YouTube Gangguan, Netizen Heboh

Oleh: Ahmad Zaenudin - 17 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Meski jarang terjadi, gangguan di YouTube tidak hanya terjadi satu-dua kali.
tirto.id - Rabu (17/10) sekitar pukul 9.30 WIB, akan selalu jadi noktah kelabu bagi YouTube: media sosial berbasis video itu tidak bisa diakses di seluruh dunia. Versi situs maupun aplikasi hanya menampilkan halaman polos, tanpa keterangan apapun. Dilansir dari CBS News, beberapa pengguna Youtube memperoleh pesan “Error 503” dan “Error 500” di laman Youtube yang mereka kunjungi.

Error 503 merupakan kode yang dimunculkan apabila server kelebihan beban permintaan atau akses. Kode ini juga muncul manakala server tengah melakukan perawatan. Sedangkan Error 500 merupakan kode kesalahan yang terjadi pada server, tetapi server tidak tahu pasti apa penyebabnya.

Atas kejadian yang jarang terjadi di YouTube ini, dunia jagat maya gempar. Di Twitter, pengguna YouTube melaporkan gangguan yang terjadi. Tagar YouTubeDOWN bertengger di posisi puncak topik populer. Di puncak pemakaian tagar, ada sekitar 29 ribu kicauan tentang gangguan yang dialami YouTube.


Tak lama berselang, YouTube merespons gangguan yang mereka alami. Melalui akun @TeamYoutube, admin media sosial situs yang berdiri pada 2005 ini memberitahu para penggunanya bahwa layanan milik Google tersebut sudah bisa diakses per pukul 10.00 WIB.

“Terima kasih atas kesabarannya,” cuit mereka.

Hingga tulisan ini naik, Jason Tedjasukmana, Consumer and Corporate Communication Google Indonesia, belum memberikan respons apapun ketika diminta tanggapan atas gangguan yang menimpa YouTube.

Meski terbilang jarang terjadi, gangguan di YouTube tidak terjadi hanya sekali. Pada 2 April 2018, YouTube tak bisa diakses oleh para penggunanya di seluruh dunia. Saat itu, sistem YouTube menampilkan pesan “Error 500”. Pada 11 Juli 2018, gangguan kembali terjadi, tetapi spesifik pada sub-layanan Youtube bernama Youtube TV yang sedang menampilkan siaran langsung Piala Dunia antara Kroasia melawan Inggris.

Mengungguli Gutenberg, Mencerdaskan Manusia

Para warganet yang heboh ketika YouTube tak bisa diakses merupakan salah satu tanda betapa pentingnya situs berbagi video milik Google ini. Chris Anderson, kurator TED, dalam ceramahnya di TED Talk 2010, menyebut YouTube merupakan kelanjutan revolusi yang dilakukan Johannes Gutenberg melalui mesin cetaknya. Dengan mesin cetak Gutenberg, pengetahuan mudah disebarkan atas cetakan-cetakan buku yang dihasilkan.

“Kini (revolusi tersebut) dilakukan video online (YouTube) dengan mengembangkannya melalui komunikasi tatap muka.” Melalui video-video yang ada di Youtube, para pengguna atau penontonnya seolah-olah langsung berhadapan (face-to-face) dengan kreator video, ini hal yang tak bisa dilakukan cetak.

Menurut Anderson, otak manusia secara unik terhubung melalui serat-serat khusus yang mudah mengurai maksud dalam suatu video. Tak seperti ketika otak memproses teks, memahami sesuatu yang visual merupakan, "evolusi yang telah dilakukan manusia selama jutaan tahun." Vide menyimpan data berjumlah besar, dan Anderson berujar: otak kita dirancang secara unik untuk mengolahnya. Hal ini membuat penyebaran informasi via video jadi krusial. Tepat di situ, YouTube sukses melakukannya.

“Tahun-tahun awal web, dunia maya bebas dari video. Alasannya, ukuran file video besar. Namun, dalam 10 tahun terakhir, bandwidth meledak ratusan kali lipat. Umat manusia menyaksikan 80 jam video di YouTube setiap harinya,” pungkas Anderson.

Sama seperti buku cetak yang amat berpengaruh bagi pendidikan, begitu pula yang dilakukan pengguna YouTube hari ini. Salman Khan, misalnya. Pendiri organisasi nirlaba Khan Academy ini menyebarkan video pendidikan melalui YouTube. Pada 2006, Khan, pengajar lulusan Harvard dan Massachusetts Institute of Technology, mendapat saran dari temannya untuk mengunggah video pelajaran ke YouTube.

Dia menuruti saran itu. Tak lama kemudian, Khan, sebagaimana diwartakan The Telegraph, “memperoleh surat dari orang-orang di seluruh dunia dan mengatakan bahwa video buatannya telah mengubah hidup mereka.” Atas surat-surat itu, Khan mengungkapkan “Anda bisa mendengar tangis haru di surat-surat yang mereka kirim.”

Pada 2010, Khan makin serius menggeluti penciptaan konten pendidikan di YouTube. Sebagaimana dilaporkan Forbes, setidaknya Khan telah mengunggah 3.400 video berdurasi pendek, lengkap dengan kuis interaktif. Hari ini, dipacak dari laman Youtube Khan Academy, lembaga ini itu telah memiliki 4,3 juta pengikut dan memperoleh “views” lebih dari 1,6 miliar kali.


“Tidak ada ekuitas karyawan, tidak ada IPO. Pendanaan berasal dari pilantropi, bukan kapitalis ventura,” tulis Forbes mengomentari Khan Academy.

Kini Khan Academy didukung nama-nama besar seperti Bill Gates (pendiri Microsoft), Eric Schmidt (CEO pertama Google), hingga Reed Hastings (CEO Netflix). Khan Academy kini telah mengantongi dana senilai 16,5 juta dolar untuk tetap memproduksi video pendidikan yang diunggah ke YouTube.

Infografik Youtube


Aksi Khan Academy memberi pembelajaran gratis via YouTube membantu mengatasi masalah klasik yang menimpa dunia pendidikan: biaya mahal. Forbes mencatat, masyarakat dunia mengalokasikan uang senilai 3,9 triliun dolar untuk pendidikan. Angka itu setara 5,6 persen GDP dunia. Menyebarkan informasi melalui video gratisan di YouTube seakan sedikit membantu mengatasi masalah klasik tersebut.

Selain mengatasi masalah biaya, Khan mengungkap bahwa menciptakan konten pembelajaran berbasis video di YouTube merupakan adaptasi dunia pendidikan atas semakin majunya dunia.

“Dulu, dokter secara monoton memberi informasi. Kini, jika Anda berpikir tentang suatu hal, Anda menghabiskan berjam-jam di depan YouTube dan Google. Akibatnya, Anda memiliki bahan yang baik, dan ketika bertemu dokter kini Anda akan berkata: ‘Dok, saya telah menonton video tentang hormon, apakah ini benar?’”

Sayangnya, YouTube bukanlah layanan internet yang memiliki tim redaksional. Segala video yang ada di layanan tersebut berasal dari penggunanya. Akibatnya, ada kontras yang tinggi antara video yang baik dan buruk. Di YouTube, seseorang bisa mengakses konten pendidikan, hingga konten yang tak layak tonton bagi anak-anak.

Ini tentu berdampak bagi para pengguna, terutama bagi mereka yang sudah punya anak. Sebagaimana dilaporkan The Atlantic, YouTube telah jadi babysitter dunia. Para orang tua seringkali membiarkan anak-anak mereka menonton konten YouTube tanpa pengawasan. Hal ini tentu bisa berdampak besar di kemudian hari.

Baca juga artikel terkait YOUTUBE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Nuran Wibisono