tirto.id - Sebagai CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi memimpin perusahaan teknologi yang beroperasi di tengah perubahan cepat dan berhadapan dengan beragam kebutuhan para pemangku kepentingannya, termasuk mitra pengemudi, mitra merchant, karyawan, dan pengguna.
Menurut Neneng, pemberdayaan perempuan bukan hanya soal mendorong mereka agar lebih percaya diri atau berani mengambil peluang. Perempuan juga membutuhkan akses, kemampuan, dukungan, dan rasa aman agar dapat memanfaatkan peluang tersebut dan menghasilkan dampak nyata.
“True empowerment bukan hanya tentang merasa berdaya, melainkan perpaduan antara akses, capability, confidence, dan rasa aman,” ujar Neneng.
Prinsip ini tercermin dalam ekosistem yang dibangun Grab Indonesia. Perempuan mencakup lebih dari 50 persen pengguna dan mitra merchant Grab Indonesia. Di tingkat kepemimpinan, perempuan juga mengisi lebih dari 50 persen posisi C-level di Grab Indonesia. Selain itu, lebih dari 189.000 Mitra Pengemudi perempuan memperoleh penghasilan melalui platform Grab.
Keterlibatan perempuan di berbagai bagian ekosistem Grab Indonesia dapat menciptakan multiplier effect (efek berantai). Selain mendorong pertumbuhan ekonomi digital, partisipasi mereka juga dapat memberikan manfaat bagi keluarga, mengembangkan usaha, dan memperkuat komunitas di sekitarnya.
Mitra Pengemudi Perempuan: Membuka Peluang Produktivitas

Bagi Mitra Pengemudi perempuan, pemberdayaan berkaitan erat dengan tersedianya pilihan ekonomi yang dapat menyesuaikan situasi hidup mereka.
Grab menawarkan fleksibilitas dalam menentukan waktu dan layanan yang ingin dijalankan. Dengan demikian, Mitra Pengemudi dapat menyesuaikan aktivitas di platform dengan kebutuhan keluarga, sekaligus memilih layanan sesuai preferensi dan ketersediaan masing-masing.
Fleksibilitas tersebut penting bagi perempuan yang masih menjalankan tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan domestik. Bagi sebagian dari mereka, kesempatan untuk mengatur waktu bekerja dapat membantu membuka atau menambah sumber penghasilan.
Hal tersebut tercermin dalam studi Women in the Driver’s Seat yang dilakukan Grab bersama UN Global Compact Network Singapore dan Kantar pada Maret 2026. Dalam studi tersebut, 95 persen mitra pengemudi perempuan Grab di Indonesia yang disurvei menyatakan merasa lebih mandiri secara finansial setelah bergabung. Sebanyak 91 persen responden juga melaporkan adanya peningkatan kualitas hidup.
Sebanyak 28 persen responden dalam studi tersebut merupakan ibu tunggal. Bagi kelompok ini, fleksibilitas kerja dapat membantu mengurangi sebagian hambatan yang selama ini membatasi partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi.
“Kami percaya perempuan perlu memiliki kesempatan untuk tetap produktif dan mandiri dengan cara yang sesuai dengan kehidupan mereka,” kata Neneng.
Fleksibilitas tersebut kemudian dilengkapi dengan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan membangun jejaring. Grab menyediakan program coaching, mentoring, dan komunitas bagi Mitra Pengemudi perempuan agar mereka dapat terus belajar, memperkuat kepercayaan diri, dan berkembang sesuai dengan aspirasinya.
Mitra Merchant: Mengembangkan Bisnis dengan Komunitas

Kebutuhan yang serupa juga terlihat pada mitra merchant perempuan. Bagi mereka, pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan akses untuk menjalankan usaha, tetapi juga dengan kemampuan untuk mempertahankan dan mengembangkannya.
Pengetahuan, pendampingan, dan jejaring dapat membantu pelaku usaha menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan bisnis. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bertanya, berbagi pengalaman, dan belajar dari pelaku usaha lain.
Program seperti Sekumpulan Perempuan Bisa (SERABI) menjadi salah satu ruang yang disediakan Grab untuk mendukung proses tersebut. Melalui komunitas, mitra merchant perempuan dapat saling bertukar pengalaman dan memperluas jejaring.
“Rasa aman dan support system punya peran besar. Ketika kita memiliki lingkungan yang mendukung, baik teman, keluarga, maupun komunitas, kita punya ruang untuk mencoba, belajar, dan bertumbuh tanpa rasa takut,” ujar Neneng.
Dukungan semacam ini diharapkan dapat membantu perempuan mengembangkan usahanya secara lebih berkelanjutan. Ketika usaha tersebut tumbuh, manfaatnya pun berpotensi meluas kepada keluarga dan komunitas di sekitarnya.
Karyawan: Memberi Contoh dan Membangun Lingkungan Kerja yang Aman

Pemberdayaan perempuan tidak hanya perlu diwujudkan melalui dukungan bagi pihak-pihak di luar organisasi. Ia juga perlu dibangun dari dalam, melalui lingkungan kerja yang memungkinkan perempuan merasa aman untuk berkontribusi dan berkembang.
Bagi Neneng, kepemimpinan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan tersebut. Ia menerapkan pendekatan compassionate leadership, yaitu kepemimpinan yang tidak hanya berfokus pada target, tetapi juga melihat manusia secara utuh.
Neneng menyebut prinsip tersebut sebagai “nguwongke”, atau memperlakukan setiap orang sebagai manusia, bukan sekadar sebagai pekerja atau bagian dari organisasi.
“Empati justru menjadi keunggulan kompetitif, termasuk dalam menerapkan compassionate leadership,” ujar Neneng.
Ia juga mengatakan, “I treat my team as one big happy family.” Menurutnya, seorang pemimpin tidak perlu mengubah kepribadiannya untuk mendapatkan kepercayaan tim. Yang penting adalah menunjukkan upaya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan terbuka.
Prinsip tersebut ia terapkan melalui open-door policy. Pintu yang terbuka bukan hanya berarti anggota tim dapat datang ketika memiliki persoalan pekerjaan. Mereka juga perlu merasa aman untuk membicarakan tantangan personal yang mungkin berdampak pada keseharian dan pekerjaan.
“Tim perlu merasa aman untuk menyampaikan kendala, baik yang bersifat profesional maupun personal. Ketika orang merasa didengar tanpa dihakimi, mereka akan memiliki ruang untuk mencoba, belajar, dan bertumbuh,” ujar Neneng.
Bagi Neneng, rasa aman bukan pelengkap dalam sebuah organisasi, melainkan fondasi. Lingkungan yang aman memungkinkan anggota tim bekerja lebih terbuka, mengambil keputusan, dan mengembangkan kemampuan mereka.
Saat Perempuan Berdaya, Semua Merasakan Manfaatnya

Dalam konteks yang lebih luas, prinsip tersebut tercermin dalam upaya Grab membangun ekosistem yang menyediakan akses terhadap peluang ekonomi, fleksibilitas kerja, program pengembangan, dan lingkungan yang aman.
Bagi Neneng, berbagai dukungan tersebut perlu berjalan bersama. Perempuan bukan hanya perlu diberi kesempatan untuk maju, tetapi juga perlu merasa cukup aman untuk mengambil kesempatan tersebut.
“Saat perempuan berdaya, yang tumbuh bukan hanya dirinya, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Dengan dukungan yang tepat, akses yang lebih setara, serta beragam peluang penghasilan, semakin banyak perempuan yang dapat terus bergerak maju,” tutup Neneng.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id






































