Menuju konten utama

Menekraf Dorong Sineas Bawa Cerita Indonesia ke Panggung Dunia

Kesuksesan Gadis Kretek di Netflix menunjukkan potensi karya sastra Indonesia menjadi kekayaan intelektual yang menembus pasar global.

Menekraf Dorong Sineas Bawa Cerita Indonesia ke Panggung Dunia
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat menghadiri Festival Literasi Nasional 2026 yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Foto/Dok. Kemenekraf.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala membuktikan bahwa cerita yang berakar pada sejarah dan budaya lokal dapat menjangkau audiens global. Diadaptasi menjadi serial Netflix, kisah tentang cinta, perjuangan perempuan, dan industri kretek Indonesia itu masuk daftar Top 10 serial TV nonbahasa Inggris Netflix pada November 2023.

Berdasarkan data Netflix untuk periode 6–12 November 2023, Gadis Kretek menempati peringkat ke-10 global dengan 1,6 juta penayangan dalam sepekan. Serial tersebut juga masuk daftar Top 10 di enam negara, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Pencapaian itu berawal dari novel yang terbit pada 2012. Ratih menghabiskan hampir empat tahun untuk menulisnya, termasuk melakukan riset ke sejumlah kota di Jawa Tengah, seperti Kudus, Magelang, dan Semarang.

Cerita keluarga besarnya yang memiliki latar usaha kretek turut menginspirasi dunia yang dibangun dalam novel tersebut.

Ratih saat itu sudah membayangkan ceritanya suatu hari bisa hadir di layar lebar. Namun, serial televisi saat itu masih didominasi sinetron, sementara genre fiksi sejarah yang diusung novelnya menghadapi tantangan sensor. Adaptasi serial pun belum menjadi pilihan yang realistis. Ratih tidak pernah memaksakan novelnya harus diadaptasi. Ia membiarkan cerita itu menemukan waktunya sendiri, hingga sebelas tahun kemudian Gadis Kretek akhirnya menjelma menjadi serial Netflix yang menjangkau penonton global.

Tokoh Dasiyah atau Jeng Yah, perempuan yang berambisi meracik saus kretek di tengah industri yang didominasi laki-laki, menjadi salah satu karakter sentral cerita. Ketika novel itu diadaptasi menjadi serial yang tayang pada 2 November 2023, Ratih turut terlibat dalam penulisan naskah bersama tim adaptasi. Serial tersebut disutradarai Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, dengan Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran Dasiyah.

Perjalanan Gadis Kretek memperlihatkan bahwa karya sastra dapat berkembang melampaui buku, membuka peluang adaptasi audiovisual, dan menjangkau penonton di berbagai negara.

“Karya ini diterima oleh penonton global, dan mereka bisa memahami cerita maupun konteksnya, buat saya, itu yang terpenting" kata Ratih.

“Untuk bisa menjangkau penonton internasional, sekaligus meninggalkan kesan, diperlukan ciri khas lokal yang membuatnya menonjol. Ini semua, bisa didesain, tidak cuma kebetulan,” tambah Ratih yang sudah melahirkan enam buku fiksi itu.

Potensi serupa sebelumnya terlihat melalui Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel yang terbit pada 2005 itu berkembang menjadi fenomena literasi nasional dan diadaptasi menjadi film pada 2008. Selain itu, karya-karya Eka Kurniawan telah menjangkau pembaca internasional dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa.

Kementerian Ekonomi Kreatif melihat keberhasilan karya-karya tersebut sebagai gambaran potensi sastra dalam pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Melalui penerjemahan, penerbitan internasional, adaptasi film dan serial, karya penulis berpeluang menghasilkan cuan yang lebih besar sekaligus memperluas jangkauan cerita Indonesia.

Potensi itu menjadi salah satu fokus Literaia: Festival Literasi Nasional 2026 yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada 11–14 Oktober 2026. Diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif, festival ini mempertemukan penulis, penerbit, komunitas literasi, dan pelaku industri kreatif untuk membahas pengembangan karya serta peluang memasuki pasar yang lebih luas.

Sejumlah agenda membahas hubungan sastra dengan film, pengembangan buku anak, agensi buku, komik lokal di pasar digital internasional, hingga strategi membawa penulis Indonesia ke panggung dunia. Lokakarya juga mencakup penyusunan logline dan pitch deck untuk menawarkan karya kepada produser film.

 Teuku Riefky Harsya

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat menghadiri Festival Literasi Nasional 2026 yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Foto/Dok. Kemenekraf.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, Indonesia membutuhkan lebih banyak penulis yang mampu menghasilkan karya berkualitas dan menjangkau pembaca lintas negara. Menurutnya, penguatan ekosistem menjadi penting agar karya penulis tidak berhenti pada penerbitan buku, tetapi juga berpeluang berkembang melalui berbagai medium.

“Kami ingin semakin banyak lahir Andrea Hirata baru, Ratih Kumala baru, dan Eka Kurniawan baru. Penulis-penulis Indonesia memiliki kekayaan gagasan, imajinasi, dan cerita yang layak dikenal lebih luas. Semoga dari festival ini, akan lebih banyak lagi “Gadis Kretek” baru,” ujar Teuku Riefky.

 Teuku Riefky Harsya

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat menghadiri Festival Literasi Nasional 2026 yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Foto/Dok. Kemenekraf.

Ia mengatakan, Kementerian Ekonomi Kreatif akan mendorong kolaborasi, membuka akses pasar, serta memperkuat perlindungan dan komersialisasi kekayaan intelektual agar karya kreator Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar internasional.

“Tugas kami memperkuat ekosistemnya, memfasilitasi kolaborasi, membuka akses pasar, serta mendorong perlindungan dan komersialisasi IP atau menjadikan karya jadi uang. Jadi karya anak bangsa dapat menjangkau dunia dan memberikan manfaat ekonomi bagi penciptanya,” tegasnya.

Melalui Literaia, Teuku Riefky berharap semakin banyak cerita Indonesia berkembang dari buku menjadi karya lintas medium, menjangkau audiens global, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan sumber ekonomi baru bagi penulis dan industri kreatif nasional.

Penulis: Tim Media Servis