Menuju konten utama

Paus Leo XIV Didiagnosis Kanker Paru-paru usai Jalani Operasi

Paus Leo XIV didiagnosis kanker paru-paru jenis adenokarsinoma usai operasi di Roma. Vatikan belum mengungkap stadium dan perawatan lanjutan.

Paus Leo XIV Didiagnosis Kanker Paru-paru usai Jalani Operasi
Tangkapan layar - Kardinal Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat sebagai Paus terpilih ke-267 dengan nama Paus Leo XIV menyapa ribuan umat Katolik yang berkumpul di alun-alun Basilika Santo Petrus, Vatikan, Kamis (8/5/2025) waktu setempat. ANTARA/Vatican Media/aa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Paus Leo XIV didiagnosis menderita kanker paru-paru setelah menjalani operasi untuk mengangkat lesi nodular atau benjolan kecil yang ditemukan di paru-paru kanannya.

Vatikan mengonfirmasi diagnosis tersebut pada Selasa (13/10/2026), setelah pemimpin Gereja Katolik berusia 71 tahun itu menjalani prosedur medis di Rumah Sakit Gemelli, Roma, Italia.

Hasil pemeriksaan jaringan selama operasi memastikan bahwa benjolan tersebut merupakan adenokarsinoma paru, salah satu jenis kanker paru-paru yang paling umum. Tim dokter mengangkat lobus bawah paru-paru kanan Paus Leo untuk menghilangkan jaringan yang terdampak.

Meski operasi dinyatakan berhasil, Vatikan belum mengungkapkan stadium kanker, kemungkinan penyebarannya, maupun rencana perawatan lanjutan yang akan dijalani sang Paus.

Paus Leo XIV lahir pada tanggal 14 September 1955 di Chicago, Illinois, AS dengan nama Robert Francis Prevost. Ia kemudian terpilih menjadi paus pada tanggal 8 Mei 2025.

Awal Masalah Kesehatan P⁠aus Leo

Awalnya, masalah kesehatan Paus Leo XIV mulai diketahui setelah pemeriksaan medis menemukan lesi nodular di paru-paru kanannya. Lesi nodular merupakan benjolan kecil yang dapat ditemukan melalui pemeriksaan pencitraan, seperti CT scan.

Benjolan semacam ini tidak selalu bersifat kanker. Menurut informasi American Thoracic Society yang dikutip dalam laporan CBS News, Selasa (13/10/2026), sebagian besar nodul paru-paru bukan kanker, dan kurang dari 5 persen di antaranya diketahui bersifat ganas.

Setelah berkonsultasi dengan dokter, Paus Leo memutuskan menjalani operasi untuk mengangkat benjolan tersebut.

"Para dokter berpendapat bahwa langkah terbaik adalah mengambil tindakan, jadi, mengikuti saran mereka, saya memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan nodul tersebut," ujar Paus Leo dalam sambutannya saat pemberkatan hari Minggu siang.

Vatikan kemudian mengumumkan bahwa Paus Leo akan menjalani operasi pada Selasa (13/10/2026). Ia memasuki Rumah Sakit Gemelli di Roma melalui pintu utama dan sempat melambaikan tangan kepada sejumlah orang yang telah berkumpul untuk menyambutnya.

Usai Operasi 3 Jam, Paus Leo Disebut Menderita Kanker Paru-paru

Operasi dilakukan oleh tim medis Rumah Sakit Gemelli di Rom yang dipimpin Dr. Stefano Margaritora, kepala bedah toraks. Menurut keterangan Vatikan, Paus Leo berada di ruang operasi selama sekitar tiga jam, sedangkan prosedur pembedahan itu sendiri berlangsung kurang lebih 90 menit.

Dalam operasi tersebut, dokter mengangkat lobus bawah paru-paru kanan menggunakan teknik bedah berbantuan video. Lobus merupakan salah satu bagian utama penyusun paru-paru. Pengangkatan bagian paru-paru yang terdampak dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang menjadi sasaran operasi.

"Pemeriksaan histologis selama operasi mengonfirmasi diagnosis adenokarsinoma paru, sebagaimana dicurigai dari tes pra-operasi," demikian pernyataan Vatikan.

Operasi Paus Leo pun dinyatakan berjalan sukses tanpa komplikasi. Setelah prosedur selesai, pemimpin umat Katolik dunia itu juga dilaporkan sadar kembali secara normal dan dipindahkan ke kamarnya di lantai 10 Rumah Sakit Gemelli.

Diagnosis yang diumumkan Vatikan adalah adenokarsinoma paru atau lung adenocarcinoma. Jenis kanker ini berkembang dari sel-sel kelenjar dan umumnya ditemukan di bagian luar paru-paru.

Menurut Lung Cancer Foundation of America, adenokarsinoma merupakan jenis kanker paru-paru yang paling banyak didiagnosis di Amerika Serikat, dengan proporsi sekitar 40 persen dari seluruh kasus kanker paru-paru.

Adenokarsinoma paru dapat berkembang dengan relatif lebih lambat dibandingkan beberapa jenis kanker paru-paru lainnya. Namun, kecepatan pertumbuhan, tingkat keparahan, dan respons terhadap pengobatan dapat berbeda pada setiap pasien. Karena itu, diagnosis adenokarsinoma saja belum cukup untuk menentukan seberapa jauh kanker berkembang atau jenis perawatan yang paling tepat.

Gejala yang dapat muncul antara lain kelelahan, sesak napas, nyeri dada, serta nyeri di punggung bagian atas. Pada sebagian orang, kanker paru-paru tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal sehingga kelainan baru diketahui melalui pemeriksaan medis.

Meskipun diagnosis kanker telah dikonfirmasi, Vatikan belum menjelaskan stadium penyakit yang dialami Paus Leo XIV. Belum ada pula keterangan resmi mengenai apakah sel kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening atau bagian tubuh lainnya.

Kakak Paus Leo XIV juga Jalani Pengobatan Kanker

Di tengah kabar mengenai kesehatan Paus Leo XIV, keluarganya juga menghadapi persoalan kesehatan serupa. Louis Prevost, kakak laki-laki Paus yang tinggal di Florida, Amerika Serikat, diketahui menderita multiple myeloma yaitu kanker yang berkembang pada sel plasma di sumsum tulang.

Istri Louis, Deborah Prevost, mengatakan kepada CBS News bahwa suaminya pertama kali didiagnosis pada 2017. Setelah menjalani pengobatan pada 2019, termasuk terapi sel punca dan partisipasi dalam uji klinis, penyakitnya sempat terkendali pada tingkat yang sangat rendah.

Namun, menurut Deborah, kondisi Louis kembali memburuk setelah ia keluar dari masa remisi sekitar tiga bulan sebelum wawancara tersebut. Louis saat ini menjalani perawatan melalui uji klinis di sebuah rumah sakit setempat.

"Dia [Paus Leo] menelepon untuk memberi tahu kami tentang apa yang akan terjadi. Kami terus berdoa dan menjaga semangat bagi mereka berdua." ucapnya.

Baca juga artikel terkait PAUS atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra