Menuju konten utama

Lapor ke Prabowo, Suahasil Beberkan Kondisi Ekonomi Terkini

Menkeu Suahasil Nazara laporkan kondisi ekonomi terkini ke Presiden Prabowo. Inflasi terkendali di 3,23%, aktivitas manufaktur RI meroket.

Lapor ke Prabowo, Suahasil Beberkan Kondisi Ekonomi Terkini
Menteri Keuangan Suahasil Nazara bersiap memberikan keterangan pers terkait pelunasan utang obligasi BLBI usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/9/2026). Pemerintah telah melunaskan utang obligasi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) senilai Rp218,3 triliun kepada Bank Indonesia (BI) yang diterbitkan dalam rangka penanganan krisis keuangan tahun 1997-1998, namun tidak menghapus hak negara untuk menagih kewajiban para obligor maupun debitur BLBI. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Suahasil Nazara, mengaku baru saja melaporkan kondisi perekonomian terkini kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam laporannya, Suahasil menyebut bahwa inflasi Indonesia pada Oktober 2026 yang sebesar 3,23 persen secara tahunan (year on year/yoy) sesuai target karena masih berada dalam rentang sasaran inflasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI), yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.

“Itu di dalam range yang memang menjadi sasaran target dari inflasi Indonesia, jadi ini on track inflasinya,” kata dia kepada awak media, usai rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).

Selain laju inflasi, Suahasil juga melaporkan peningkatan aktivitas manufaktur nasional yang tercermin dari Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang naik dari 52,4 pada September menjadi 54,0 di Oktober.

Menurutnya, angka PMI di atas 50 menunjukkan bahwa sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi. Kondisi tersebut mencerminkan pula optimisme pelaku usaha terhadap prospek permintaan yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan pembelian bahan baku dan barang input untuk mendukung peningkatan produksi.

“Ini menunjukkan bahwa para pengusaha kita membayangkan bahwa akan ada peningkatan permintaan. Karena itu, pengusaha mulai siap-siap untuk meningkatkan produksi dengan membeli [barang] input lebih banyak,” lanjut Suahasil.

Arus Modal Asing dan Alarm Harga Minyak Dunia

Dari sisi aliran modal, Suahasil menyampaikan bahwa Indonesia masih mencatatkan arus modal masuk (capital inflow), terutama melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Secara keseluruhan, arus modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai sekitar Rp126 triliun sepanjang Januari hingga akhir Oktober 2026.

Sayangnya, pasar saham domestik masih mengalami arus modal keluar (capital outflow). Kendati tidak menjelaskan berapa arus modal keluar yang disebabkan oleh pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan, pemerintah berharap kondisi pasar saham dapat segera membaik sehingga kembali menarik minat investor asing.

"Namun yang lebih penting adalah sebenarnya foreign direct investment, jadi investasi di proyek-proyek yang sifatnya langsung, investasi langsung di Indonesia," jelasnya.

Di sisi lain, Suahasil menyoroti kenaikan imbal hasil (yield) SBN yang dipengaruhi perkembangan eksternal, terutama kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, harga minyak yang sempat menyentuh level 113 dolar Amerika Serikat (AS) hingga 114 dolar AS per barel, telah berhasil mengerek imbal hasil SBN akhir-akhir ini.

Perkembangan tersebut lah yang perlu diwaspadai karena berpotensi memberikan tekanan terhadap APBN. Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengelola anggaran negara.

“Meskipun dalam beberapa hari ini agak agak turun ya, tapi pernah 113 dolar bahkan 114 dolar [AS] dan ini memberikan kita ke ... harus melakukan kesiapsiagaan untuk APBN-nya, ya,” lanjutnya.

Target Akhir Tahun: Kejar Pendapatan, Efisiensikan Belanja

Terkait pelaksanaan APBN, Suahasil melaporkan bahwa realisasi pendapatan dan belanja negara hingga akhir Oktober masih sesuai dengan rencana pemerintah. Meski begitu, pemerintah masih perlu mengumpulkan penerimaan negara lebih dari Rp600 triliun pada November-Desember 2026. Sementara itu, belanja negara yang masih harus direalisasikan dalam dua bulan terakhir mencapai sekitar Rp990 triliun.

Suahasil mengatakan, Presiden Prabowo memberikan arahan agar kementerian dan lembaga (K/L) tetap menjaga efisiensi belanja meskipun realisasi anggaran biasanya meningkat menjelang penutupan tahun. Namun, percepatan belanja pada akhir tahun anggaran harus dilakukan dengan efisien dan sesuai target keluaran (output) yang telah ditetapkan ketika anggaran diajukan.

"Pendapatannya tetap kita cari, pendapatan negara, tapi belanjanya terus kita efisiensikan," tegasnya.

Baca juga artikel terkait PEREKONOMIAN INDONESIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah