Zebra Memang Mirip Kuda, tapi Mereka Menolak Didomestikasi

Penulis: R. A. Benjamin - 23 Mei 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Zebra dan kuda memang satu genus, tapi keduanya punya perbedaan karakteristik. Zebra tidak berevolusi untuk domestikasi.
tirto.id - Entah sebagai sarana transportasi maupun olahraga, mengapa manusia tidak menunggangi zebra seperti halnya mengendarai kuda? Atau, mengapa kita tidak pernah melihat hewan ini dipekerjakan mengangkut beban layaknya keledai? Bukankah zebra juga “sejenis” kuda atau keledai dengan motif bulu garis-garis hitam-putih?

Untuk pertanyaan terakhir, jawabannya singkat saja: bukan. Zebra bukan sekadar kuda dengan warna rambut yang lebih menawan. Namun, ditilik dari kemiripan hewan ini dengan kuda dan keledai, semua pertanyaan di atas lazim saja diajukan.

Begitu pula jika melihat habitat hewan ini, Afrika, yang juga menjadi tempat asal manusia. Bagaimana mungkin spesies penguasa bumi tidak memanfaatkan zebra untuk, misalnya, kepentingan mereka berkendara?

Zebra, kuda, dan keledai berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Hyracotherium. Satwa purba ini hidup di Eropa dan Amerika bagian utara sekitar 55 juta tahun lalu. Zebra modern, seperti halnya kuda dan keledai, tergabung dalam famili Equidaedan dan genus Equus. Meski wujudnya nisbi mirip dengan dua spesies lainnya, zebra memiliki beberapa karakteristik yang berbeda.

Pada umumnya, zebra berukuran lebih kecil daripada kuda. Bentuk tubuh hewan yang terbagi dalam tiga spesies hidup (Equus grevyi, Equus quagga, dan Equus zebra) ini tidak berevolusi untuk ditunggangi manusia. Karenanya, zebra bakal kesakitan jika ditunggangi dalam waktu yang lama.

Perbedaan lainnya, zebra bukan hewan yang dapat didomestikasi.


Menolak Diperkuda

Seturut Live Science, hewan liar yang bisa didomestikasi harus punya beberapa kriteria. Sebagian di antaranya ialah memiliki watak lembut atau tidak panik di saat menemui tekanan. Ia juga harus memiliki struktur keluarga atau hierarki sosial (di mana manusia bisa mengambil alih posisi pemimpin).

Ambillah contoh kuda liar yang sedari mula memiliki hierarki sosial dan bisa dikatakan memiliki tabiat penurut. Semenjak berpisah dari nenek moyang yang sama pada 4-4,7 juta tahun lalu, kuda dan zebra beradaptasi pada lingkungan yang berbeda.

Kawanan kuda liar di Amerika Utara dan Eropa tak pernah mengembangkan insting untuk kabur ketika melihat manusia. Jauh-jauh hari, leluhur kuda telah didomestikasi di bagian barat Stepa Eurasia (kini mencakup Ukraina, Rusia Barat Daya, dan Kazakhstan).

Mereka lantas dipelihara sebagai ternak dan kian terbiasa dengan manusia, entah sebagai alat transportasi hingga kendaraan perang. Kuda perlahan mendapatkan tempatnya dalam peradaban yang dibangun Homo sapiens, dari menjadi hewan penting bagi kebudayaan seperti di Mongolia atau bekerja sama dengan manusia penunggangnya di Olimpiade.

Lain halnya dengan sang sepupu dengan rambut bergaris. Di Sabana Afrika bagian timur dan selatan, zebra sehari-hari menghadapi predator buas semacam singa, cheetah, hyena, dan tentunya manusia. Zebra pun mengembangkan tindak-tanduk yang sulit diprediksi, sangat responsif, dan senantiasa waspada menghadapi bahaya.

Tendangannya keras dan mampu membunuh predator puncak seperti singa. Zebra juga mempunyai naluri menggigit yang ganas dan memiliki refleks “merunduk” yang membantu mereka menghindari jeratan tali laso yang dilempar manusia.

Meski ia berkumpul dalam kawanan, zebra tidak memiliki struktur keluarga maupun hierarki sosial layaknya kuda liar. Satu-satunya alasan mereka membentuk kawanan ialah sebagai teknik bertahan hidup belaka.

Selama berabad-abad, temperamen zebra berkembang seiring evolusinya. Beberapa naluri perilaku ini menjadi bagian dari fisiologi otak mereka. Zebra menyimpan pengetahuannya tentang kecenderungan manusia sebagai pemburu dan akhirnya selalu memandang kita dengan penuh syak wasangka.

Zebra sama sekali tak butuh manusia untuk bertahan hidup, kecuali mungkin untuk bertahan dari manusia lainnya. Dan setelah kepayahan dalam upaya tak terhitung dalam mendomestikasi hewan ini, para kolonis Eropa akhirnya menyadari bahwa zebra jelas bukan sekadar kuda berambut garis-garis.


Upaya Menjinakkan Zebra

Gagasan bahwa manusia merupakan ancaman selamanya tertanam di kepala zebra. Ini diwariskan kepada keturunannya dan membuat spesies ini tak memenuhi kriteria domestikasi.

Sementara dari perspektif manusia, fakta bahwa spesies ini adalah “pakan” bagi singa mungkin pula menjadikan mereka bukan “rekan kerja” yang tepat bagi manusia purba.

Tampaknya bukan manusia namanya kalau tak mencoba menjinakkan hewan yang mampu membunuh singa sekalipun. Kendati akhirnya menyadari bahwa upaya domestikasi zebra terlalu panjang dan berat, usaha menjinakkan individu zebra masih dilakukan hingga kini.

Salah satu bukti paling terkenal perihal hubungan akrab zebra dan manusia muncul dari foto seorang zoologist akhir abad ke-19 bernama Walter Rothschild. Foto itu memampang sosok Rothschild menaiki kereta yang ditarik zebra. Kereta zebra itu dikendarainya menuju Buckingham Palace demi mendemonstrasikan karakter jinak zebra kepada publik. Bagaimanapun, dia tak berhasil menunggangi langsung hewan ini lantaran tubuh zebra yang terlalu kecil plus sifatnya yang agresif.

Pada sekitar waktu yang sama, tepatnya awal abad ke-20, para perwira kolonial Jerman di Afrika Timur mencoba menunggangi zebra. Hasilnya bisa ditebak: tidak sukses-sukses amat, tapi setidaknya mereka punya koleksi foto aktivitas langka tersebut.

Salah satu upaya terbaru menjinakkan hewan ini dilakukan oleh Shea Inman, seorang remaja Amerika yang melatih zebranya yang dinamai Joey agar bisa ditunggangi. Ide itu sendiri muncul berkat film Racing Stripes (2005) yang mengisahkan seekor zebra yang ingin berlaga di pacuan kuda.

Menurut Shea, zebra memiliki rentang perhatian yang pendek dan tidak sebaik kuda dalam menyimpan informasi. Dia akhirnya memang berhasil mengendarai si zebra, walau hanya untuk waktu singkat.

Beberapa hari, ia seperti telah ditunggangi selama 30 tahun dan di hari lain ia bertingkah seperti belum pernah melihat manusia,” tukas Shea.

Ketika zebra menolak diperkuda, manusia memutar otak agar hewan liar ini tetap bisa dijinakkan. Jika kita tak bisa mendomestikasi zebra seutuhya, bagaimana jika menyilangkannya dengan hewan yang lebih kalem, yang barangkali bisa menghasilkan peranakan yang lebih patuh?


Infografik Zebra Menolak Diperkuda
Infografik Zebra Menolak Diperkuda. tirto.id/Sabit


Mencoba Cara Lain

Berangkat dari ketahanan zebra terhadap berbagai penyakit, muncul gagasan untuk membuat peranakan kuda hibrida yang mewarisi karakteristik andal dari zebra. Penyilangan dua spesies ini diyakini telah dilakukan sejak abad ke-18. Targetnya adalah menciptakan hewan peliharaan jenis baru yang mudah dilatih sekaligus nyaman ditunggangi seperti kuda, tapi juga memiliki daya tahan dan stamina laiknya zebra.

Keluarga Boer disebut-sebut sebagai salah satu yang pertama melakukannya. Selama Perang Afrika Selatan (juga disebut Perang Boer), mereka menyilangkan zebra chapman dengan kuda poni demi menghasilkan hewan transportasi sekaligus pengangkut senjata yang tangguh.

Kendati berbeda spesies, zebra dan kuda memang mampu kawin dan menghasilkan anakan yang sehat. Adapun perkara tersebut sepenuhnya berkat campur tangan manusia dan tak pernah terjadi di alam liar. Hasil perkawinan ini disebut zorse, hebra, brahorse, atau penamaan lainnya tergantung siapa pejantannya. Namun secara umum, hasil persilangan kuda dan zebra disebut zebroid.

Secara teori, zebroid mungkin saja ditunggangi. Jika kau mampu melatih zebroid untuk ditunggangi, kau otomatis memiliki hewan dengan keunggulan kedua spesies orang tuanya, keserbagunaan kuda dan stamina dan daya tahan zebra. Namun, zebroid nyatanya tetap lebih sulit dilatih karena temperamennya lebih menyerupai zebra ketimbang kuda.

Saat ini, berbagai zebroid tetap dibiakkan baik sebagai hewan tunggangan atau pekerja serta sebagai atraksi di sirkus dan di banyak kebun binatang kecil. Pada akhirnya, manusia mungkin bakal mendapatkan yang mereka kehendaki pada diri zebroid. Namun untuk saat ini, zebra masih tergolong hewan liar di kerasnya sabana dan belantara Afrika. Ada baiknya ia tetap seperti itu.

Baca juga artikel terkait SATWA LIAR atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight