Syarif Abdul Hamid Alkadrie

Perancang Lambang Negara Republik Indonesia
LahirPontianak, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia, 12 Juli 1913
ProfesiPerancang Lambang Negara Republik Indonesia
Karier
  • Perancang Lambang Negara Republik Indonesia
Pendidikan
  • Europeesche Lagere School
  • Hoogere Burgerschool
  • Technische Hoogeschool Te Bandoeng
  • Koninkklije Militaire Academia

Sultan Hamid II lahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak ke-6 Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Ia adalah perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab Indonesia.

Sultan Hamid II dibesarkan di lingkungan Kesultanan Kadariah yang terletak di kelurahan dalam Bugis, kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak. Sultan Syarif Muhamad Alkadrie memiliki 10 orang istri dan dikaruniai 13 orang putra.

Saat remaja ia menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta dan Bandung. ELS adalah singkatan dari Europeesche Lagere School yang setara dengan tingkatan Sekolah Dasar. Karena Sultan Hamid adalah anak dari Suktan Pontianak, jadi dia boleh menuntut ilmu di ELS. Karena hanya orang Belanda, Eropa dan elit pribumi yang boleh sekolah di ELS.

Setelah menuntut ilmu di ELS, dia melanjutkan sekolahnya di HBS (Hoogere Burgerschool) atau pendidikan menengah umum pada zaman pendudukan Belanda yang juga dikhususkan bagi orang Belanda dan bahasa pengantar di HBS menggunakan bahasa Belanda.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di HBS ia melanjutkan pendidikannya di Bandung, tepatnya di THB (Technische Hoogeschool Te Bandoeng) atau yang sekarang kita kenal dengan ITB (Institut Teknologi Bandung). Namun sayangnya hanya berjalan satu tahun dan tidak sampai selesai. Selanjutnya ia pergi ke Breda, Belanda untuk belajar militer di KMA (Koninkklije Militaire Academia).

Setelah lulus dari KMA ia diangkat menjadi Kesatuan Tentara Hindia Belanda. Pada tahun 1983 dia berpangkat letnan dua dan dalam karier kemiliterannya pernah bertugas di Malang, Bandung, Balikpapan, dan beberapa tempat lainnya di pulau Jawa. Pada tahun 1939 ia diangkat menjadi Letnan satu dan pada saat perang dunia dimulai tahun 1941, ia ikut bertempur melawan Jepang di Balikpapan.

Saat Sultan Hamid II menjabat sebagai Menteri negara Zonder Portofolio dan selama jabatan menteri negara itu pula dia ditugaskan Presiden Soekarno untuk merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Pada 8 februari 1950 rancangan final lambang negara yang dibuat oleh Menteri Negara RIS diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tanda tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Setetah melalui berbagai perubahan serta mendapat masukan dari berbagai pihak terkait, penyempurnaan lambang negara terus diupayakan. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara telah diperbaiki dan mendapat disposisi oleh Presiden Soekarno dan dipakai hingga saat ini.