Menuju konten utama

Zulhas Sebut Penyebab Harga Beras Masih Naik meski Sudah Impor

Mendag Zulhas membeberkan penyebab harga beras masih naik dan menyebutkan beberapa langkah koordinasi dengan Bulog.

Zulhas Sebut Penyebab Harga Beras Masih Naik meski Sudah Impor
Pedagang memperlihatkan beras jenis medium di Pasar Panorama, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, Sabtu (28/1/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi.

tirto.id - Harga beras saat ini mengalami kenaikan, berdasarkan data yang diambil dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), Senin (30/1/2023). Rata-rata harga beras mencapai Rp11.450 per kg. Padahal, sebelumnya harga rata-rata beras menyentuh Rp11.400 per kg.

Menyoal kenaikan harga beras tersebut, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menuturkan, harga beras sudah sudah stabil, namun saat ini masih belum bisa menurunkan harga beras tersebut. Zulhas mengungkapkan, dua penyebab kenaikan harga beras.

Pertama, Zulhas mengungkapkan, sudah berkoordinasi dengan Bulog terkait kenaikan harga beras di beberapa daerah. Menurut Zulhas, harus ada instrumen rantai pasok beras yang dibetulkan.

"Saya sudah diskusi panjang dengan Pak Kabulog agar rantai instrumennya, instrumen beras dari Bulog itu tidak hanya sampai pada pedagang-pedagang besar. Tapi bagaimana beras dari Bulog yang dijual Rp8.200 itu sampai di pasar-pasar tradisional," ungkap Zulhas, Jakarta, Senin (30/1/2023).

Khususnya untuk daerah seperti di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi hingga Kalimantan yang mengalami kenaikan harga beras. Beras tersebut harus sampai ke pasar-pasar daerah yang tengah mengalami kenaikan harga beras.

Instrumen tersebut, menurut Zulhas, harus bisa tembus, karena jika melalui barang-barang yang besar tentunya kalau permintaannya juga besar, secara otomatis mereka akan bisa menaikkan harga yang telah disampaikan oleh pihak Bulog.

“Terutama harga-harga yang naik itu Pulau Jawa tentu Sumatera, Sulawesi, Kalimantan agar beras ini sampai di pasar, itu instrumen yang harus ditembus karena kalau melalui barang-barang yang besar tentu nanti kalau permintaannya itu besar kan mereka kan bisa menaikkan harga yang kemarin disampaikan oleh Bulog,” ujar Zulhas.

“Jadi ada semacam pedagang-pedagang besar ini yang menaikkan harga,” tambah Zulhas.

Maka dari itu, menurut Zulhas, harus dipotong agar bisa disalurkan secara langsung ke pasar-pasar tradisional.

Zulhas mengungkapkan, nantinya akan ada ratusan ribu beras yang masuk ke Indonesia. Hal itu diharapkan dapat meredam harga beras yang saat ini tengah mengalami kenaikan di Indonesia.

"200 ribu (ton beras) sudah masuk, yang kedua, yang 300 ribu (ton beras) akan sampai Februari bulan ini. Nah, ini juga kita minta yang 200 ribu yang diperlukan kemarin datang, yang 300 ribu (ton beras) ini kecepatannya diperlukan untuk mendistribusikan beras ini sampai kepada warung-warung rakyat di setiap kabupaten, kecepatan ini menentukan harga turun apa tidak," imbuh Zulhas.

Dalam hal ini, Zulhas menegaskan tidak adanya oknum nakal yang mengakali kenaikan harga beras di beberapa daerah. Sebab, kenaikan beras tersebut murni dari harus diperbaikinya instrumen rantai pasok dan juga menunggu kedatangan 200 ribu ton beras dalam upaya pemerintah untuk menekan harga beras yang tinggi.

"Gak ada, gak ada. Memang dia sekarang (harga beras naik), kalau dulu kan minyak curah ada di pasar saja, sekarang tidak kan (ada di semua tempat, jadi harga turun)," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Bagian Humas dan Kelembagaan Perum Bulog, Tomi Wijaya kepada Tirto, Selasa (10/1/2023) menjelaskan impor beras sebanyak 500.000 ton diperkirakan akan masuk seluruhnya pada Februari 2023. Bulog juga telah melakukan impor beras sebanyak 200 ribu ton pada akhir tahun 2022.

Baca juga artikel terkait HARGA BERAS NAIK atau tulisan lainnya dari Hanif Reyhan Ghifari

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Hanif Reyhan Ghifari
Penulis: Hanif Reyhan Ghifari
Editor: Maya Saputri