan mendukung pembangunan nasional," kata Mendag Busan.

Dia memastikan, lewat program Campuspreneur, Kemendag akan terus membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis, memperluas jejaring, dan mempersiapkan produk lokal untuk menembus pasar dunia.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis