tirto.id - Besarnya data kesehatan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) membuka peluang pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas layanan. Namun, teknologi dinilai tidak cukup hanya menghasilkan model yang canggih. Solusi AI harus mampu menjawab persoalan nyata, terintegrasi dalam proses kerja, serta memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh pengguna.
Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Setiaji menyampaikan bahwa tantangan utama dalam pemanfaatan teknologi bukan semata-mata bagaimana mengembangkan model AI, tetapi bagaimana mengubah data yang besar menjadi insight yang bernilai bagi layanan kesehatan JKN. Setiap hari, jutaan peserta JKN mengakses layanan kesehatan dan menghasilkan data dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan untuk memahami pola serta risiko secara lebih dini.
“Bukan AI yang terlihat canggih, tetapi AI yang benar-benar bekerja untuk orang yang benar-benar membutuhkannya. Di samping itu, pemanfaatan AI perlu dimulai dari identifikasi masalah, bukan dari teknologi yang tersedia,” ujarnya dalam Seminar Series Healthkathon BPJS Kesehatan 2026 di BINUS University, Jakarta, Jumat (25/09).
Menurutnya, persoalan yang hendak diselesaikan harus dapat dipetakan secara konkret, mulai dari siapa yang menghadapi masalah, kapan masalah terjadi, hingga dampak yang ditimbulkan. Dengan pendekatan tersebut, teknologi yang dikembangkan dapat diarahkan untuk memberikan manfaat yang terukur.
Dalam konteks Program JKN, pemanfaatan teknologi juga perlu memperhatikan karakteristik data kesehatan yang bersifat sensitif. Privasi dan keamanan harus dirancang sejak awal, manusia tetap berada dalam lingkaran pengambilan keputusan terutama yang menyangkut hak peserta, serta batas kemampuan suatu solusi perlu disampaikan secara transparan. Khusus dalam pemanfaatan AI untuk mendeteksi pola risiko, indikasi yang tidak biasa juga tidak serta-merta dapat dianggap sebagai kecurangan.
“Pola yang tidak biasa belum tentu kecurangan. Setiap indikasi harus diterjemahkan dengan hati-hati, tanpa mengabaikan konteks, akurasi, dan keadilan,” tuturnya.
Melalui Healthkathon 2026, BPJS Kesehatan mengajak mahasiswa dan talenta teknologi untuk tidak sekadar menghasilkan ide, tetapi menunjukkan bukti bahwa solusi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat nyata. Harapannya, inovasi yang lahir tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan pengelolaan Program JKN dan meningkatkan manfaat yang dirasakan peserta.
Kepala Departemen Ilmu Komputer Binus University, Andry Chowanda mengatakan perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak dapat dipisahkan dari pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam berbagai bidang. Namun, penerapan AI perlu ditempatkan sebagai teknologi yang mendukung dan memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan sepenuhnya peran manusia dalam mengambil keputusan.
"Karena itu, pemanfaatan AI tetap membutuhkan kontrol dan pengawasan manusia agar teknologi digunakan secara tepat, bertanggung jawab, serta sesuai dengan kebutuhan," kata Andry.
Ia menyebut, di tengah perkembangan teknologi yang semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antara manusia dan AI tidak lagi dapat dipisahkan. Tantangannya adalah bagaimana memastikan teknologi tersebut tetap berada dalam kendali manusia dan digunakan untuk menciptakan nilai serta manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Sementara itu, Program Manager, Developer Relations, Indonesia & Brunei, Danang Juffry menyebut dalam kompetisi Healthkathon BPJS Kesehatan, ide inovasi yang menarik perlu diikuti dengan solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan nyata dalam penyelenggaraan JKN. Karena itu, peserta perlu memastikan solusi yang ditawarkan relevan dengan persoalan pengguna dan bukan sekadar menghadirkan fitur baru.
Selain itu, kesiapan data dan kelayakan biaya juga menjadi pertimbangan penting. Data yang dibutuhkan harus tersedia dengan tetap memperhatikan privasi rekam medis, sementara biaya pengembangan seperti komputasi GPU dan penggunaan API perlu sebanding dengan manfaat yang dihasilkan.
"Dengan begitu, ide yang diikutsertakan dalam Healthkathon tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan dan memberikan dampak nyata bagi ekosistem JKN," jelas Danang.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id






























