Japto Soelistyo Soerjosoemarno

Ketua Pemuda Pancasila
LahirSurakarta, NaN undefined NaN
ProfesiKetua Pemuda Pancasila
Karier
  • Ketua Pemuda Pancasila

Japto Soelistyo Soerjosoemarno tumbuh remaja di arus zaman 1970an, saat itu anak muda ibukota gandrung akan kebebasan setelah lima tahun sebelumnya terbelenggu oleh aturan anti musik ngak-ngik-ngok dan neoliberalisme. Era itu juga menandai berkuasanya secara penuh kekuasaan Orde Baru. Usia Japto ketika itu 21 tahun. Ia adalah anak gaul di zamannya. Seperti pemuda-pemuda lain, di lingkungannya di kompleks Siliwangi, Japto dan bersama kawan-kawannya mendirikan sebuah geng bernama Siliwangi Boys Club, kadang ada juga yang menyebut Siliwangi Boys Communitty (SBC) atau biasa dipersingkat lagi menjadi SC.

Kompleks Siliwangi adalah komplek perumahan para prajurit Angkatan Darat (AD) di Jakarta Pusat. Di geng SC ini pula, masing-masing anggotanya mempunyai gelombang radio handie talkie. Mereka juga memiliki kebiasaan merokok Dji Sam Soe, nama bilangan Tionghoa yang bila dilatinkan menjadi 234. Belakangan geng ini disebut sebagai geng 234−SC.

Di lingkungan geng SC, Japto sering dipanggil si “Bule”. Pasalnya ia memang berwajah mirip bule. Darah Belanda memang mengalir pada diri Japto. Ibunya Dolly Zegerius, seorang wanita Yahudi Belanda, ahli topografi dan geodesi. Bapaknya Mayor Jenderal Kanjeng Pangeran Haryo Soetarjo Soerjosoemarno, seorang jenderal keturunan Mangkunegaran Solo.

Japto disegani? Kabarnya, di lingkungan 234 SC Japto adalah satu-satunya anggota geng yang bapaknya berpangkat jenderal. Sedangkan teman-teman Japto di 234 SC adalah anak prajurit dan perwira menengah Angkatan Darat.  Kabar lainnya menyebut Japto adalah jagoan. Sebutan prestisius di lingkungan geng ini disandang Japto tatkala ia mengaku sebagai pembunuh salah satu pemuda dalam tawuran antar remaja, padahal ketika itu si pembunuh adalah teman lain di 234 SC. Karena itu namanya naik di lingkungan geng maupun di mata lawan-lawannya.

Adalah Loren Ryter seorang pengajar dan peneliti di Centre for Southeast Asian Studies, Universitas Michigan, USA, menyebut bahwa geng-geng di ibukota terkadang dimanfaatkan oleh para intelijen tentara. Salah satunya adalah Jenderal Ali Moertopo, wakil kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara saat itu yang sering menggunakan jasa-jasa geng di ibukota untuk operasi tertentu. Kedekatan anggota geng dan tentara dalam kekuasaan Orde Baru kemungkinan besar dimulai dari sini.

Belakangan pada 1980an Panglima Kodam Jakarta Raya, Jenderal Try Sutrisno membubarkan geng-geng di ibukota. Kabarnya, menurut Loren Ryter, Try Sutrisno tidak suka dengan keberadaan geng-geng yang berlindung di ketiak tentara. Menurut Try, mereka dituding sebagai biang dari beberapa kerususuhan di Ibukota. Lalu kemana Japto berlabuh?

Pada Musyawarah Besar Pemuda Pancasila (PP) III di Cibubur tahun 1981, Japto terpilih sebagai Ketua—organisi yang menjadikannya sebagai tokoh hingga kini. Pemuda Pancasila adalah organisasi kepemudaan yang berdiri pada 28 Oktober 1959. Organisasi ini didirikan mantan komandan militer legendaris Abdul Haris Nasution, dengan tujuan tunggal menghadapi ancaman komunis atau sebagai lawan tanding dari Pemuda Rakyat yang dibentuk Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasca Peristiwa 30 September 1965 organisasi ini terlibat aktif dalam penumpasan anggota PKI. Belakangan ketika rezim Soeharto menguasai Indonsia, PP menjadi underbow Partai Golongan Karya (Golkar). PP digunakan untuk memobilisasi dukungan di kalangan pemuda terhadap Golkar selama pemilihan umum yang diselenggarakan Orde Baru.

Dari sini Japto semakin dekat dengan tokoh-tokoh kunci Orde Baru sekaligus bisa merangkul para “jagoan” di seluruh Indonesia, salah satunya para gangster Medan. Ia bahkan semakin merekatkan hubungan dengan keluarga Cendana, terutama ibu Tien Soehato dan anak-anaknya. Japto masih berkerabat dengan Tien Soeharto dari garis keturunan Mangkunegaran Solo.

Selama kekuasaan Orde Baru, PP—Golkar—intelijen tentara selalu beriringan. Bagi Golkar, Pemuda Pancasila adalah organisasi yang bergerak langsung di lapangan. Bagi intelijen orde baru, organisasi ini dipakai untuk “membersihkan tangan” rezim dalam setiap kekerasan. Salah satunya ketika terjadi insiden kerusuhan 27 Juli 1996, di kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia. Publik menduga PP terlibat dalam kerusuhan tersebut.

Namun bersamaan dengan lengsernya Soeharto pada tahun 1998, Pemuda Pancasila kehilangan pengaruhnya untuk sementara waktu. Gonjang-ganjing politik dan posisi Golkar yang sedang tidak menguntungkan ketika itu memungkinkan PP untuk mencari labuhan lain. Oleh karena itu, bertepatan dengan hari kelahiran Pancasila, pada 1 Juni 2001 Pada Japto mendirikan Partai Patriot Pancasila. Partai berlambang burung garuda dengan sayap merah, hijau, dan kuning, berperisai merah-putih, berlambang sila-sila Pancasila ini mengikuti pemilu 2004. Tapi belakangan Partai Patriot Pancasila gagal memperoleh kursi di DPR, tidak juga lolos electoral threshold. Bahkan pada pemilu 2009 ketika Partai Patriot Pancasila berubah nama menjadi Partai Patriot, partai pimpinan Japto ini pun masih gagal, meski Japto mengaku keanggotaan PP mencapai 4 juta anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tapi kegagalan Japto membuat partai bukan akhir dari cerita. Ia tetap memiliki pengaruh dan berjejaring dengan petinggi negara, tentara, tokoh bisnis, dan tentu saja keluarga Cendana. Pada 2010 ketika terjadi kasus status kepemilikan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Siti Hardiyati Roekmana alias Mba Tutut, anak Soeharto, menunjuk Japto sebagai Direktur Utama TPI. Harapan Tutut, Japto bisa menyelesaikan kasus ini. Namun belakangan TPI pun lepas dari tangan Tutut dan beralih ke Harry Tanoe.

Selang 3 tahun kabar itu beralihnya TPI ke tangan pemilik MNC Groups, publik dikejutkan dengan ancaman bom di rumah Japto. Bersamaan dengan itu pakem bom buku juga terjadi di Komunitas Utan Kayu, kantor BNN Cawang, rumah Ahmad Dhani Pondok Indah, dan rumah Ulil Abshar Abdala, ketua Jaringan Islam Liberal. Belakangan beredar kabar Japto dijadikan sasaran terror karena ia jadi salah satu simbol keturunan Yahudi di Indonesia—hal yang sama juga berlaku pada Ahmad Dhani. Namun, sebagaimana diketahui, ledakan bom tak melukai sedikit pun Japto.

Nyatanya hingga 8 November 2014 lalu dalam Musyawarah Besar PP, Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila Japto S. Soerjosemarno terpilih kembali secara aklamasi untuk memimpin PP selama lima tahun ke depan (2014-2019). Sampai 2019 hampir 4 dekade Japto memimpin organisasi ini, melebihi kekuasaan Soeharto memimpin Indonesia di usianya yang menginjak 66 tahun.

Meski sudah menua, darah muda masih mengalir dalam tubuh Japto. Ia masih kerap memuaskan hobinya berburu, bahkan hingga Afrika. Koleksi binatang hasil buruannya terpajang di rumahnya. Terkadang juga masih main golf bersama kolega-koleganya seperti yang terkodumentasikan oleh Joshua   Oppenheimer dalam “The Act of Killing''.