Menuju konten utama

Dorong Transisi Energi, Stafsus Wapres Kunjungi PLTP Kamojang

Dalam kunjungannya, Tina memperoleh penjelasan mengenai proses pengeboran, pemanfaatan uap panas, hingga pengelolaan air dalam operasional PLTP.

Dorong Transisi Energi, Stafsus Wapres Kunjungi PLTP Kamojang
Staf Khusus Bidang Hubungan Daerah Kementerian Investasi/BKPM Tina Talisa di Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/7/2022). (ANTARA/Ade Irma Junida)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Staf Khusus Wakil Presiden (Stafsus Wapres), Tina Talisa, menyoroti aspek keamanan dan keberlanjutan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia. Hal itu disampaikan melalui kunjungannya ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat, untuk melihat langsung proses produksi listrik berbasis energi panas bumi atau geothermal.

“Menarik untuk memahami bagaimana kekayaan geologi Indonesia dapat menjadi sumber energi yang lebih bersih, dapat diandalkan, dan berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan listrik nasional serta transisi energi,” ujar Tina dikutip dari akun Instagram pribadinya @tina_talisa, Rabu (14/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Tina yang juga merupakan Komisaris Pertamina Patra Niaga memperoleh penjelasan mengenai proses pengeboran, pemanfaatan uap panas, hingga pengelolaan air dalam operasional PLTP. Penjelasan itu memberikan gambaran mengenai perbedaan fluida yang berada di reservoir panas bumi dengan air tanah yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

“Jadi sederhananya yang harus dipahami itu bahwa air yang ada di dalam bumi (reservoir panas bumi) itu berbeda dengan air yang dipakai sehari-hari oleh rumah tangga, gitu ya?” kata Tina yang merupakan Mojang Jawa Barat 2002.

Manager Laboratory Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Teza Permana, menjelaskan bumi memiliki empat lapisan utama, yakni kerak bumi, mantel, inti luar, dan inti dalam. Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik memiliki aktivitas vulkanik tinggi sehingga panas dari magma dapat memanaskan batuan di kerak bumi. Panas tersebut kemudian memanaskan fluida yang berada di celah dan pori-pori batuan hingga membentuk sistem reservoir panas bumi.

Menurut Teza, pengeboran panas bumi yang dilakukan untuk menjangkau reservoir, berada pada kedalaman sekitar 2.000 meter atau dua kilometer di bawah permukaan. Kedalaman tersebut masih berada di lapisan kerak bumi, jauh dari inti bumi yang terletak ribuan kilometer di bawah permukaan. “Itulah yang menjadi target pengeboran kita di reservoir panas bumi. Sebetulnya yang kita bicarakan adalah bagian kulit luarnya saja,” ujar Teza.

Ia menerangkan air yang dimanfaatkan masyarakat umumnya berasal dari akuifer dangkal yang mendapat pasokan dari air permukaan. Sementara itu, fluida panas bumi berada pada sistem reservoir yang lebih dalam dan memiliki karakteristik temperatur serta tekanan berbeda. Perbedaan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam memahami pengelolaan sumber daya air pada kegiatan panas bumi.

Selain kedalaman pengeboran, Teza menjelaskan mekanisme pemanfaatan dan pengembalian fluida dalam operasional PLTP. Uap panas yang diperoleh dari reservoir dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik, sedangkan air hasil proses produksi dikembalikan ke bawah permukaan melalui sumur injeksi.

“Yang kita manfaatkan itu adalah steam-nya. Steam-nya itu akan kita gunakan untuk memutar turbin. Turbin berputar akan menghasilkan listrik yang kita distribusikan kepada masyarakat,” jelas Teza.

Teza mengatakan sumur produksi dan sumur injeksi ditempatkan pada titik berbeda untuk menjaga kondisi reservoir. Hal ini diperlukan karena fluida yang diinjeksikan kembali memiliki temperatur lebih rendah dibandingkan fluida dari sumur produksi. Pengaturan injeksi bertujuan mencegah fluida bertemperatur lebih rendah mencapai sumur produksi terlalu cepat sehingga dapat memengaruhi entalpi atau kandungan energi fluida panas bumi.

“Karena temperatur di sumur injeksi itu sedikit lebih rendah dibandingkan sumur produksi,” katanya.

Entalpi merupakan besaran termodinamika yang menggambarkan kandungan energi suatu fluida. Dalam sistem panas bumi, penurunan entalpi fluida produksi dapat mengindikasikan berkurangnya energi panas yang tersedia untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu, pengaturan lokasi dan laju injeksi menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas reservoir serta keberlanjutan pasokan energi panas bumi.

Mekanisme reinjeksi tersebut juga menunjukkan bahwa pengelolaan fluida merupakan bagian dari sistem produksi panas bumi. Air yang dikembalikan ke reservoir berasal dari proses produksi, bukan berarti PLTP harus mengambil air dari akuifer dangkal yang digunakan masyarakat. Kendati demikian, perlindungan sumber air tetap memerlukan pengelolaan sumur dan pemantauan lingkungan secara berkala.

PLTP Kamojang sendiri merupakan pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia yang telah beroperasi secara komersial sejak 1983. Dalam keterangan terpisah, Tina yang juga finalis Putri Indonesia 2003 ini menjelaskan bahwa sejarah pengembangan panas bumi Kamojang bahkan telah dimulai sejak 1926, ketika Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengeboran eksplorasi di kawasan tersebut.

“Perjalanan panas bumi Kamojang dimulai tepat 100 tahun lalu. Di tahun 1926 Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengeboran eksplorasi di kawasan ini. Salah satunya adalah sumur KMJ-3 yang dibor hanya sekitar 60 meter. Menariknya, hingga hari ini masih mengeluarkan uap panas bumi,” ucap eks presenter TV yang pernah meraih penghargaan Panasonic Gobel Award 2012 ini.

Setelah melalui pengembangan selama puluhan tahun, Kamojang mulai menghasilkan listrik sebesar 0,25 megawatt (MW) pada 1978. Lima tahun kemudian, PLTP Kamojang Unit 1 berkapasitas 30 MW mulai beroperasi. Kini, kawasan tersebut memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang mencapai 235 MW. Indonesia sendiri memiliki potensi sekitar 23,2 gigawatt (GW), sementara kapasitas terpasang yang telah dimanfaatkan baru sekitar 2,78 GW. Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang pengembangan panas bumi untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Baca juga artikel terkait TRANSISI

tirto.id - Sosial Budaya
Sumber: Antara
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama