tirto.id - Jakarta Film Week 2026 resmi dibuka pada 21 Oktober 2026 dan akan berlangsung hingga 25 Oktober 2026 dengan menghadirkan 157 film dari 59 negara.
Memasuki penyelenggaraannya yang keenam, festival film internasional yang mengusung tema "Encounters" ini juga mengadakan sejumlah program untuk mempertemukan sineas, penonton, dan pelaku industri film Indonesia maupun internasional.
Selama lima hari penyelenggaraan, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan pemutaran film, diskusi, serta program pengembangan industri perfilman. Festival ini juga menjadi ruang bagi sineas untuk memperluas jaringan dan membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri.
Festival Director Jakarta Film Week 2026, Rina Damayanti, mengatakan perhelatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pemutaran film, tapi juga tempat untuk mempertemukan pelaku perfilman, menemukan talenta baru, dan memperkuat ekosistem film Indonesia.
“Enam tahun perjalanan Jakarta Film Week mengajarkan kami bahwa festival ini bukan hanya soal menayangkan film, tapi juga mempertemukan orang-orang di baliknya, mencari talenta baru, dan memperkuat ekosistem perfilman di Indonesia. [Tema] Encounters adalah perwujudan dari titik temu itu,” kata Rina dalam siaran resmi Jakarta Film Week 2026.
Sebelum festival utama berlangsung, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan program pra-festival JFW360 yang mengeksplorasi cara baru menikmati film melalui kegiatan pemutaran maupun nonpemutaran. Program ini menghubungkan film dengan berbagai bidang, seperti seni, sains, teknologi, dan komunitas.
Melalui kolaborasi dengan Vidio, JFW360 menghadirkan 24 film pendek yang dapat ditonton secara daring. Program tersebut menjadi salah satu upaya festival untuk memperluas akses penonton terhadap karya sinema.
Rina mengatakan JFW360 dirancang guna menjangkau lebih banyak orang melalui kegiatan yang berlangsung di berbagai ruang publik.
“JFW360 hadir untuk membawa Jakarta Film Week ke lebih banyak ruang putar dan ruang publik. Melalui kolaborasi yang lebih eksploratif, kami ingin menghadirkan pengalaman seputar film yang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang sekaligus mendukung visi Jakarta sebagai Kota Sinema,” ujarnya.
Dari sisi program film, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan karya sinema Indonesia dan internasional. Ah Girl (2026), karya sutradara Ang Geck Geck dari Singapura, dipilih sebagai film pembuka. Sementara itu, The Sea Speaks His Name (2026), garapan sutradara Yosep Anggi Noen, menjadi film penutup sekaligus menjalani pemutaran perdananya di Indonesia.
Sejumlah film Indonesia juga dijadwalkan menjalani pemutaran perdana melalui festival ini. Di antaranya Togel (2026) karya Yogi S. Calam dan Harga Teman (2026) besutan Andrew Kose dalam program Direction Award. Adapun Four Seasons in Java (2026) karya Kamila Andini masuk dalam program Global Feature Official Selection.
Program Manager Jakarta Film Week 2026, Novi Hanabi, mengatakan program film tahun ini dirancang untuk menghadirkan keberagaman karya sekaligus mengangkat isu yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
"Program film tahun ini kami susun untuk eksplorasi keberagaman, melalui film-film yang diantisipasi penonton hingga premiere film Indonesia dengan isu-isu yang relevan dengan kehidupan kita hari ini," kata dia.
"Untuk pertama kalinya juga kita akan menyaksikan delapan film pendek berlatar Jakarta lewat Jakarta Film Fund, sebuah capaian baru bagi kami untuk memfasilitasi talenta baru dari pembuat film di Jakarta," tambahnya.
Selain program pemutaran, Jakarta Film Week kembali menghadirkan JFWNET—Industry Program sebagai ruang pengembangan sineas dan pelaku industri film. Program ini mencakup Producers Lab, Pitching Forum, Talents Hub, Industry Talk, dan Festival Meeting untuk memperluas pengetahuan, jejaring, serta peluang kolaborasi bagi para peserta.
Pada edisi tahun ini, JFWNET menghadirkan aktor, sutradara, produser, serta koreografer laga asal Hong Kong, Sammo Hung, dalam kelas master bertajuk Encounters of the Martial Mind: A Masterclass with Sammo Hung. Sang legenda film laga Cina itu akan membagikan pengalaman dan perjalanan kreatifnya dalam dunia sinema aksi.
Head of Industry Jakarta Film Week 2026, Gayatri Nadya, mengatakan JFWNET—Industry Program berupaya membuka kesempatan bagi sineas muda untuk mengembangkan proyek dan terhubung dengan mitra industri internasional.
“JFWNET–Industry Program berupaya membuka pintu bagi para sineas muda, menjadi tempat mereka bisa bertumbuh, terhubung dengan mitra internasional, dan melangkah lebih jauh, seperti yang sudah dibuktikan oleh alumni-alumni kami. Setiap tahun, ekosistem ini terus meluas dan menyambut wajah-wajah baru,” ungkap Gayatri.
Jakarta Film Week 2026 juga menghadirkan program yang menyasar penonton film lintas generasi. Program Emergency Broadcast dan Herstory mengajak penonton membahas isu terkini melalui perspektif sinema. Sementara itu, Family Time menghadirkan tontonan ramah keluarga dengan pengalaman yang interaktif.
Festival Ambassador Jakarta Film Week 2026, Ali Fikry, mengajak masyarakat menikmati berbagai program yang tersedia sesuai dengan minat masing-masing.
“Apa pun yang kamu cari di sebuah festival film, mulai dari isu yang ingin didiskusikan, tren sinema terbaru, atau tontonan yang bisa dinikmati bersama keluarga, semuanya ada di Jakarta Film Week. Aku mengajak semua orang untuk datang dan menikmati keseluruhan festival ini sesuai dengan apa yang mereka cari. Terutama untuk teman-teman yang seumuran aku, kita bisa menikmati festival film bersama-sama,” kata Ali.
Jakarta Film Week 2026 diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Jakarta Film Commission, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan.
Festival berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di sejumlah lokasi di Jakarta, termasuk CGV Grand Indonesia, CGV FX Sudirman, Galeri Indonesia Kaya, Mercure Jakarta Cikini, dan Taman Ismail Marzuki.
Editor: Addi M Idhom
Masuk tirto.id

































