Zanzibar, Kepulauan Rempah Sarat Sejarah

Oleh: Tony Firman - 28 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Zanzibar dikenal sebagai tempat bertemunya banyak ragam budaya lewat para pendatang yang bercampur dan bermukim turun temurun.
tirto.id - Bagi penggemar Freddie Mercury, Zanzibar mungkin bukanlah nama yang asing di telinga mereka. Film biopik Bohemian Rapshody (2018) mengungkit kembali Zanzibar sebagai penggalan kisah hidup paling awal dari seorang Freddie Mercury. Pria bernama lahir Farrokh Bulsara ini lahir di Zanzibar pada 1946.

Kala Freddie jadi bintang rock masyhur, mulai ada tur menengok masa kecilnya. Tur ini akan membawa wisatawan untuk melongok tempat pentolan grup band Queen itu lahir dan menghabiskan masa kecilnya sebelum akhirnya sekeluarga pindah ke Inggris. Wisatawan kemudian bisa melongok Kuil Zoroaster tempat keluarga Freddie beribadah. Untuk menikmati paket tur Freddie, per orang harus merogoh kocek sekitar Rp600 ribu.

Namun, di luar perbincangan tentang Freddie, Zanzibar sebenarnya punya peran dan sejarah panjang.

Zanzibar adalah nama sebuah daerah administratif semi otonom dari Republik Tanzania di Afrika bagian timur. Wilayah administratif Zanzibar meliputi Kepulauan Zanzibar yang berisi Pulau Ungaja, Pemba, Latham dan Mafia yang dipimpin oleh seorang Presiden dengan dua Wakil Presiden. Ibukotanya juga bernama Zanzibar.

Jika Tanzania secara geografis menyatu dengan daratan benua Afrika, ibukota dan pusat pemerintahan Zanzibar berdiri di atas Pulau Unguja yang jaraknya sekitar 35 kilometer dari lepas pantai Afrika Timur.

Pariwisata menjadi sektor andalan yang dijual Zanzibar kepada dunia. Negara beriklim tropis ini menyuguhkan keindahan pantai pasir putih dan pemandangan bawah laut. Di sektor pertanian, komoditas andalannya adalah cengkih, kapulaga, kayu manis, kunyit, oregano dan rempah-rempah lainnya. Maka tak heran jika Zanzibar juga punya julukan pulau rempah, mengikuti jejak Maluku.


Kawasan Kota Batu adalah bagian dari kawasan kota tua Zanzibar yang masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2000. Sebagian besar bangunan di kota ini sudah dibangun sejak abad 18 dan 19 yang mencerminkan ragam budaya campuran yang menganut unsur Arab, Persia, India dan Eropa. Maka tidak aneh menemui komplek gereja, masjid, benteng, monumen sejarah dan rumah-rumah para tokoh setempat di Kota Batu.

Lama jadi Wilayah Penting

Bangsa asing sudah menjamah Zanzibar ribuan tahun sebelum masehi. Dainess Mashiku Maganda dalam Swahili People and Their Language: A Teaching Handbook (2014) mencatat, temuan tembikar kuno menunjukkan bahwa wilayah Zanzibar sudah menjalin kontak perdagangan dengan peradaban Sumeria dan Asyur kuno yang kini merujuk ke wilayah Suriah dan Irak. Temuan lain seperti liontin di kota kuno Eshnunna, Sumeria yang berasal dari Zanzibar berumur 2500 - 2400 SM.

Awal 1 Masehi, pedagang dari Arab (terutama Yaman), Persia (terutama dari Kota Shiraz) dan dari India barat mencapai Zanzibar. Para pedagang ini datang dengan memanfaatkan angin muson di Samudra Hindia hingga bisa melabuhkan perahunya di Kota Zanzibar.

Sedangkan Encyclopaedia Britannica mencatat letak Zanzibar yang strategis menarik perhatian para pedagang dari Arab, Asia Selatan dan daratan Afrika untuk singgah. Pendatang pertama datang dari Afrika. Pada abad ke-10, giliran orang Persia yang mendarat di Zanzibar.

Dua kelompok Afrika dan Persia ini dalam periode singkat bercampur dengan suku asli Hadimu dan Tumbatu. Populasi campuran Afrika-Persia lebih banyak mengadopsi tradisi Persia. Bahkan tak jarang sampai era modern saat ini, sebagian besar populasi Afrika Zanzibar masih menyebut diri sebagai kelompok Shirazi yang merujuk pada kota Shiraz di Iran.


Babak baru Zanzibar datang pada abad 16 ketika Portugal datang menaklukkan semua pelabuhan di pantai Afrika timur hingga sebagian pantai Arab termasuk ibukota Oman, Muscat. Pulau-pulau seperti Zanzibar tak luput dikuasai Portugal, menjadikannya sebagai negara penjelajah dari Eropa pertama yang mencapai pulau itu sekitar tahun 1503 dan 1504. Kepentingan Portugal bagaimanapun lebih kepada urusan komersil ketimbang mencengkeram secara politik kekaisaran.

Pengaruh Portugal mengendur ketika orang-orang Arab Oman dari Muscat datang mengusir mereka pada 1650. Tahun-tahun berikutnya kedatangan Arab Oman yang berdagang rempah-rempah mulai berkembang menjadi kontrol dominasi oleh para elite Arab.

Cengkeh dan perdagangan budak jadi komoditas andalan orang Arab di Zanzibar. Bahkan sultan penguasa Oman, Saʿīd ibn Sulʿān pernah memindahkan ibukota Oman, dari Muscat ke Zanzibar pada 1832. Perdagangan budak di akhir abad 18 dan awal abad 19 memang pesat karena disebabkan permintaan tinggi dari Amerika Utara dan Selatan.

Kekuasaan Kesultanan Arab Oman memasuki era baru ketika tahun 1861 Zanzibar menjadi kesultanan independen yang terpisah dari Oman meski masih dipegang oleh orang-orang Oman. Kesultanan baru itu termasuk mengendalikan beberapa wilayah Afrika yang sudah diperoleh di era Sultan Saʿīd. Beberapa tahun berjalan, di era Sultan Barghash (memerintah tahun 1870–1888), Britania Raya dan Jerman mulai menancapkan pengaruh dengan membagi sebagian besar wilayah Zanzibar di daratan dengan motif kontrol ekonomi.

Sampai pada 1890, Inggris mengumumkan protektorat atas Zanzibar dan menandai era baru kolonial selama lebih dari 70 tahun. Di masa itu, wewenang sultan berkurang dan bersekutu dengan Inggris. Perdagangan budak juga dibatasi.

Meski begitu ada pertikaian antara elit Arab Oman dengan Inggris seperti saat Khālid ibn Barghash merebut kekuasaan sesaat setelah pamannya, Ḥamad ibn Thuwayn yang memerintah Kesultanan Zanzibar meninggal pada 25 Agustus 1896. Inggris tidak tinggal diam dan akhirnya memicu meletusnya perang Anglo-Zanzibar dua hari setelah kematian Ḥamad. Khalid kalah. Pertempuran yang mempertemukan pendukung Khalid dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris itu hanya berlangung kurang dari satu jam dan disebut-sebut sebagai perang terpendek dalam sejarah. Udamud ibn Moḥammed yang didukung Inggris dipasang sebagai sultan.

Infografik Riwayat Zanzibar
Infografik Riwayat Zanzibar


Zanzibar mendapat status kemerdekaan lagi ketika pada 1963 kesultanan setempat menjadi anggota Persemakmuran Inggris. Setelah berabad-abad didominasi kekuatan elite yang Arab mendapat legitimasi Inggris, giliran rakyat bergerak menggulingkan kesultanan untuk mendirikan republik. Revolusi yang digalang kaum kiri dari Partai Afro-Shirazi berhaluan Marxisme-Leninisme dan Partai Umma yang berisi para sosialis Arab ini meletus pada Januari 1964.


Revolusi menandai penggulingan kelas penguasa Arab di pulau itu oleh orang-orang Afrika yang merupakan mayoritas. Setelah itu, Presiden Zanzibar dan Tanganyika menandatangani kesepakatan penyatuan kedua negara yang kini bernama Tanzania.

Kini, situs sejarah perjalanan Zanzibar turut menjadi tulang punggung pariwisata. Seperti tur rute perdagangan budak manusia yang akan membawa wisatawan menengok beberapa lokasi bekas perdagangan manusia di abad ke-19 seperti Mangapwani, Pelabuhan Dho, Gereja Anglikan dan lainnya.

Mayoritas penduduk Zanzibar memeluk Islam sebagai akibat dari pengaruh yang dibawa Arab Oman dan Persia. Bahkan Menteri Informasi, Pariwisata dan Warisan Zanzibar, Mahmoud Thabit Kombo mempromosikan negaranya ke Indonesia pada November 2018 untuk bisa jadi tujuan wisata umroh layaknya Mesir dan Turki.

Baca juga artikel terkait DESTINASI WISATA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono