Zidane & Pelatih yang Balik ke Klub Lama, Bisakah Kembali Sukses?

Oleh: Renalto Setiawan - 15 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Zinedine Zidane bukan satu-satunya pelatih yang memilih kembali ke tim lamanya. Banyak pelatih melakukan serupa.
tirto.id - Memimpin Real Madrid dari Januari 2016 hingga musim panas 2018, Zinedine Zidane berhasil memberikan sembilan gelar untuk Los Blancos. Ada satu gelar La Liga, dua gelar Piala Dunia Antar Klub, hingga tiga gelar Liga Champions yang diraih secara berurutan. Dan setelah sempat menganggur sekitar sepuluh bulan, Zidane kini kembali ke Madrid.

Di balik kembalinya Zidane itu, jelas ada harapan bahwa mantan gelandang elegan timnas Perancis itu bisa mengulangi prestasinya. Maka, ketika Zidane mulai memimpin latihan Madrid pada Selasa (12/3/2019), Marca menulis judul yang mampu menggemakan harapan itu: "Back to the Future with Zidane.”

Namun, Zidane barangkali tak akan bisa kembali meraih prestasi segampang sebelumnya.

Menurut Gabriele Marcotti, dalam salah satu tulisannya di The Times, sebelum ia pergi pada Mei tahun lalu, Zidane sempat menyebut bahwa "Madrid membutuhkan perubahan." Karena besar kemungkinan pendapatnya itu tak diterima Florentino Perez, Presiden Madrid, ia lantas memilih undur diri.

Dari situ, saat Zidane memutuskan kembali ke Madrid, ia barangkali sudah mendapatkan garansi untuk melakukan perubahan terhadap tim. Namun, Marcotti mengingatkan: "Perubahan tidak hanya membutuhkan sumber daya--yang dimiliki Madrid sampai titik tertentu--tapi juga membutuhkan kesabaran dari atasan, sesuatu kekurangan yang dimiliki Madrid dalam dua era kepemimpinan Perez. Terlebih lagi, bagi Zidane, itu melibatkan keterampilan yang sama sekali baru: membangun ulang sebuah tim."

Jika melihat rekam jejak Zidane bersama Madrid sebelumnya, pernyataan Marcotti itu tentu ada benarnya. Selama sekitar tiga musim melatih Madrid pada periode pertama, Zidane mendapatkan warisan skuat mumpuni dari pelatih sebelumnya. Ia hanya perlu mengatur taktik sedemikian rupa, membangun kepercayaan, serta meyakinkan kepada para pemainnya bahwa mereka adalah pemain-pemain juara. Namun untuk membangun ulang sebuah tim, tantangan Zidane jelas lebih dari berat.

Selain itu, ada satu fakta lain yang tak kalah penting: dari sejumlah pelatih yang kembali melatih di klub lamanya, hanya beberapa pelatih saja yang mampu meraih kesuksesan.



Kenny Dalglihs, yang berhasil membawa Liverpool meraih tiga gelar liga Inggris pada akhir tahun 80-an, gagal mempersembahkan gelar liga saat kembali menangani Liverpool pada musim 2011-2012; Guus Hiddink, yang berhasil mempersembahkan gelar Piala FA 2008-2009 saat menjadi pelatih sementara Chelsea, gagal berprestasi saat kembali menjadi pelatih sementara Chelsea pada musim 2015-2016 lalu; dan, kegagalan Arrigo Sacchi serta Fabio Capello pada era keduanya bersama AC Milan juga bisa menjadi contoh lain.

Pada tengah musim 96-97, Sacchi kembali melatih Milan untuk menggantikan Oscar Tabarez yang dianggap gagal. Dengan reputasinya yang mentereng, salah satunya membikin tim Milan 1990 menjadi salah satu tim terbaik yang pernah ada di jagad sepakbola, Sacchi ternyata tak mampu mengangkat penampilan Milan. Kala itu, selain hanya mampu finis di urutan ke-11, Milan juga sempat menciptakan sebuah aib: di San Siro, mereka dibantai Juventus 1-6.

Karena Sacchi menangani Milan di tengah jalan, kegagalan tersebut mungkin masih bisa dimengerti. Sayangnya, perilaku yang sama sepertinya tak bisa diterima Fabio Capello saat kembali menangani Milan pada musim 1997-1998. Saat itu ia menangani Milan dari awal musim, belanja besar-besaran untuk membangun tim, tetapi hanya mampu membawa Milan finis di urutan ke-10 pada akhir musim.

Padahal, saat melatih Milan pada musim 1991-1996, Capello berhasil memberikan sembilan gelar bagi Milan, dari empat gelar Serie A secara berturut-turut hingga gelar Liga Champions 93-94. Soal gelar Liga Champions, Milan bahkan berhasil mengalahkan Barcelona 4-0 di laga final.

Parahnya, kegagalan Capello itu ternyata berbuntut panjang: Capello dipecat. Setelah itu Capello bahkan memilih rehat sejenak dari sepakbola, hingga akhirnya ia mau menerima tawaran AS Roma pada musim panas 1999.

"Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di pantai sambil memikirkan sepakbola," kata Capello, saat ditanya wartawan tentang kegiatannya selama menjadi pengangguran.

Yang menarik, saat berbicara tentang melatih klub lama, Capello sebetulnya tidak bisa dibilang gagal total. Alasannya: saat kembali menangani Madrid pada musim 2006-2007 lalu, ia berhasil membawa Los Blancos menjadi jawara La Liga. Sebelumnya, ia pernah meraih prestasi yang sama saat melatih Madrid pada musim 1996-1997 silam.

Ironisnya, dengan alasan permainan bertahan yang tidak enak untuk ditonton, Capello justru dipecat Madrid setelah mempersembahkan gelar La Liga musim 2006-2007 tersebut.

Selain Capello, Jose Mourinho juga bisa menjadi contoh pelatih yang mampu meraih kesuksesan setelah kembali ke klub lamanya.



Mourinho pertama kali tiba di Chelsea pada Juni 2004 silam. Di hadapan jurnalis Inggris, ia langsung menantang, "Aku rasa, aku adalah orang spesial." Karena omongannya itu, kuping para pelatih tim-tim Premier League boleh merah, tapi Mourinho memang benar-benar pelatih yang spesial: selama tiga tahun berada di Chelsea, ia berhasil mempersembahkan dua gelar Piala Liga, dua gelar Premier League, serta satu gelar Piala FA.

Setelah itu, Mourinho kembali lagi ke Chelsea pada tahun 2013 dan berhasil mengulangi kesuksesan sebelumnya. Hingga ia dipecat pada Desember 2015, ia mampu mempersembahkan satu gelar Premier League musim 2014-2015 serta gelar Piala Liga 2015.

Kemudian, di antara pelatih-pelatih yang berhasil meraih kesuksesan saat menangani tim lamanya, adakah pelatih yang bisa mendapatkan kesuksesan lebih besar daripada periode pertamanya? Barangkali hanya seorang: Jupp Heynckes, mantan pelatih Bayern Munchen.

Periode pertama Heynckes bersama Munchen terjadi pada 1987 hingga 1991 silam. Kala itu, ia hanya berhasil mempersembahkan dua gelar Bundesliga [1988-1989 dan 1989-1990]. Namun, saat ia kembali melatih Muenchen pada tahun 2011 hingga tahun 2013, ia bahkan mampu mempersembahkan tiga gelar hanya dalam satu musim. Pada musim 2012-2013, Bayern berhasil meraih gelar Bundesliga, DFB Pokal, serta Liga Champions Eropa.

Yang menarik, setelah memutuskan pensiun pasca meraih prestasi fenomenal tersebut, Heynckes kembali melatih Munchen pada musim lalu. Ia menggantikan posisi Carlo Ancelotti yang dipecat pada Desember 2017. Hebatnya, ia masih berhasil mengantarkan Bayern Munchen untuk meraih gelar Bundesliga.

Untuk semua itu, Heynkes jelas tergolong pelatih langka. Pertanyannya: apakah Zidane mampu mengikuti jejak Heynkes?

Sulit, tapi bukan sesuatu yang mustahil.

Baca juga artikel terkait REAL MADRID atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Mufti Sholih
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live