Menuju konten utama

Bagaimana Mitratel Perluas Portofolio ke Infrastruktur Digital

Mitratel memperluas bisnis dari menara telekomunikasi ke infrastruktur digital lewat fiber optik dan teknologi HAPS untuk memperluas konektivitas.

Bagaimana Mitratel Perluas Portofolio ke Infrastruktur Digital
Salah satu menara telekomunikasi yang dimiliki PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) di Bukit Tengah, Klungkung, Bali, Kamis (16/03/2023). ANTARA/Rizka Khaerunnisa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) mulai memperluas bisnisnya dari penyedia menara telekomunikasi ke infrastruktur digital dengan portofolio yang lebih beragam. Pengembangan jaringan fiber optik hingga penjajakan teknologi High Altitude Platform Station (HAPS) menjadi bagian dari langkah tersebut.

Lantas, mengapa perusahaan menara telekomunikasi mulai masuk ke bisnis infrastruktur digital yang lebih luas?

Dari Menara ke Infrastruktur Digital

Selama ini, bisnis utama Mitratel bertumpu pada penyewaan menara telekomunikasi kepada operator. Menara menjadi infrastruktur yang memungkinkan operator menempatkan perangkat jaringan untuk menyediakan layanan komunikasi dan data kepada pelanggan.

Namun, kebutuhan konektivitas terus berkembang. Pertumbuhan konsumsi data dan ekonomi digital membuat kebutuhan infrastruktur telekomunikasi tidak hanya berupa menara.

Mitratel pun mulai mengembangkan portofolio di luar bisnis tersebut, salah satunya melalui fiber optik.

Pada kuartal III-2024, aset fiber optik Mitratel mencapai 39.714 kilometer, meningkat 36,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan dari segmen fiber optik juga tumbuh 89,5 persen secara tahunan.

Meski demikian, kontribusi fiber optik terhadap total pendapatan perusahaan ketika itu masih sekitar 4 persen. Artinya, bisnis menara masih menjadi sumber utama pendapatan, sementara fiber optik menjadi salah satu ruang yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Ekspansi tersebut menunjukkan perubahan cara perusahaan melihat bisnis infrastruktur telekomunikasi. Infrastruktur tidak lagi hanya berupa aset fisik di darat, tetapi dapat mencakup berbagai teknologi yang mendukung konektivitas.

Mengapa Masuk ke HAPS?

Langkah berikutnya dilakukan Mitratel melalui kerja sama dengan AALTO HAPS Limited (AALTO) untuk mengembangkan teknologi High Altitude Platform Station atau HAPS.

Secara sederhana, HAPS merupakan platform yang beroperasi di ketinggian tinggi untuk menyediakan konektivitas. Teknologi ini berbeda dari menara dan fiber optik yang dibangun di permukaan bumi.

Dalam kerja sama tersebut, AALTO berperan sebagai penyedia layanan konektivitas HAPS dan pengoperasian pesawat, termasuk penerapan, pengoperasian, dan pengelolaan konektivitas berbasis platform di ketinggian tinggi.

Sementara itu, Mitratel mendukung melalui penyediaan dan pengelolaan infrastruktur menara yang dibutuhkan dalam implementasi teknologi tersebut.

Dengan demikian, HAPS tidak serta-merta menggantikan menara. Teknologi tersebut justru ditempatkan sebagai pelengkap infrastruktur terestrial yang sudah dimiliki Mitratel.

CEO Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama dengan AALTO diarahkan untuk menggabungkan infrastruktur menara dengan teknologi HAPS.

“Melalui kolaborasi strategis dengan AALTO, kami bertujuan mengembangkan model sinergi terintegrasi antara infrastruktur menara dan teknologi HAPS untuk meningkatkan kualitas, cakupan, dan ketahanan layanan telekomunikasi di Indonesia,” kata Teddy dalam keterangan resminya.

Apa Masalah yang Ingin Diselesaikan?

Salah satu persoalan yang hendak dijawab melalui pengembangan teknologi tersebut adalah keterbatasan pembangunan infrastruktur terestrial di wilayah tertentu.

Pembangunan menara dan fiber optik membutuhkan investasi sekaligus akses fisik ke lokasi. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau membuat pembangunan jaringan di sejumlah wilayah menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan kawasan perkotaan.

Di wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur terestrial, teknologi berbasis platform di ketinggian dapat menjadi alternatif untuk memperluas cakupan konektivitas.

Karena itu, pengembangan HAPS berkaitan dengan kebutuhan pemerataan jaringan, bukan sekadar penambahan teknologi baru.

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan HAPS merupakan bagian dari strategi Telkom Group untuk mengeksplorasi solusi konektivitas yang dapat melengkapi infrastruktur terestrial.

“Kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Telkom Group untuk membangun infrastruktur digital yang siap menghadapi masa depan dan berdaulat bagi Indonesia,” ujar Seno.

Menurut Seno, ketahanan dan pemerataan konektivitas semakin penting seiring dengan akselerasi ekonomi digital. HAPS dinilai memiliki potensi memperluas cakupan jaringan, meningkatkan ketahanan jaringan, sekaligus membuka model layanan baru.

Bagaimana HAPS Terhubung dengan Bisnis Mitratel?

Posisi Mitratel dalam kerja sama ini penting karena perusahaan tidak menjadi pengembang teknologi HAPS. Perannya lebih terkait dengan infrastruktur terestrial yang menopang penerapan teknologi tersebut.

Sementara AALTO menyediakan platform dan layanan konektivitas HAPS, Mitratel dapat mengintegrasikan teknologi tersebut dengan aset infrastruktur yang telah dimilikinya.

Model ini memungkinkan Mitratel memanfaatkan bisnis utamanya sebagai fondasi untuk masuk ke layanan infrastruktur digital yang lebih luas.

Dengan kata lain, perusahaan tidak meninggalkan bisnis menara. Mitratel justru berupaya memperluas nilai dari aset tersebut dengan menghubungkannya dengan teknologi konektivitas lain.

Apa Teknologi yang Digunakan AALTO?

AALTO mengembangkan teknologi yang disebut Stratospace. Salah satu platform yang menjadi perhatian adalah Zephyr, yang memiliki kemampuan menyediakan konektivitas direct-to-device.

Teknologi direct-to-device memungkinkan perangkat pengguna terhubung secara langsung ke platform konektivitas tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur jaringan terestrial di lokasi pengguna.

CEO AALTO Hughes Boulnois mengatakan kemampuan tersebut berpotensi membantu memperluas cakupan jaringan di wilayah 3T Indonesia.

“Dengan kemampuan Zephyr untuk menghadirkan konektivitas direct-to-device, kami dapat membantu menjembatani kesenjangan cakupan di wilayah 3T Indonesia sekaligus meningkatkan ketahanan jaringan nasional,” katanya.

Baca juga artikel terkait TELKOM atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana