tirto.id - Penyelenggaraan Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2026 mendapat sambutan hangat dari banyak gamer dan pengembang gim lokal maupun luar negeri. Ajang ini digelar dalam rangkaian kegiatan Bali Tech Week (BTW) 2026 di Bali Beach Convention, Denpasar, pada 19-23 Oktober 2026.
Mengusung tajuk "Archipelago Ascending: Advance Together, Innovate, Further," BTW 2026 menghadirkan para investor, pengembang teknologi, regulator, hingga seniman digital dari berbagai negara.
Sigit Naufal (29), developer dari studio Holy Tower Games yang baru saja mengembangkan gim Project Q: Summon, Fuse, Survive, mengaku terkesan bisa mengikuti IGDX 2026.
"Acara ini, kalau dibilang bagus, ya sangat bagus. Soalnya, salah satu yang memang dilihat dari game developer kan juga meet to match-nya. Jadi para game developer yang mau cari networking untuk publishing, dan lain-lainnya itu sangat di-provide dari acara ini," kata dia saat ditemui pada Kamis (22/10/2026).
Apalagi, lanjutnya, peserta IDGX 2026 tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga banyak negara lain. "Buat [dukung] kerja sama dengan publisher dan lain-lain yang networking-nya juga internasional," ujar Sigit.
Peluang Bagi Developer Lokal Perkenalkan Gim Baru
Sigit mengembangkan gim Project Q bersama tiga rekannya dari Holy Tower Games selama 11 bulan. Mereka mengambil inspirasi dari berbagai gim rilisan studio lokal dan luar negeri.
Gim baru itu kemudian diperkenalkan di IDGX 2026. Sigit mengaku tak menyangka banyak pengujung tertarik memainkan Project Q.
Berbagai kritik ataupun masukan yang datang dari pemain pun membuat Sigit dan timnya makin termotivasi untuk memperkuat karakter permainan survival dengan beberapa level kesulitan itu.
"Overall, sangat-sangat bersyukur dengan respons player yang hadir di sini," kata dia.
"Tujuan utama [sebagai] game developer, kami ingin cari feedback buat game kita sebelum rilis. Jadi alhamdulillah, banyak player-player kasih feedback yang benar-benar kita cari dan membangun dari acara ini," jelasnya.

Lulusan Desain Komunikasi Visual dari Presiden University itu menilai ajang seperti IDGX memberikan kesempatan bagi pengembang lokal seperti timnya memamerkan produk ke kalangan pengguna lebih luas, termasuk dari luar negeri. Ia pun berharap ke depan makin banyak gim produksi Indonesia yang mampu mendunia.
"Jadi pas publish juga inginnya gak cuma orang-orang Indonesia yang bisa merasakan, tapi global juga merasakan. Terus juga semoga bisa bawa nama baik game Indonesia," ujarnya.
Salah satu pengunjung IDGX, Fauzan, mengaku menikmati permainan Project Q. Pemuda 21 tahun asal Surabaya itu sempat memainkan gim itu selama 15 menit.
"Cukup seru karena musuhnya makin lama semakin sulit. Per level, itu semakin banyak ada variasi musuhnya. Jadi harus pinter-pinter yang mana perlu di-update," terangnya.
Ajang Bertukar Pengetahuan dan Mencari Mitra
Penilaian positif terhadap IDGX 2026 juga disampaikan oleh Alfred Jhonatan (22), seorang developer yang tergabung dalam tim pengembang gim asal Jakarta, TBA Studio.
Dia mengatakan ada sejumlah manfaat yang bisa diperoleh developer game lokal dari ajang tersebut.
"Pertama jelas networking baik dari sisi profesional ketemu dengan expert, dapat ilmu dan segala macam. Juga jadi ajang kita kumpul bersama-sama dengan komunitas-komunitas gamer di Indonesia. Jadi bisa saling sharing, dapatkan feedback berkualitas, referensi dari game lain," kata Alfred.
"Manfaat kedua, karena ini jadi ajang kita bisa diliput media, bisa ketemu dengan potensial partner untuk publishing dan lain sebagainya," tambahnya.

Ia berharap IDGX bisa diadakan setiap tahun dan terus berkembang. Dengan begitu makin banyak pengembang gim lama maupun baru dapat saling bertukar wawasan dan bersama-sama membangun jejaring global.
Alfred bersama timnya turut memperkenalkan gim baru buatan mereka, Type Caster. Gim pertarungan-survival tersebut menarik minat banyak player yang hadir di IDGX. Sebagian dari player bahkan rela antre untuk menjajal gim tersebut.
Gim Bernuansa Budaya Lokal Curi Perhatian
Tim developer asal Depok, Jawa Barat, yang terdiri dari Fakhrana, Nayla, Husna, Aisy, dan Jehan berhasil mencuri perhatian di IGDX 2026 lewat gim Sora Petualangan Aksara.
Mereka mengembangkan gim itu untuk pengguna berusia 7-10 tahun serta memasukkan unsur budaya lokal, yakni aksara Sunda. Tim yang tergabung dalam Senarai Introver itu menggarap gim Sora selama sekitar empat bulan.

Menurut Fakhrana, gim Sora terinspirasi dari salah satu Google Game yaitu Halloween, yang kemudian dikembangkan lagi termasuk dengan memasukkan unsur budaya Jawa Barat.
"Kalau konteks game-nya itu kan menulis aksara untuk mengalahkan musuh tertentu. Nah dari kesulitannya, setiap orang cara menulis aksaranya kan berbeda-beda. Jadi ada yang kesulitan, ada yang mudah," ujar Fakhrana yang berperan sebagai programmer.
Dia mengatakan gim buatan timnya bisa tampil di IGDX 2026 setelah melewati seleksi yang cukup ketat. Karena itu, ia pun merasa senang bisa ambil bagian dalam ajang ini, apalagi timnya bisa menampilkan gim baru buatan mereka di hadapan banyak player maupun calon investor dan publisher.
"Kami harap bisa mendapat koneksi lebih [banyak] dari acara ini, karena bisa mengenalkan [gim Sora] ke investor, publisher. Terus biar game-nya juga dikenal banyak orang," ujarnya.
Penulis: Ahmad Firizqi Irwan
Editor: Addi M Idhom
Masuk tirto.id

































