Menuju konten utama

Desain Chip, Langkah Awal RI Masuk Industri Semikonduktor Global

Indonesia menjadikan desain chip sebagai pintu awal untuk mengambil peran dalam industri semikonduktor global. Upaya ini dirintis sejak era Menperin AGK.

Desain Chip, Langkah Awal RI Masuk Industri Semikonduktor Global
Ilustrasi Chip. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC), Trio Adiono, menilai desain chip merupakan titik awal strategis bagi Indonesia untuk memasuki rantai pasok semikonduktor global. Kemampuan merancang chip dapat menjadi salah satu cara memperkuat daya tawar Indonesia di sektor industri ini.

Dia pun optimistis, dengan dukungan riset dan pendidikan yang konsisten, Indonesia dapat berperan sebagai produsen pengetahuan sekaligus penyuplai talenta pendukung industri semikonduktor, bukan hanya sekadar pasar.

Di tengah industri global yang kian terdigitalisasi, teknologi semikonduktor (chip) termasuk aset strategis yang dapat memengaruhi kekuatan ekonomi, dan bahkan posisi suatu negara dalam persaingan geopolitik global. Teknologi ini berperan sebagai penopang utama banyak industri strategis, seperti pertahanan, otomotif, dirgantara, telekomunikasi, energi, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).

Nilai strategis teknologi ini terlihat saat kelangkaan chip global menekan sektor manufaktur. Perusahaan riset pasar global, International Data Corporation (IDC), merilis data pada awal Oktober 2026 yang menunjukkan pengiriman komputer pribadi di dunia pada triwulan III 2026 turun 20,1% dibanding periode yang sama di tahun 2025. Counterpoint Research pun mencatat pengiriman ponsel pintar turun 20%, dan menjadi capaian triwulan ketiga yang terendah sejak 2012.

Penurunan itu terjadi karena sebagian pasokan chip terserap untuk memenuhi kebutuhan industri data center AI. Produsen chip memprioritaskan produk untuk AI, sehingga pasokan bagi industri elektronik rumah tangga dan otomotif menyusut. Harga chip pun melonjak. Sejumlah eksekutif industri memperkirakan kondisi ini dapat berlanjut hingga 2028.

Kementerian Perindustrian RI di era Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) telah menyadari nilai strategis produk semikonduktor, terutama karena kebutuhan chip di dalam negeri yang terus membengkak masih dipenuhi dengan produk impor.

AGK pernah bilang, tingginya ketergantungan Indonesia pada impor chip merupakan "sinyal penting" untuk segera membentuk ekosistem industri semikondutor nasional." Menurutnya, kondisi tersebut mesti dijawab dengan langkah nyata yang meletakkan fondasi industri ini di tanah air.

Oleh karena itu, Kemenperin RI melakukan penjajakan kerja sama dengan pelaku industri semikonduktor global di ajang Hannover Messe 2022. Dari sana, Kemenperin di era AGK memetakan peluang yang paling realistis dan terukur bagi Indonesia untuk bisa memasuki rantai pasok semikonduktor dunia.

Atas prakarsa AGK, Kemenperin lalu menetapkan peta jalan semikonduktor yang mencakup empat pilar, yakni material, desain, fabrikasi, perakitan, pengujian, dan pengemasan.

Desain chip dan mencetak talenta industri semikonduktor ditempatkan sebagai penggerak tahap awal. Alasannya, Indonesia kala itu telah memiliki fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor di Batam serta satu perusahaan desain sirkuit terpadu yang berhasil masuk ke dalam rantai pasok global.

AGK memilih desain chip, bukan fabrikasi, sebagai pintu masuk. Menurutnya, desain chip merupakan segmen bernilai tambah tinggi yang bertumpu pada sumber daya manusia. Mengingat Indonesia belum memiliki kapasitas fabrikasi wafer, pilihan itu paling realistis untuk tahap awal.

"Fokus awal kami menyiapkan SDM yang mampu mendesain chip," ujar AGK dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR pada Januari 2026 lalu. Dia menegaskan, pengembangan industri semikonduktor membutuhkan proses yang bertahap, konsisten, dan berkelanjutan.

Dalam rangka menjalankan peta jalan semikonduktor, Kemenperin memprakarsai Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) pada 2023 bersama PT. Hartono Istana Teknologi (Polytron) dan pakar desain chip dari 13 universitas terkemuka di Indonesia.

ICDEC sebagai organisasi nirlaba tak bergantung kepada APBN, melainkan bertumpu pada sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan mitra global. Kini ICDEC bermitra dengan 16 perguruan tinggi dan tujuh pelaku industri.

Langkah itu sekaligus menindaklanjuti kesepakatan Hannover Messe, yang ditujukan untuk mencetak desainer chip agar Indonesia masuk ke dalam rantai pasok global.

Pada Januari 2026 lalu, bersamaan dengan ajang Indonesia Semiconductor Summit 2026, AGK meresmikan fasilitas ICDEC di ITB Innovation Park, Bandung.

Tiga bulan kemudian, ICDEC menandatangani kerja sama dan surat minat pengembangan SDM dengan Intel, National Taiwan Normal University, dan President University.

Terbaru, pelatihan desain chip bersama Polytron, IMEC Belgia, dan Cadence dimulai pada Oktober 2024 di Kudus.

Kemenperin RI juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Apple yang memuat komitmen riset dan pengembangan di Indonesia melalui ICDEC. Kerja sama ini menegaskan upaya Indonesia agar tidak hanya menjadi pasar dalam ekosistem inovasi global.

Penulis: Tim Media Servis