10 Februari 1999

Y.B. Mangunwijaya, Romonya Kaum Marginal

Oleh: Mawa Kresna - 10 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Pribadi luhung.
Tempat bernaung para
nasib yang limbung.
tirto.id - Saat saya masih kecil, nama Romo Mangun sudah akrab di telinga. Saat itu, saya tidak tahu siapa dirinya. Saya hanya tahu dari bapak dan ibu bahwa rumah yang kami tinggali di pinggir kali Code adalah bikinan Romo Mangun.

Rumah kami dulu berada persis di pinggir kali Code, Terban, Yogyakarta. Saya tinggal di sana antara 1988 sampai 1993. Dahulu, kampung pinggir kali Code adalah kawasan kumuh, tidak diakui sebagai pemukiman oleh pemerintah Yogyakarta. Pada 1981, Romo Mangun masuk ke Code dan menggagas pembangunan rumah di bantaran yang layak huni.

Hasilnya memesona. Berkat sentuhan Romo Mangun, pemukiman kumuh itu menjadi ceria dan penuh warna-warni. Rumah-rumah dibangun bertingkat dengan fondasi kokoh di lahan miring pinggir sungai. Di tengah pemukiman dibangun balai warga sekaligus tempat anak-anak bermain dan belajar. Jalan berundak dan berkelok terhubung dengan gang sempit di sebelah jembatan Gondolayu. Tiap kali saya melihatnya dari atas jembatan itu, dalam pandangan mata seorang bocah, deretan rumah di sana tampak indah.


Rumah yang saya tempati adalah rumah gedek biasa. Tapi lantaran dicat dengan aneka warna dan dihiasi gambar-gambar, ia enak dipandang mata. Rumah itu dibangun dua lantai untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi banjir.

Kondisi pemukiman di kali Code kini tidak banyak berubah namun makin padat. Model bangunan bersusun dan terbuat dari bangunan semi permanen tetap dipertahankan. Terakhir kali saya berkunjung ke Code pada 2014, bertepatan dengan peringatan Haul Romo Mangun ke-15. Rumah yang dulu saya tempati kini sudah menjadi Museum Romo Mangun.

Kampung Code kini dikenang sebagai karya gemilang Romo Mangun sebagai seorang arsitek. Banyak pemukiman yang menjadikan Code sebagai contoh pembangunan kampung di pinggir kali. Karena karyanya di Code itu, pada 1992 ia dianugerahi Aga Khan Award, sebuah penghargaan bagi konsep arsitektur yang ramah lingkungan dan mewadahi aspirasi masyarakat. Ia juga menerima The Ruth and Ralph Erskine Fellowship pada 1995 karena dedikasinya untuk kaum marginal di Code.

Dari Tentara, Pastor, Sampai Pengarang

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, begitu nama lengkapnya, lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 6 Mei 1929. Ia memulai pendidikan di HIS Fransiscus Xaverius Muntilan, Magelang, pada usia tujuh tahun. Ia lantas melanjutkan pendidikan di STM Jetis Yogyakarta.

Sebelum lulus dari STM, Mangun bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai prajurit dan ikut pertempuran di Ambarawa dan Magelang. Dalam Romo Mangun: Sahabat Kaum Duafa (2005), Iip D. Yahya menceritakan, saat Mangun bergabung dengan TKR ia terlibat dalam pencurian mobil-mobil milik Jepang.


Usai kemerdekaan, Mangun kembali ke Magelang dan kemudian melanjutkan sekolah di SMU-B Santo Albertus Malang. Ia berhasil lulus pada 1947. Di masa SMA inilah ia mulai tertarik pada dunia pelayanan gereja Katolik. Mangun memutuskan menjadi pastor pada usia 21 dan masuk ke seminari di Yogyakarta.

Toto Rahardjo, salah seorang murid sekaligus kawan Romo Mangun, pernah menulis esai pendek tentang sahabatnya itu. Dalam esainya, ia bercerita tentang alasan Romo Mangun memilih menjadi pastor.

“Mengapa saya memilih menjadi Pastur, karena saya beragama Katholik—seandainya saya beragama Islam mungkin akan memilih pesantren. Sebab bagi saya di situ adalah tempat yang paling dekat dengan rakyat kecil. Menjadi Pastur paling tidak 80% berurusan dengan wong cilik entah di kota, entah di desa,” tulis Toto menceritakan ulang penuturan Romo Mangun.

Setelah menjadi pastor, Romo Mangun tidak hanya fokus mengurusi gereja. Ia melanjutkan kuliah di jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung pada 1959. Ia kembali melanjutkan studi di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada 1960 sampai 1966.

Seusai pendidikan di Jerman, ia kembali ke Indonesia dan menjadi pastor di Paroki Gereja Santa Theresia, Magelang. Di sanalah ia mulai bertemu dengan tokoh lintas iman seperti Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.


Di waktu luang, Romo Mangun menulis cerpen dan novel. Sedikitnya ia sudah menerbitkan 36 karya tulis baik berupa esai, cerpen, maupun novel. Salah satu karya masterpiece-nya adalah Burung-Burung Manyar (1981). Novel itu membuat Romo Mangun mendapat Ramon Magsaysay Award, penghargaan sastra se-Asia Tenggara, pada 1996.

Mengkritik Gereja, Melawan Penguasa

Dalam suatu kesempatan, Romo Mangun memberikan ceramah di depan para frater di Seminari Kentungan. Ia menyindir frater-frater yang hanya tahu tiga lokasi di Yogyakarta, yakni Panti Rapih, Kapel, dan Kampus. Padahal di luar sana banyak orang yang hidup dalam kesusahan, sementara para frater di dalam seminari hidup dalam kondisi serba berkecukupan.

“Saya prihatin tentang kalian. Karena calon gembala umat tidak pernah dilatih untuk ajur-ajer (melebur) dengan masyarakat. Terlalu banyak dijejali filsafat dan telogi," katanya.

Ucapan Romo Mangun itu membuat beberapa frater marah. Namun, Romo Mangun tetap memberondong para frater dengan fakta-fakta yang membuat mereka tidak bisa membantah apa yang disampaikan.

Sepenggal kisah Romo Mangun mengkritik gereja itu diceritakan Y. Suyatno Hadiatmojo dalam Kotak Hitam Sang Burung Manyar: Kebijaksanaan dan Kisah Hidup (2013). Kritik itu bukan hanya sebatas omongan. Sebelum bisa bicara seperti itu, Romo Mangun sudah hidup bersama masyarakat yang tertindas.



Infografik Mozaik Romo Mangun


Romo Mangun bukan hanya membela dan menata rumah warga di pinggir kali Code, ia juga turut membela warga yang menjadi korban penggusuran waduk Kedung Ombo pada 1986. Menurut Priyanahadi dalam Y.B. Mangunwijaya, Pejuang Kemanusiaan (1999), Romo Mangun bahkan harus kucing-kucingan dengan aparat keamanan demi bertemu dengan warga di sana.


“Mangun memang tidak bisa menerima kenyataan ketika dilihatnya hak asasi manusia (HAM) diganggu, dirampas dengan berbagai alasan pembangunan. Lalu, Romo Mangun datang ke sana untuk berjuang bersama warga Kedung Ombo,” tulis Priyanahadi (hlm. 126).

Romo Mangun juga menyempatkan diri memikirkan dunia pendidikan untuk anak-anak. Pada 1994, ia mendirikan SD Kanisius Mangunan di Kalasan, Yogyakarta. Sekolah ini berbeda dengan sekolah pada umumnya karena bangunannya menyatu dengan pemukiman warga.

Sekolah itu menjadi karya terakhir Romo Mangun sebelum meninggal pada 10 Februari 1999, tepat hari ini 19 tahun lalu. Ia meninggal karena serangan jantung setelah memberi ceramah dalam sebuah seminar di Hotel Le Meridien, Jakarta. Hari kepergian Romo Mangun kini selalu diperingati warga di pinggir kali Code untuk mengenang jasa pastor dari Ambarawa itu.

Baca juga artikel terkait PEMUKA AGAMA atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight