tirto.id - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengklaim ketahanan pangan Indonesia dalam posisi yang aman. Hal ini diungkapkan Amran menyikapi sedikitnya 33 negara di dunia tengah bersiap menghadapi ancaman krisis global dan gangguan rantai kebutuhan pokok.
Amran menyoroti fenomena global, yaitu saat banyak negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air, hingga obat-obatan di rumah akibat eskalasi ketegangan geopolitik.
Negara-negara seperti Inggris dan Jepang, misalnya, secara resmi telah mengimbau warganya untuk menyimpan stok darurat minimal untuk tiga hari hingga satu minggu ke depan.
Langkah tersebut ditempuh sebagai bentuk antisipasi terhadap risiko yang kian kompleks, mulai dari konflik geopolitik, ancaman cuaca ekstrem, bencana alam, hingga potensi serangan siber yang dapat melumpuhkan jalur distribusi logistik internasional.
Kendati situasi global tengah dilanda ketidakpastian tinggi, Amran kembali mengklaim sektor pangan Indonesia tidak goyah berkat kuatnya produksi domestik serta melimpahnya cadangan beras nasional.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” ujar Amran, dalam keterangan resmi, Minggu (1/11/2026).
Keyakinan tersebut didukung oleh data ketersediaan logistik pangan nasional yang masif. Berdasarkan catatan per 26 Oktober 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikuasai Perum Bulog tercatat berada di kisaran 4,5 juta ton.
Kekuatan stok ini kian bertambah dengan adanya potensi panen atau standing crop seluas setara 10 juta ton, serta cadangan tambahan sekitar 10 juta ton yang tersimpan di sektor perhotelan, restoran, dan katering (horeka).
Jika ditotal secara keseluruhan, ketersediaan beras di dalam negeri menyentuh angka 25 juta ton. Angka ini dinilai sangat aman mengingat konsumsi bulanan nasional rata-rata hanya berkisar di angka 2,5 juta ton.
“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Amran menekankan bahwa pencapaian swasembada beras tanpa bergantung pada keran impor menjadi fondasi utama kedaulatan bangsa.
Menurutnya, ketergantungan pada pasokan luar negeri merupakan bom waktu yang sangat berbahaya bagi keselamatan ekonomi nasional, apabila sewaktu-waktu terjadi perang besar atau negara pengekspor memutuskan untuk menahan komoditas pangannya demi kepentingan domestik.
“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” katanya.
Guna menjaga tren positif kemandirian ini dari ancaman perubahan iklim maupun cuaca ekstrem, Kementerian Pertanian terus menggenjot berbagai program intervensi hulu.
Langkah-langkah taktis seperti pompanisasi, optimalisasi lahan, rehabilitasi jaringan irigasi, serta distribusi benih unggul digencarkan secara masif untuk memastikan produktivitas petani tidak mengalami penurunan.
Meski mengklaim Indonesia relatif kebal dari ancaman krisis pangan yang menghantui dunia, pemerintah berkomitmen untuk tidak cepat berpuas diri. Amran mengingatkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan wujud kehadiran negara dalam melindungi kesejahteraan para petani yang menjadi garda terdepan.
“Kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi,” kata dia.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





































