Menuju konten utama

Mencetak Petani Muda Demi Masa Depan Pangan Indonesia

Regenerasi petani menjadi tantangan global. Di Indonesia, dominasi petani senior dan rendahnya minat anak muda mengancam ketahanan pangan nasional RI.

Mencetak Petani Muda Demi Masa Depan Pangan Indonesia
Petani Muda. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Krisis regenerasi petani muda sedang menyita perhatian di berbagai negara. World Farmers Organisation (WFO) memperkirakan rerata usia kebanyakan petani di dunia kini 60 tahun ke atas. Di Eropa, dari 12 juta petani, hanya 6% yang berusia di bawah 35 tahun. Makin banyak petani memasuki masa pensiun tanpa generasi muda yang siap menjadi penerus.

Tren ini mengancam masa depan produksi pertanian global di tengah peningkatan populasi dunia. PBB memproyeksikan penduduk bumi terus bertambah hingga mencapai 10,3 miliar jiwa pada tahun 2080-an. Manusia makin banyak, demikian pula kebutuhan pangan.

Memasuki tahun 2050, seturut perkiraan dari World Resources Institute (WRI), selisih antara pangan yang bisa diproduksi dengan kebutuhan penduduk dunia akan mencapai 56%. Jika regenerasi petani muda berjalan lambat, ketahanan sistem pangan global akan terancam.

Urusan mencetak petani muda juga menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Sektor pertanian di dalam negeri sedang dibayangi fenomena penuaan petani (aging farmers) yang berisiko menggerus produktivitas pangan nasional bila regenerasi tidak dikebut.

Indonesia pun perlu berpacu dengan waktu karena kebutuhan pangan terus membengkak seiring dengan penambahan populasi. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia mencapai 324 juta jiwa pada 2045, bertambah 54,4 juta dari 2020.

Tantangan Regenerasi Petani Muda di Indonesia

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) tentang kondisi demografi petani Indonesia memperlihatkan besarnya dominasi generasi senior. Padahal, beberapa tahun mendatang sebagian besar petani tua tidak lagi produktif.

Sensus Pertanian 2023 yang dilakukan BPS mencatat jumlah petani di Indonesia mencapai 28.192.693 orang, dengan komposisi yang masih didominasi kelompok usia tua. Generasi X (usia 43–58 tahun) menjadi kelompok terbesar dengan proporsi 42,39%, disusul Baby Boomers (59–77 tahun) sebesar 27,61%. Bahkan, petani dari generasi Pre-Boomer (di atas 78 tahun) masih tercatat sebesar 2,24%, sedikit lebih banyak dibandingkan petani Gen Z (kelahiran 1997–2012) yang hanya 2,14%.

Sebaliknya, proporsi petani muda belum mencapai 30%. Petani milenial, yakni yang berusia 19–39 tahun, tercatat sebanyak 6.183.009 orang atau 21,93% dari total petani. Dari jumlah tersebut, baru 2.603.609 orang yang telah memanfaatkan teknologi digital. Di kelompok usia yang lebih muda, petani berusia di bawah 19 tahun yang menggunakan teknologi digital baru berjumlah 5.612 orang atau 0,02% dari total petani. Menariknya, adopsi teknologi digital juga terjadi di kalangan petani yang lebih tua. Sebanyak 10.595.434 petani berusia di atas 39 tahun, atau 37,58% dari total petani, mengaku telah menggunakan teknologi digital.

Mengingat besarnya jumlah penduduk usia produktif, data itu menggambarkan rendahnya minat anak muda Indonesia untuk menjadi petani. Mengutip hasil survei Jakpat pada 2022, hanya 6 dari 100 Gen Z yang tertarik bekerja di sektor pertanian. Di kalangan Gen Z, melekat stigma pekerjaan petani sebagai profesi tanpa jenjang karier (36,3%), pekerjaan kasar penuh risiko (33,3%), berpenghasilan rendah (20%), dan tak dihargai (14,8%).

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, menilai rendahnya minat anak muda menjadi petani termasuk salah satu tantangan utama dalam pembangunan pertanian nasional.

"Petani masih dianggap sebagai pekerjaan tidak menguntungkan. Kita sangat membutuhkan solusi untuk mengatasi penuaan petani agar sektor pertanian tetap berkelanjutan dengan mengoptimalkan peran pemuda," ujarnya.

Widiastuti menyebutkan sejumlah hambatan lain yang selama ini membuat anak muda tak tertarik bekerja sebagai petani, seperti keterbatasan modal, penurunan kesuburan tanah, akses lahan yang minim, hingga tidak adanya dukungan keluarga. "Tidak sedikit orang tua yang berharap anaknya tidak mengikuti jejak menjadi petani," ujarnya.

Mendukung Anak Muda Agar Mau dan Mampu Bertani

Petani bukanlah sekadar pekerjaan, tetapi juga bisnis yang memiliki peluang ekonomi. Menjadi petani berarti mengelola usaha, mulai dari memilih komoditas, menghitung biaya produksi, membaca pasar, hingga menciptakan nilai tambah dari hasil panen. Belum lagi, peluangnya masih sangat besar.

Laporan Future of Jobs Report 2025 World Economic Forum memprediksi sektor ini membuka 35 juta lapangan kerja tambahan pada 2030, salah satu yang tertinggi. Lonjakan kebutuhan pangan menjadi alasan tingginya permintaan tenaga kerja pertanian.

Dengan besarnya jumlah penduduk usia produktif di Indonesia, generasi muda berpeluang besar ikut berkontribusi mendukung ketahanan pangan. Namun, menjadi petani sukses tidak gampang, butuh lebih dari sekadar kemauan untuk bertani.

Presiden Organisasi Petani Dunia (WFO), Arnold Puech Pays d'Alissac, dalam wawancara yang dirilis WEF menyatakan generasi muda butuh dukungan agar mau dan mampu menjadi petani. Dia menilai pelatihan keterampilan bertani, fasilitas pembiayaan (modal) terjangkau, dan akses terhadap lahan pertanian merupakan tiga kebutuhan utama petani muda saat ini.

Di Indonesia, berbagai langkah sudah dijalankan pemerintah untuk mendorong dan mendukung anak muda terjun ke pertanian. Mengutip penjelasan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Kementan RI menerapkan enam strategi untuk memacu regenerasi petani.

Keenamnya adalah penguatan pendidikan dan pelatihan pertanian lewat program vokasi maupun magang, pengembangan infrastruktur pertanian modern, dan membuka akses terhadap teknologi beserta metode pertanian terbaru yang berkelanjutan.

Selain itu, menyediakan subsidi dan insentif finansial, memperkuat kelembagaan petani melalui pembentukan koperasi dan kelompok tani yang adaptif terhadap perubahan, serta meningkatkan kampanye untuk memperbaiki citra profesi petani.

Berbagai program digulirkan guna mendorong generasi milenial maupun Gen Z menjadi petani muda. Misalnya, program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang berjalan sejak 2019 dan kini dilanjutkan dengan nama YESS-SI (Scaling-Up Intervention). Program kolaborasi Kementan dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) ini menyasar ratusan ribu petani milenial (usia 19-39 tahun) dari 14 kabupaten di Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas petani muda di desa, memfasilitasi akses modal, mencetak wirausahawan baru di sektor pertanian, dan membentuk ekosistem usaha yang kondusif. Selain menggelar pelatihan bertani, program YESS-SI meningkatkan literasi keuangan di kalangan pemuda desa hingga menyediakan hibah kompetitif untuk stimulus bagi wirausahawan muda di bidang pertanian.

Pemerintah pun sedang gencar membentuk Brigade Pangan di berbagai daerah. Sebuah program yang bertujuan menempatkan petani muda di sentra produksi urban farming. Program ini memfasilitasi kolaborasi petani milenial guna menerapkan pertanian modern yang didukung oleh alsintan berbasis teknologi dan fasilitas pemasaran memadai. Setiap unit Brigade Pangan terdiri dari 15 petani muda yang mengelola lahan dengan luas hingga 200 hektare dan bersinergi bareng delapan kelompok tani.

Selain Kementan, sejumlah pemerintah daerah rutin menggelar berbagai program pelatihan petani muda. Misalnya, Pemerintah Kabupaten Semarang membuka Sekolah Petani Milenial dan Pemkab Kebumen punya program Gempita Pangan (Gerakan Mencetak Petani Milenial Tangguh). Adapun Pemprov Banten menggelar pemagangan petani milenial ke Jepang.

Contoh inisiatif lain dilakukan oleh Pemko Padang yang membentuk kelompok petani muda urban farming untuk budidaya melon. Cara ini menarik karena urban farming belakangan makin populer di kalangan anak muda sekaligus bisa menyiasati keterbatasan lahan. BPS mencatat, pada 2023, terdapat 13.019 unit Usaha Pertanian Perorangan urban farming di Indonesia.

Upaya lainnya dilakukan lewat modernisasi penyuluhan pertanian. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sudah mendorong para penyuluh aktif melakukan edukasi tentang berbagai teknik bertani hingga pemasaran melalui ruang digital, terutama media sosial. "Penyuluh pertanian harus hadir di ruang digital untuk mempercepat penyebaran inovasi, memperkuat literasi petani, dan memastikan informasi yang diterima masyarakat adalah informasi yang akurat dan produktif," kata dia.

Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat, Entang Sastraatmadja, melalui artikelnya menyarankan penyuluh pertanian mengenalkan inovasi dan perkembangan teknologi terkini yang dihasilkan oleh para peneliti dari perguruan tinggi. Salah satu tujuannya agar lebih banyak anak muda tertarik menjadi petani karena memperoleh pengetahuan teknik bertani yang tidak konvensional.

Persoalan akses lahan bagi calon petani muda juga mendapat momentum dari pengesahan UU Pengaturan Reforma Agraria pada September 2026. Regulasi ini mengatur penataan dan pengendalian penguasaan serta kepemilikan tanah. Petani, penggarap, dan buruh tani juga termasuk kelompok yang menjadi subjek prioritas. Kerangka hukum ini dapat menjadi bagian penting dalam membuka akses lahan dan menciptakan kepastian bagi generasi muda yang ingin menjadikan pertanian sebagai usaha.

Pertanian Bisa Menjadi Sumber Ekonomi Menjanjikan

Persepsi anak muda tentang potensi ekonomi di sektor pertanian sudah waktunya diubah. Data Sensus Pertanian 2023 mengungkapkan rerata pendapatan petani Indonesia masih sekitar Rp66,82 juta per tahun atau Rp5,57 juta per bulan. Karena ini angka statistik, fakta di lapangan bisa lebih rendah atau sebaliknya, tergantung situasi yang dialami oleh setiap petani.

Meskipun begitu, tidak sedikit petani muda sukses yang sudah membuktikan besarnya potensi ekonomi pertanian. Beberapa waktu lalu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan sekitar 27.000 petani muda sudah mampu meraup pendapatan Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan, jauh di atas rerata pendapatan nasional.

"Mereka berasal dari Merauke, Kalimantan, dan Aceh. Kami memberikan fasilitas dan alat-alat pertanian sebagai hibah untuk mereka. Semoga ini bisa berkelanjutan," ujarnya.

Pengalaman petani muda sukses juga bisa ditemukan di berbagai daerah lain. Petani muda di Sumedang, Jawa Barat, Ridwan (30) baru-baru ini menarik perhatian pemda setempat karena berhasil mengembangkan budidaya labu siam. Kini, ia rutin mengirim setidaknya 10 ton labu siam per hari ke berbagai daerah dengan keuntungan Rp1,5 juta per ton.

Ada juga cerita dari Abdul Hakim Hasim, pemuda 27 tahun asal Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, yang berhasil mengembangkan usaha ternak ayam Joper (Jowo Super) setelah mengikuti pelatihan dan menerima dana hibah kompetitif dari Program YESS. Dengan kandang berkapasitas 800 ekor, ia mampu meraup omzet Rp22,5 juta per siklus panen ayam yang berlangsung sekitar 50 hari.

Regenerasi petani bukan sekadar soal menghadirkan petani yang lebih muda, tetapi memastikan kapasitas produksi pangan Indonesia tetap terjaga. Ketika pertanian modern dipandang sebagai pilihan bisnis yang menjanjikan, generasi muda dapat menjadi motor produksi pangan melalui pemanfaatan teknologi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah. Karena itu, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar sama-sama dapat membuka akses terhadap pengetahuan, teknologi, pembiayaan, dan pasar.

Saatnya menjadikan regenerasi petani sebagai investasi bersama: mendorong lebih banyak anak muda untuk bertani, membangun usaha pangan, dan memastikan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri di masa depan.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis