Zahid Hussein, Jenderal Aliran Kepercayaan dan Soeharto

Presiden RI ke-2, Soeharto. FOTO/Nationaal Archief
Oleh: Petrik Matanasi - 10 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Zahid Hussein adalah jenderal TNI pengikut kelompok kebatinan Sumarah sekaligus jadi pelindung aliran kepercayaan di Indonesia.
tirto.id - Suatu hari di tahun 1943, dalam sebuah halal bi halal di Kampung Terban, Yogyakarta, Guru Kebatinan Sukino menganjurkan pemuda-pemuda yang jadi muridnya untuk mendaftar tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Kelompok kebatinan yang dia ampu bernama "Sumarah".

Guru Sukino dan koleganya, menurut catatan Paul Stange dalam Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumarah (2009), sedari 1944 yakin Indonesia akan segera merdeka dalam sujud bersama. Salah seorang anggota bernama Hadjoguno dalam sujudnya melihat layar menyerupai peta dunia, membentang dari langit dan terlihat di sana serdadu-serdadu Jepang bakal pulang. Dalam sujud bersama lainnya, mereka juga dapat jawaban soal siapa yang akan memimpin Indonesia merdeka, yakni Sukarno.

Di antara pemuda-pemuda itu terdapat seorang guru muda di Sekolah Rakyat Muhammadiyah, Zahid Hussein. Pemuda kelahiran Yogyakarta 19 Mei 1925 itu dari 1940 sudah jadi pengikut aliran kepercayaan. Seperti juga ayah kandung dan ayah angkatnya. Ayah kandungnya, Abdullah Muhsin, adalah seorang usahawan. Sementara ayah angkatnya adalah aktivis Muhammadiyah. Menurut Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1986), Zahid memulai karirnya sebagai komandan regu alias Budancho—yang di masa sekarang setara sersan.

Setelah serdadu Jepang kalah lalu pecah Revolusi Indonesia, Zahid Hussein, yang namanya kearab-araban itu, berada di pihak Indonesia. Dia pernah jadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) sampai Tentara Nasional Indonesia (TNI). Seperti Zahid, banyak anggota Sumarah yang ikut serta dalam revolusi tanpa membawa embel-embel aliran dan berbaur dengan organisasi perjuangan yang ada. Namun, setelah Revolusi selesai, banyak anggota Sumarah yang ikut berjuang tak berkarir di TNI.

Waktu Serangan Umum 1 Maret 1949 meletus, Zahid adalah Letnan Dua TNI berusia 24 tahun. Di situ lah Zahid berkenalan dengan Letnan Kolonel Soeharto. “Zahid Hussein, waktu itu letnan dua dengan jabatan Komandan Seksi di Bantul, oleh Letnan Kolonel Soeharto ditugasi tetap bertahan bersama 40 anak buahnya di kota, sementara pasukan lain menyingkir ke daerah gerilya,” ungkap Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia.

Di masa-masa itu, Zahid terbiasa dengan tugas-tugas penyamaran. Nama Zahid juga disebut dalam buku Museum Perjuangan Yogyakarta: Museum Benteng Vredeburg Unit II (2011). “Peleton Zahid Hussein diminta komandan WK III untuk memperkuat serangan umum di dalam Kota Yogyakarta,” tulis buku tersebut.

Baca juga:

Melidungi dan Membela Aliran Kepercayaan

Menurut Rita Smith Kipp dalam Dissociated Identities: Ethnicity, Religion, and Class in an Indonesian Society (1996), Zahid adalah kawan dekat Soeharto. Kemudian, menurut Paul Stange, “Zahid Hussein dilihat Soeharto sebagai sesuatu yang secara fungsional mendukung tugas intelejennya.”

Baca juga: Yoga Soegomo: Kepala Intelijen yang Minta Soeharto Mundur

Di masa Orde Baru, Zahid dikenal sebagai jenderal yang dekat dengan aliran kepercayaan. Di mana dia menjadi bagian penting dari peguyuban Sumarah. Sejak 1974, Zahid adalah Ketua Umum Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa—yang disingkat HPK.

Zahid yang juga pejabat di kantor Sekretaris Negara dengan jabatan Kepala Biro Proyek-Proyek Bantuan Presiden ini, termasuk orang yang tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan aliran kepercayaan merupakan agama. Meski begitu, Zahid tetap orang Islam yang rajin salat dan sudah naik haji pula.

Pada 1997, ketika Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) meributkan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar musnah dari Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), Zahid menjawab tegas:

“Mereka yang meributkan kepercayaan kepada Tuhan biasanya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kepercayaan kepada Tuhan itu,” seperti dituturkannya kepada Tempo (15/11/1997).

Menurut Zahid, sejak 1970, aliran kepercayaan—pengikutnya disebut penghayat—sudah dihimpun dan dibina oleh pemerintah. Para penghayat diayomi dalam Direktorat Bina Hayat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di tahun yang sama itulah HPK terbentuk. Kala itu terdapat 200 perkumpulan. Belakangan, masih menurut Zahid, anggotanya ada jutaan.

Aliran Kepercayaan dan penghayatnya tidak ada matinya. “Bagaimanapun juga penghayat kepercayaan tetap akan hidup dalam masyarakat, walaupun tidak mempunyai wadah lagi,” ujar Zahid.



Zahid bukan satu-satunya jenderal Orde Baru yang terkait dengan dunia kepercayaan. Selain Zahid, ada Sudjono Humardani, orang yang dianggap sebagai dukunnya Soeharto. Sudjono dan Soeharto adalah orang yang dekat dengan Kejawen. Peneliti Clifford Geertz menyebut Kejawen sebagai "Agama Jawa".

Namun, pada masa Orde Baru, Kejawen tak dianggap agama di Indonesia. Secara umum, orang-orang menganggapnya sebagai aliran kepercayaan atau kebatinan. Hanya ada lima agama yang diakui saat itu dan dari kelimanya tak ada satu pun agama lokal. Meski tak diakui sebagai agama, penganut Kejawen banyak juga di kalangan pejabat negara.

Baca Juga: Agama-agama yang Dipinggirkan

Meski dalam autobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1988), Soeharto menyangkal dirinya berguru pada Sudjono Humardani, namun banyak yang percaya Sudjono adalah guru spiritual Soeharto. Guru spiritual atau bukan, yang pasti Sudjono adalah jenderal berpengaruh di awal Orde Baru.

Sudjono meninggal pada 1986. Menurut Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016), setelah sahabat dekatnya itu wafat, “perhatian Soeharto kepada praktik Kejawen menjadi berkurang.” Soeharto belakangan mendekatkan diri kepada Islam dan naik haji jelang kejatuhannya.

Baca juga artikel terkait ALIRAN KEPERCAYAAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight