Menuju konten utama

Yadi Tewas Usai Ditangkap Polisi saat Demo Rusuh di DPR

Maspupah mengaku diberi uang Rp10 juta untuk mengurus jenazah Yadi.

Yadi Tewas Usai Ditangkap Polisi saat Demo Rusuh di DPR
Gas air mata yang ditembakkan aparat membanjiri sekitar lingkar Semanggi dekat dengan titik paramedis mengevakuasi korban bentrokan Reformasi Dikorupsi pada Senin (30/9/19). tirto.id/Hafitz Maulana

tirto.id - Maspupah menduga anak sulungnya, Maulana Suryadi alias Yadi (23), tewas karena dianiaya saat demo yang berujung rusuh di sekitar gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Ia menyatakan tidak terima apabila Yadi disebut perusuh dalam demonstrasi tersebut.

"Dunia akhirat saya tidak terima. Tapi kalau anak saya meninggal karena dari Allah, saya ikhlas," ujar Maspupah seperti dikutip dari Antara, Jumat (10/4/2019).

Maspupah mendapati anaknya tewas berlumur darah, Kamis (26/9/2019). Sepulang kerja, ia kedatangan delapan orang yang mengaku polisi menggunakan dua mobil. Mereka lalu memperlihatkan Jasad Yadi.

"Polisi ngajak makan dulu. 'Enggak ah makasih udah kenyang'. Polisi bilang Maulana udah enggak ada, sabar ya. Saya kaget, nangis. Orang dia masih keadaan sehat [sebelum berangkat ke lokasi demo]," ujarnya.

Maspupah juga sempat ke Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur untuk mengurus jasad Yadi. Ia disodorkan surat pernyataan mengenai penyebab kematian Yadi, bahwa Yadi meninggal akibat terkena gas air mata dan penyakit asma.

"Abis itu saya dipanggil sama polisi ke kamar, ngasih amplop buat ngurus biaya jenazah Yadi, Rp10 juta. Saya enggak banyak omong, takut," tuturnya.

Maspupah sempat menanyakan kenapa jasad Yadi mengeluarkan darah dari telinga ke RS Polri, namun petugas mengklaim hal itu disebabkan karena penyakit asma.

Saat dimakamkan pun menurut Maspupah, jasad Yadi masih mengeluarkan darah. Ia pun tak melihat ada polisi yang menghadiri pemakaman tersebut.

Wanita yang bekerja menjaga lahan parkir itu mengakui putranya mengidap asma karena turunan dari sang ayah, bahkan terkadang Yadi merasakan sesak nafas saat kambuh.

Bukan Demonstran

Menurut Maspupah, Yadi sempat meminta maaf kepada dirinya sebelum berangkat ke lokasi demo. Dengan nada pilu, ia menuturkan Yadi juga sempat memijat badan dirinya seraya terus meminta maaf dan mencium tangan.

"Terus cium tangan, maafin Yadi ya bu, cium tangan lagi," ujar Maspupah.

Selain itu, Maspupah mengisahkan temannya Yadi bernama Aldo yang bercerita ditangkap polisi saat kericuhan di sekitar Slipi, Jakarta Barat.

"Temannya baru keluar tuh si Aldo, di dalam penjara katanya. Tangkapnya berdua sama Yadi. Saya tanya sama Aldo bagaimana kejadiannya," ujar Maspupah.

Berdasarkan penjelasan Aldo, Maspupah menuturkan saat itu Aldo dan Yadi ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam mobil di Flyover Slipi.

Di dalam mobil terdapat beberapa orang, kemudian Aldo dan Yadi tidak sadarkan diri, namun Maspupah tak menjelaskan kenapa mereka sempat tak sadarkan diri.

Setelah siuman, Aldo sudah berada di dalam penjara, sementara keberadaan Yadi tidak diketahui.

Wanita berusia 50 tahun itu mengungkapkan Aldo sempat mendekam di penjara selama tiga hari dan membantah ikut demo.

"Dia cerita bukan demo, cuma lihat," tutur Maspupah.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sempat mengumumkan seorang "perusuh" tewas saat demonstrasi di sekitar Gedung DPR.

"Bukan pelajar, bukan mahasiswa, tapi kelompok perusuh itu," tegas Tito.

Tito juga membantah penyebab kematian korban karena dianiaya anak buahnya. Ia mengklaim korban tewas karena sesak nafas.

"Tidak ada satupun luka tembak ataupun luka bekas penganiayaan," jelasnya.

Baca juga artikel terkait DEMO PELAJAR

tirto.id - Hukum
Sumber: Antara
Penulis: Gilang Ramadhan
Editor: Dieqy Hasbi Widhana