tirto.id - PT Merdeka Battery Materials Tbk ("Perseroan"; BEI: MBMA) membukukan rekor produksi dan margin bijih nikel pada kuartal ketiga tahun 2026. Capaian ini didukung oleh peningkatan produktivitas penambangan, harga jual bijih yang lebih tinggi, serta manajemen biaya yang disiplin. Perseroan juga mencatatkan kinerja asam sulfat yang lebih kuat di pabrik Acid Iron Metal (AIM) serta kemajuan lebih lanjut di seluruh operasi High-Pressure Acid Leach (HPAL) MBMA, yang semakin memperkuat rantai nilai nikel terintegrasi MBMA.
Produksi bijih nikel dari tambang di Sulawesi mencapai rekor 12,3 juta wet metric tonnes (wmt) sepanjang kuartal tersebut, melonjak 61% baik secara tahunan (year-on-year) maupun kuartalan (quarter-on-quarter). Produksi saprolit melesat 68% secara tahunan menjadi 3,3 juta wmt, sementara produksi limonit meningkat 62% menjadi 9,0 juta wmt, ditopang oleh tingkat utilisasi alat berat yang lebih tinggi, perbaikan kapasitas pengangkutan (hauling), serta produktivitas yang lebih kuat di area-area penambangan utama.
“Kuartal ketiga ini membuktikan ketangguhan dari platform operasi terintegrasi MBMA. Rekor produksi bijih nikel dan margin hulu yang lebih kuat mencerminkan peningkatan yang terus kami lakukan dalam hal produktivitas dan eksekusi operasional, sementara AIM dan aset-aset HPAL kami terus memajukan tahapan integrasi selanjutnya di seluruh nilai rantai pasok. Kami tetap berfokus untuk menjaga disiplin biaya dan keandalan operasi seiring langkah kami untuk terus memacu skala bisnis Perseroan,” ujar Teddy Oetomo, Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk merujuk keterangan resmi pada Senin (2/11/2026).
Pada segmen pemrosesan nikel, keunggulan operasi terintegrasi MBMA terlihat sangat jelas, di mana perolehan margin di sektor hulu mampu mengkompensasi secara penuh penurunan margin pemrosesan. Hal ini didorong oleh harga bijih nikel yang lebih tinggi menyusul revisi kerangka Harga Patokan Mineral (HPM), ditambah dengan peningkatan beban energi dan biaya peleburan, NPI tetap mampu mempertahankan margin tunai (cash margin) yang positif, sementara HGNM mencatatkan margin tunai negatif.
Adapun tekanan pada margin hilir ini terjadi dalam skala yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan ekspansi margin di sektor hulu. Sementara itu, operasi pemrosesan tetap berjalan stabil; produksi NPI meningkat 5% secara kuartalan menjadi 20.553 ton kandungan nikel, sedangkan produksi HGNM naik 3% secara kuartalan menjadi 9.436 ton.
Peningkatan produksi bersamaan dengan menguatnya margin di hulu. Margin tunai (cash margin) saprolit naik 23 kali lipat menjadi US$35,8 per wmt dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Begitu pun dengan margin tunai untuk limonit yang naik 85% you menjadi US$12,0 wmt. Peningkatan ini merefleksikan harga jual aktual yang lebih kuat menyusul adanya perubahan pada kerangka Harga Patokan Mineral (HPM), sejalan dengan disiplin biaya yang berkelanjutan serta perbaikan efisiensi operasional.
Pada segmen pemrosesan nikel, operasi tetap berjalan stabil meskipun terus menghadapi tekanan margin. Produksi NPI (Nickel Pig Iron) meningkat 5% secara kuartalan menjadi 20.553 ton kandungan nikel, sedangkan produksi HGNM (High Grade Nickel Matte) naik 3% secara kuartalan menjadi 9.436 ton.
Harga bijih nikel yang lebih tinggi di bawah kerangka HPM yang direvisi, ditambah dengan beban energi dan biaya peleburan yang meningkat, membebani margin pemrosesan sepanjang kuartal ini. Meskipun NPI berhasil mempertahankan margin tunai positif, HGNM mencatatkan margin tunai negatif sebelum menghitung manfaat lindung nilai (hedge benefits).
Kendati demikian, tekanan pada margin pemrosesan tersebut berhasil dikompensasi secara penuh oleh margin hulu yang jauh lebih kuat yang sekaligus menggarisbawahi keuntungan dari model operasi terintegrasi MBMA.
Pada segmen pemrosesan nikel, operasi tetap berjalan stabil meskipun terus menghadapi tekanan margin. Produksi NPI meningkat 5% secara kuartalan menjadi 20.553 ton kandungan nikel, sedangkan produksi HGNM naik 3% secara kuartalan menjadi 9.436 ton. Harga bijih saprolit yang lebih tinggi menyusul revisi kerangka Harga Patokan Mineral (HPM), ditambah dengan peningkatan beban energi dan biaya peleburan, turut membebani margin pemrosesan sepanjang kuartal ini.
Meskipun NPI tetap mempertahankan margin tunai (cash margin) yang positif, sebaliknya HGNM mencatatkan margin tunai negatif. Kendati demikian, tekanan pada margin pemrosesan tersebut berhasil dikompensasi secara penuh oleh margin hulu yang sekaligus menggarisbawahi keuntungan dari model operasi terintegrasi MBMA.
Sementara itu, fasilitas AIM terus menunjukkan perannya sebagai kontributor yang semakin penting bagi platform hilirisasi MBMA. Produksi asam sulfat mencapai 291.198 ton pada kuartal ketiga, naik 13% dari kuartal sebelumnya, di mana kedua lini pabrik asam sulfat beroperasi secara stabil pada kapasitas terpasangnya (nameplate capacity).
Pendapatan dari asam sulfat juga meningkat 18% secara kuartalan menjadi sekitar US$98 juta, ditopang oleh tren harga yang lebih tinggi serta permintaan yang solid dari fasilitas-fasilitas HPAL di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Di sisi lain, MBMA juga memajukan operasi HPAL-nya selama kuartal ini. PT ESG New Energy Material (PT ESG) berhasil mengoperasikan kedua lini produksinya dan mencapai tingkat utilisasi kapasitas sekitar 96% pada bulan September. Sementara itu, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) telah menyelesaikan tahapan uji coba (commissioning) utama, menerima Izin Usaha Industri (IUI) pada bulan Agustus, dan mulai menerima pasokan bijih nikel perdananya pada akhir September. Adapun produksi perdana mixed hydroxide precipitate (MHP) dari SLNC masih ditargetkan pada tahun 2026.
Perkembangan ini semakin memperkuat integrasi operasi MBMA, yang menghubungkan pasokan limonit dari Konawe dengan pemrosesan HPAL melalui infrastruktur penyiapan pasokan dan bubur bijih (slurry) khusus. Perseroan juga tengah mengevaluasi potensi ekspansi kapasitas asam sulfat AIM untuk mendukung kebutuhan asam sulfat SLNC di masa mendatang, seraya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pirit dari Tambang Tembaga Wetar.
MBMA mempertahankan target panduan operasionalnya untuk tahun 2026 dan akan terus berfokus pada keunggulan operasional hingga pengujung tahun. Sebagai entitas dengan operasi yang terintegrasi, MBMA sukses mencatatkan rekor produksi bijih nikel tertinggi dalam sejarahnya pada kuartal ini, yang terbukti sangat krusial bagi profitabilitas Perseroan secara keseluruhan.
Selain itu, Perseroan senantiasa memantau biaya bahan bakar serta dampak dari kerangka Harga Patokan Mineral (HPM), pasalnya model operasi terintegrasi Perseroan telah membuktikan nilai strategisnya; di tengah fluktuasi harga nikel dan tekanan margin di sektor hilir, operasi Perseroan secara keseluruhan tetap sangat tangguh dalam mencetak margin di berbagai segmen rantai nilai.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































