Yunus Yosfiah, Konco Prabowo yang Kariernya Biasa Saja di Era Orba

Infografik Yunus Yosfiah
Prabowo Subianto (kiri) menerima surat dukungan dari purnawirawan TNI/Polri yang diwakili mantan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah (kanan) di Jakarta, Kamis (27/3/2019). ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo
Oleh: Petrik Matanasi - 13 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Yunus Yosfiah adalah perwira tempur yang menjadi jenderal staf di akhir Orde Baru. Pada masa Habibie, dia merupakan Menteri Penerangan yang mencabut SIUPP.
tirto.id - Muhammad Yunus Yosfiah bukan perwira berambut cepak pada akhir 1975. Laki-laki kelahiran Rappang, 7 Agustus 1944 ini lebih mirip anak band ketimbang serdadu. Rambutnya gondrong. Yunus tergabung dalam Tim Flamboyan yang dipimpin Kolonel Dading Kalbuadi, sahabat lama Mayor Jenderal Benny Moerdani.

Tim Flamboyan dibagi lagi dalam tiga tim yang masing-masing bernama seperti nama perempuan: Susi, Umi, dan Tuti. Laki-laki gondrong berpangkat mayor lulusan Akademi Militer Nasional 1965 itu adalah komandan Tim Susi.

Kiki Syahnakri, yang di tahun 1975 jadi Perwira Operasi Kodim Atambua, pernah bergesekan dengan Tim Susi. Namun Mayor Yunus Yosfiah mengambilalih tanggung jawab dengan cepat hingga masalah itu beres. "[Yunus adalah] perwira berwatak keras, tegas dan lurus," aku Kiki Syahnakri dalam Timor Timur The Untold Story (2013: 45).

Masih kata Kiki Syahnakri, Tim Susi yang dipimpin Yunus Yosfiah bergerak “mengamankan” Raja Atsabe Guilherme Goncalves—yang belakangan jadi pejabat Timor Timur pro-Republik.

Nama Yunus Yosfiah banyak disebut terkait terbunuhnya lima wartawan Australia yang dikenal dengan sebutan Balibo Five pada 16 Oktober 1975. Bekas prajurit baret merah di Timor Timur, Kolonel Gatot Purwanto, menyebut para pelaku adalah prajurit di lapangan. Sementara Yunus Yosfiah tidak di lokasi penembakan, dia sedang berkoordinasi dengan Kolonel Dading Kalbuadi.

Yunus Yosfiah adalah komandan pertama Batalyon Infanteri 744 pada sekitar 1978-1979 yang berisikan orang Timor Timur asli bekas partisan UDT dan Apodeti. Banyak dari mereka yang belum bisa baca-tulis. Sepengetahuan Kiki, Yunus Yosfiah sebagai komandan mengadakan kursus baca-tulis-hitung kepada personel batalion yang ikut menghantam dan menghabisi Presiden Fretilin, Nicolau Lobato.

Perwira yang sering ditugaskan di Timor Timur ini pernah dijadikan asisten operasi Kepala Staf Kodam XVI dan Komandan Korem 164 di Dili, dari 1987 hingga 1989. Danrem Dili adalah posisi penting di Timor Timur sebelum kerusuhan Santa Cruz.


Pada 1990 Yunus sudah menjadi Kepala Staf Kodam VI Tanjungpura. Ketika berpangkat mayor jenderal, dia pernah menjadi Panglima Kodam Sriwijaya dan Komandan Kesejantaan Infanteri. Kala pangkatnya letnan jenderal, setelah jadi Komandan Sekolah Staf Komando ABRI, di tahun-tahun terakhir Orde Baru, Yunus menjadi Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) ABRI.

Dari sekian banyak prajurit ABRI yang pernah bertugas di Timor Timur, Yunus barangkali punya kenangan paling berbeda dibanding lainnya. Dia tidak datang untuk cari musuh belaka. Di Timor Timur, dia menemukan jodoh di tengah pergolakan. Antonia Jacinta da Costa Ricardo, putri anggota Tropaz (tentara Timor Portugal), belakangan dinikahinya.

Yunus Yosfiah dan Antonia Richardo adalah segelintir dari sekian banyak orang yang paling bersedih atas lepasnya Timor Timur dari Indonesia.

Dari Kassospol sampai Cabut SIUPP

Menurut Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013), Yunus Yosfiah bukan tipe perwira yang dikenal Presiden Soeharto sebelum dirinya menjadi Kassospol ABRI. Belum lama jadi Kassospol, Yunus dijadikan Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan (Sesdalopbang) yang berkantor di Bina Graha, Jakarta.

Keberadaan Yunus Yosfiah di jabatan non-tempur adalah hal aneh bagi Salim Said. Karena sejak muda, Yunus adalah perwira jago tempur. Seharusnya Yunus menjadi Komandan Jenderal Kopassus atau Panglima Kostrad. Paling mentereng, Yunus Yosfiah hanya jadi Panglima Kodam, meski hanya beberapa bulan. Dia seperti tidak ditakdirkan menonjol di ABRI.

Di masa kepresidenan Bacharuddin Jusuf Habibie, Yunus Yosfiah, yang sama-sama kelahiran Sulawesi Selatan, menjadi Menteri Penerangan. Selain Ali Moertopo, Yunus Yosfiah adalah jago tempur kesekian yang mengisi jabatan Menteri Penerangan.


Selaku Menteri Penerangan zaman baru, Yunus dianggap melakukan terobosan yang luar biasa. Di antara langkah luar biasanya adalah penghapusan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), yang di masa Orde Baru wajib dimiliki media. Di zaman Yunus, SIUPP bukan momok bagi media lagi.

“Kita hargai keputusan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah, walau ia adalah seorang mantan perwira pasukan komando. Suatu langkah besar telah diambil, ialah memberikan jaminan hukum bagi kebebasan pers,” tulis buku Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama (2011: 208) yang disusun St. Sularto.

Yunus Yosfiah juga menyetop pemutaran film paling kontroversial zaman Orde Baru: Pengkhianatan G30S/PKI. Di zaman Yunus Yosfiah pula Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi wartawan.



Komandan Pertama Prabowo

Bagi Prabowo Subianto, Yunus Yosfiah bukan sosok yang asing. Yunus adalah salah satu orang yang menjadi komandan Prabowo di awal kariernya. Tak heran, Yunus muncul dalam acara yang dihadiri anggota Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya (PPIR), sayap pensiunan Partai Gerindra.

Prabowo tampaknya ingat kata-kata Jenderal Yogi S. Memet: "komandan kamu di lapangan yang pertama itulah komandan yang akan memengaruhi kamu seumur hidup."

Yunus kini bukan sekadar bekas komandan bagi Prabowo, tapi juga senior yang mendukung langkah besarnya. Yunus kini terlihat sebagai purnawirawan yang mendukung penuh Prabowo untuk maju menjadi Presiden RI.

Soal kepartaian, Yunus pernah berkecimpung di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai sekretaris jenderal pada 2003.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight