Seri Intelijen Revolusi

Yanagawa Munenari, Guru Para Jenderal Orde Baru

Ilustrasi serdadu Jepang. tirto.id/Lugas
Oleh: Petrik Matanasi - 23 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Yanagawa Munenari adalah perwira intelijen Jepang yang pernah melatih PETA. Banyak muridnya yang jadi jenderal Orde Baru.
tirto.id - Waktu balatentara Jepang masuk ke Indonesia, Yanagawa Munenari alias Yanagawa Motosige masih berpangkat letnan. Jebolan sekolah intelijen Nakano Gakko ini dipekerjakan di seksi khusus Sambobu Takubetsu Han (Beppan). Sejak awal 1942 dia sudah di berada Bandung.

“Yanagawa menyamar sebagai orang Indonesia yang telah menyelidiki jalan-jalan dan mengumpulkan senjata-senjata,” tulis Joyce Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang (1988: 106).

Dari awal, Yanagawa suka mengajari orang Indonesia. “[Yanagawa] mengumpulkan enam orang pemuda Indonesia dan melatih mereka dan melatih mereka judo, sumo, kendo dan di waktu malam mengajar mereka bahasa Jepang. Dia memakai mereka untuk mengumpulkan data-data intelijen,” catat Joyce Lebra.

Melatih para pemuda memang jadi “makanan” sehari-hari Yanagawa di masa awal pendudukan Jepang. Pada awal 1943, murid Yanagawa tak cuma enam orang, tapi 50 pemuda Indonesia pilihan yang diambil dari tempat-tempat pelatihan pemuda. Mereka ditempatkan di Seinen Dojo Tangerang.

Di antara para pemuda yang dilatih itu terdapat Zulkifli Lubis, Kemal Idris, Supriyadi, dan Daan Mogot. Umar Wirahadikusumah, yang pernah jadi Wakil Presiden Republik Indonesia, juga pernah menjadi salah siswa di Seinen Dojo Tangerang yang dipimpin Yanagawa.


Kemal Idris menyebut dalam autobiografinya, Bertarung Dalam Revolusi (1997), bahwa gagasan pendirian Seinen Dojo “diawali oleh Mayor Murazaki dan bawahannya, Letnan Yanagawa, keduanya dari badan intelijen” (hlm. 38).

Dua perwira Jepang itu dikenal garang dan keras oleh pemuda-pemuda yang mereka latih. Seingat Kemal Idris, "[Yanagawa] bersikap keras bukan pada orang Indonesia saja, tapi juga pada orang Jepang sendiri […] kalau orang Jepang kurang bersemangat, langsung ditegur, lalu dipukuli, sama saja terhadap kami."

Kemal Idris juga mengenang bagaimana para murid pelatihan diajari menggunakan senjata. Ia mengatakan kepada Ben Anderson, seperti termaktub dalam Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (2018: 25), “kami diajar untuk menganggap senapan sebagai bagian dari tubuh kami.”

Para pemuda tak hanya diberi latihan fisik ala militer, mereka juga dibekali pelajaran intelijen. Tak heran, Zulkifli Lubis mengaku kepada Tempo (29/7/1989) bahwa “itulah pertama kali saya belajar intelijen.”

Melatih Serdadu PETA

Pelatihan para pemuda itu lalu kian membesar setelah keluar Osamu Seirei 44 tentang pembentukan Tentara Sukarela Pembela tanah Air (PETA) di Jawa. Pemuda-pemuda yang dilatih di Seinen Dojo pun dimasukkan ke Jawa Boei Giyugun Renseitai (pelatihan perwira tentara sukarela Jawa) di Bogor, di bekas tangsi KNIL yang kini sebagian lahannya menjadi Museum PETA. Beppan lah yang mengurusi pelatihan itu.

Sebagai penanggungjawab pendidikan PETA yang kerap turun tangan dalam pelatihan, Yanagawa, baik secara langsung maupun tidak, adalah guru dari ratusan pemuda yang belakangan jadi perwira PETA. Puluhan tahun kemudian, murid-murid Yanagawa itu menjadi jenderal di zaman Orde Baru dan mengisi posisi penting dalam kekuasaan.

Ketika Beppan sibuk melatih calon perwira, Yanagawa sempat pergi dan tinggal agak lama di Jepang pada 1944. "Beppan ditugaskan untuk mengadakan persiapan-persiapan permulaan untuk sebuah serbuan ke Australia. Dalam kerangka ini Yanagawa dan beberapa lainnya ditugaskan untuk membuat sebuah film, yang berjudul Hallo Australia," tulis Joyce Lebra (hlm. 106-107).

Di mata Kemal Idris, Yanagawa bukan komandan salon yang hanya cakap berteori atau lebih banyak bekerja di belakang meja. Alumnus Nakano Gakko ini adalah komandan yang punya pengalaman tempur. Menurut Lebra, Yanagawa lah orang yang “bertanggungjawab atas latihan dan pengembangan PETA” (hlm. 107).

Mantan anak didik Yanagawa lainnya adalah Omar Bachsan, yang jadi salah satu komandan peleton di Rengasdengklok ketika terjadi penculikan terhadap Sukarno dan Mohammad Hatta. Dalam memoarnya yang berjudul Tjatatan Ringkas tentang PETA (Pembela Tanah Air) dan Peristiwa Rengasdengklok (1955: 9), Omar Bachsan menilai Yanagawa sebagai seorang yang cerdik dan kejam. Pada buku itu dicatat pula bahwa Yanagawa mencurigai pasukan PETA di Rengasdengklok tidak loyal kepada pemerintah di tahun-tahun terakhir pendudukan Jepang (hlm. 47).

Kereta Api yang Mendadak Berhenti

Ketika Jepang mulai terancam oleh Sekutu di front Pasifik, pelatihan militer untuk orang-orang Indonesia semakin intensif. Sepanjang 1945, Tentara ke-16 yang menguasai Jawa melatih satuan-satuan untuk menangkal serangan Sekutu yang diperkirakan akan mendarat di Jawa. Program yang disebut I-Go Kimmutai (satuan tugas pertama) itu dibentuk dan tersebar di Bandung, Salatiga, dan Malang. “Kembali Kapten Yanagawa diserahi pendidikan di Bandung dan 9 atau 10 perwira dan bintara Jepang diperbantukan,” tulis Lebra (hlm. 124).

Selain itu, menurut catatan Ben Anderson, Yanagawa terlibat pula dalam pelatihan pemuda-pemuda Islam dalam barisan Hizbullah (hlm. 28).

Sebagai perwira militer Jepang, berita penyerahan tanpa syarat Jepang kepada Sekutu sangat mengejutkan Yanagawa. Ben Anderson mencatat bagaimana Yanagawa menggambarkan keterkejutannya: “seperti berada di dalam kereta api yang melaju kencang dan berhenti dengan tiba-tiba” (hlm. 74).

Di masa sekitar proklamasi itu, pengusaha Hasjim Ning pernah bersua Yanagawa. Seperti diakuinya dalam Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning (1986), pada suatu hari, sebelum berangkat ke Jakarta, ia terlebih dahulu menemui Yanagawa. Perwira Jepang itu terlihat teler dan terkapar, tapi masih bisa diajak bicara. Mereka sempat berbicara soal PETA yang dibubarkan. Dalam kondisi mabuk, Yanagawa bilang, “Perang sudah habis. Sudah damai. PETA tidak perlu lagi” (hlm. 97).

Untungnya, Yanagawa tak melakukan bunuh diri ala perwira Jepang. Dia lalu tampil sebagai sosok yang sangat dikenang bekas murid-muridnya. Bahkan hingga para murid itu sudah jadi pejabat di era Sukarno maupun Soeharto.

Bertemu Indonesia Lagi

Ketika proyek pampasan perang dari Jepang mulai masuk di tahun-tahun terakhir kepresidenan Sukarno, Yanagawa berurusan dengan Indonesia lagi. Tak tanggung-tanggung, Yanagawa bertemu dengan Sukarno. Menurut Masashi Nishihara dalam Sukarno, Ratna Sari Dewi dan Pampasan Perang (1993), Sukarno dan Yanagawa mengadakan reuni di Tokyo pada Juni 1959. Ketika itu, Sukarno tengah berkunjung ke Jepang (hlm. 184-185).

Dalam reuni tersebut, Sukarno meminta Yanagawa untuk jadi mediator antara pemerintah Indonesia dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra. Salah satu bekas murid Yanagawa, Zulkifli Lubis, adalah salah satu pentolan PRRI.

“Yanagawa kemudian menulis surat kepada Lubis dan meminta sekretaris Presiden untuk mengatur agar surat itu disampaikan kepadanya, tetapi belakangan dia mengetahui bahwa Lubis tak pernah menerimanya,” tulis Masashi Nishihara (hlm. 259).




Selain itu, Yanagawa juga diminta menjadi penasihat tim Jepang untuk pesta olahraga Ganefo pada 1963. Dia pun menerimanya dengan sungguh-sungguh.

“Dia [Yanagawa] secara tulus merasa bahwa para pemuda di negara berkembang harus berusaha untuk meningkatkan semangat nasionalisme mereka melalui pesta olahraga,” catat Masashi Nishihara (hlm. 216).

Salah seorang perwira yang dekat dengan Sukarno, Mayor Jenderal Sudirgo, juga dekat dengan Yanagawa. Sudirgo pernah menjadi Kepala Polisi Militer dan di masa awal Orde Baru sempat memimpin Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).

Legenda Yanagawa tak hanya ada dalam sanubari Lubis, Kemal, atau Daan Mogot. Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani juga punya kenangan tersendiri. Yani adalah peserta pelatihan PETA yang menarik perhatian Yanagawa.

Disebutkan dalam buku Monumen Pancasila Çakti (1975:224), “Kapten Yanagawa tertarik kepada Ahmad Yani karena semangat dan daya tahannya yang sangat tinggi; sewaktu penutupan pendidikan pemuda Ahmad Yani dinyatakan sebagai siswa terbaik lulus nomor satu dengan hadiah sebuah Samurai yang bentuknya istimewa” (hlm. 224).


==========

Sepanjang Oktober-November, Tirto menayangkan edisi khusus bertajuk "Seri Intelijen Revolusi". Serial ini hadir setiap Jumat.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight