Yang Terjadi Saat Kulit Hitam Memimpin Organisasi Neo-Nazi

Ilustrasi Organisasi Kelompok Supremasi. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Faisal Irfani - 18 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Membayangkan seorang kulit hitam memimpin kelompok sayap kanan adalah fantasi yang begitu liar. Tapi, hal itu ada di kenyataan.
tirto.id - “Sebagai orang kulit hitam, saya mengambil alih kelompok neo-Nazi dan mengakali mereka.”

Kalimat di atas meluncur dari mulut James Hart Stern, aktivis hak-hak sipil kulit hitam di AS. Stern bukan sembarang aktivis. Ia adalah pemimpin baru organisasi neo-Nazi bernama National Socialist Movement (NSM), per 15 Februari 2019, menggantikan komandan sebelumnya, Jeff Schoep.

Bagaimana bisa orang kulit hitam menjadi orang nomor satu di organisasi sayap kanan? Semua berawal pada 2006, manakala Stern dihukum lima tahun penjara di Mississipi karena kasus penipuan. Di penjara, Stern satu sel bersama Edgar Ray Killen, Grand Wizard KKK yang ditetapkan sebagai tersangka atas pembunuhan tiga aktivis HAM di Neshoba County, Mississippi, pada Juni 1964━dikenal dengan “Mississippi Burning.”

Berada dalam satu sel bersama orang nomor satu di KKK membikin hari-hari Stern seperti mimpi buruk. Ia selalu mendapatkan perlakuan rasis dari Killen. Namun, di balik pengalaman rasis yang Stern terima, keduanya perlahan justru menjalin kedekatan.

Saking dekatnya, mengutip Newsweek, Killen memberi kuasa kepada Stern untuk meneruskan organisasi dan hak atas tanah. (Keluarga dan pengacara Killen membantah hal ini) Kelak, privelese yang didapat dari Killen dipakai Stern untuk membubarkan KKK cabang Michigan.

Relasi yang dibina bersama Killen membikin Stern didekati oleh Schoep. Pada 2014, mereka bertemu untuk kali pertama dalam rangka membahas konferensi rekonsiliasi ras di California. Agenda ini bertujuan membangun kerjasama antara organisasi sayap kanan dengan komunitas kulit hitam.


Sejak pertama kali berjumpa, keduanya saling tidak menyukai satu sama lain. Mereka kerap berdebat tentang Holocaust, Nazi, cita-cita nasionalis kulit putih, hingga keberlangsungan NSM di masa mendatang.

“Saya selalu mengatakan kepadanya: ‘Saya tidak setuju dengan Anda. Saya tidak menyukai Anda’,” jelas Stern. “Saya berbicara dengannya karena saya ingin mengubahnya.”

Tahun 2017 menjadi titik tolak relasi Stern-Schoep ketika pihak Pengadilan Federal Virginia memutus NSM bersalah dalam insiden Charlottesville yang menewaskan satu orang. Oleh pengadilan, NSM dianggap bersekongkol dan lalai sehingga menyebabkan jatuhnya korban.

Situasi itu membikin Schoep datang ke Stern untuk meminta bantuan. Ia tertekan akibat potensi besarnya biaya ganti rugi yang harus ditanggung NSM sehubungan dengan tragedi Charlottesville. Lebih-lebih, para pendukungnya mulai kehilangan respek kepadanya, di samping konflik internal yang diakibatkan keinginan agar NSM tidak kelewat berpolitik secara terbuka semakin meruncing.

Dalam kecemasan tersebut, Stern melihat celah untuk masuk. Ia lalu mendorong Schoep untuk menempuh reformasi di tubuh NSM dengan, salah satunya, menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Stern. Schoep pun, di luar dugaan, menyetujui usulan Stern. Harapan Schoep, dengan ganti komando, gugatan bisa dicabut. Akan tetapi, yang terjadi tidaklah demikian: gugatan tetap bertahan. Schoep berang dan menyerang Stern dengan dalih ia telah ditipu.

“Banyak hal yang dikatakan Stern adalah kibul belaka,” tutur Schoep. “Ia memanipulasi saya. Apa yang ia lakukan justru menempatkan saya dalam bahaya.” Schoep juga menambahkan dirinya akan menentang kepemimpinan Stern di NSM.

Kemarahan pada akhirnya tidak bisa menganulir status Stern di NSM. Usai terpilih jadi ketua, Stern segera menyusun langkah-langkah pembenahan. Dari awal, ia sudah bertekad untuk tidak membubarkan NSM karena ia tidak ingin para anggotanya membikin organisasi baru yang malah menyulitkan Stern untuk mewujudkan misinya.

Beberapa langkah yang diambil Stern antara lain meminta pengadilan mengusut tuntas kasus Charlottesville hingga mengisi konten di situs NSM dengan pelurusan sejarah mengenai Holocaust. (Orang-orang NSM percaya bahwa Holocaust adalah konspirasi semata.)

Kepada The Washington Post Stern bilang bahwa kekuasaan yang ia peroleh merupakan kombinasi dari “infiltrasi, persuasi, serta sedikit manipulasi.” Ia juga sadar, kepemimpinannya bakal melahirkan kontroversi maupun penolakan.

“Anda boleh mengatakan apa saja tentang saya. Tapi, saya sudah melakukan ini sebanyak dua kali,” ucap Stern.

Stern memang melakukannya dua kali: membubarkan KKK dan kemudian berkuasa di NSM.

Pokoknya Pro-Hitler

Southern Poverty Law Center mencatat, NSM berakar pada Partai Nazi Amerika, yang didirikan pada 1959 oleh George Lincoln Rockwell, mantan tentara Angkatan Laut AS. Pada 1967, Rockwell dibunuh salah satu pengikutnya. Sepeninggal Rockwell, Partai Nazi AS beralih rupa jadi National Socialist American Workers Freedom. Identitas itu kemudian berganti lagi jadi NSM pada 1994. Di fase inilah Schoep ditunjuk jadi pemimpin.

Seiring waktu, NSM tumbuh dan menjadi organisasi neo-Nazi terbesar di AS (sampai 2009, mereka punya 61 cabang di 35 negara bagian). Titik kebangkitan NSM dimulai pada 2004 usai kematian dua pemimpin neo-Nazi yang terkenal di AS, William Pierce dan Richard Butler.

Kebangkitan juga dipicu vonis penjara 40 tahun kepada Matt Hale, pentolan neo-Nazi cum pendeta Anglikan, yang dituduh merencanakan pembunuhan terhadap seorang hakim federal. Sejak saat itu, NSM mampu menjadi tempat bernaungnya seluruh kelompok neo-Nazi di AS, dari White Revolution hingga National Alliance.

Tak hanya jadi tempat berkumpulnya organisasi neo-Nazi di seluruh penjuru negeri, NSM juga berhasil meraih massa dari kelompok usia muda. Di bawah kepemimpinan Schoep, perekrutan anak-anak muda dilakukan oleh Korps Pemuda Viking. Mereka melakukan propaganda neo-Nazi lewat selebaran pamflet, website, hingga label musik.



Terdapat beberapa poin yang jadi pijakan operasional mereka. Pertama, NSM secara terbuka mengidolakan Adolf Hitler. Dalam propagandanya, mereka menyebut Hitler sebagai sosok yang visioner dan suci. Kedua, mereka menganggap yang bisa jadi warga negara AS adalah orang-orang kulit putih dan heteroseksual. Di luar golongan tersebut, hukumnya wajib dideportasi.


Kiprah terkenal NSM terjadi pada Desember 2005. Saat itu, mereka melakukan demonstrasi di Toledo, Ohio. Aksi ini berujung rusuh dan mengakibatkan kerusakan sebesar 336.000 dolar.

Di balik kiprah mereka yang fenomenal, NSM juga tak luput dari skandal yang dianggap bikin malu organisasi. Misalnya saja yang terjadi pada Bill Hoff, salah satu senior di NSM. Tak lama selepas ia meninggal, anggota keluarganya membuka fakta bahwa Hoff punya leluhur orang kulit hitam. Skandal lainnya yakni Schoep dituduh menikahi perempuan yang “tidak berasal dari golongan ras murni.”

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan naiknya Donald Trump ke Gedung Putih, retorika kebencian yang ditujukan untuk kelompok minoritas semakin masif terdengar. Slogan “Make America Great Again” kemudian diterjemahkan oleh kelompok-kelompok sayap kanan sebagai ajakan maupun legitimasi untuk merisak orang-orang Yahudi, Muslim, kulit hitam, imigran, dan lainnya, baik di kehidupan daring maupun nyata.

Kemenangan Trump membikin eksistensi kelompok sayap kanan╾supremasi kulit putih sampai neo-Nazi╾kian menjadi-jadi. Namun, kabar terpilihnya Stern sebagai ketua NSM memperlihatkan bahwa upaya perlawanan terhadap para orang-orang bebal ini akan terus menggelora. Jika tak cukup kuat melawan dari luar, maka strategi menyusup ke dalam pun tak jadi soal.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight