Ya, Ada Lho Orang yang Tidak Menonton Game of Thrones

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 20 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mengapa banyak warganet merisak mereka yang menyatakan tidak menonton GoT?
tirto.id - Episode pertama musim kedelapan Game of Thrones (GoT) yang tayang pada 14 April 2019 ditonton oleh 17,4 juta penonton, dan diperkirakan ditonton ilegal 54 juta kali. Jumlah itu menjadikan GoT sebagai salah satu serial televisi yang paling banyak ditonton.

Namun percayalah: ada banyak manusia di muka bumi ini yang belum atau tidak menonton serial yang diangkat dari novel karya George R.R. Martin itu.

Salah satunya adalah Alya Khalishah, seorang content writer di platform penggalangan dana dan donasi online yang berkantor di daerah Jakarta Selatan. Sejak awal tayang pada 2011 silam, Alya sudah tak tertarik. Namun pada awal 2018 lalu ia memutuskan untuk menonton karena didesak oleh beberapa teman.

Alya hanya "tahan" menonton musim pertama. Menurutnya GoT membungkus terlalu banyak konflik kepentingan sampai pusing untuk diikuti. Apalagi durasi per episodenya lebih panjang dibanding serial kebanyakan.

Sebagai informasi, rata-rata satu episode GoT berdurasi satu jam, dan dari musim pertama hingga keenam diisi sepuluh episode. Pada musim ketujuh jumlah episodenya berkurang menjadi tujuh. Pada musim kedelapan atau yang terakhir hanya ada total enam episode—meski total durasinya menjadi paling panjang di antara musim-musim sebelumnya.

Selain itu, secara selera, Alya lebih suka gagrak komedi atau kriminal dengan konflik yang selesai di akhir episode. Ini berbeda dengan GoT yang menyuguhkan cerita besar, dengan sub-sub cerita dan karakter yang berkembang dan kelak bertautan satu dengan yang lain.


“Sekarang aku lagi suka banget Friends. Dulu sempet suka Criminal Minds sama Law & Order: Special Victims Unit,” kata Alya, Jum’at (17/5), saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Di luar perkara selera, Alya juga tidak tertarik menonton GoT karena ia adalah serial yang kelewat populer. Dia sadar bahwa serial itu menjadi tema obrolan rutin di kalangan teman-temannya, dan dia terpaksa tidak ikut nimbrung. Namun dia tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah.

“Aku nggak bisa maksa nonton cuma demi keep up (tak ketinggalan obrolan). Capek juga kalo harus melakukan sesuatu yg nggak disuka cuma untuk itu,” katanya.

Nindias Nur Khalika merasakan hal yang sama seperti Alya. Jurnalis asal Yogyakarta itu memahami betapa populernya GoT, baik di lingkaran pertemanan, keluarga, atau media sosial.

Setelah teguh tak tertarik untuk menonton, dua tahun lalu seorang teman dekat mendorongnya untuk menonton episode pertama musim pertama. Baru sampai menit-menit awal yang berisi adegan pemenggalan kepala, perempuan yang akrab disapa Ajeng itu menyerah.

Ajeng tipikal orang yang memilih untuk menghindari adegan-adegan kekerasan sadis (gore). Di bioskop, dia jelas tak bisa menghentikan film. Di layar laptop, dia selalu punya opsi untuk menghentikan tayangan.

“Cerita dengan latar kolosal, durasinya panjang, kompleks dan banyak karakter nggak masalah sih. Cuma kekerasannya itu, aku enggak kuat,” katanya, Jumat (17/5), melalui sambungan telepon.


Maka ketika teman-teman sekantor atau kakak-kakaknya membicarakan GoT dengan antusias, Ajeng hanya bengong. Ujung-ujungnya, mereka kaget Ajeng tak menonton serial yang sudah meraih 47 penghargaan di ajang Emmy Awards itu.

"Respons mereka, 'hah, kamu gak nonton?'" kata Ajeng sambil tertawa.

Populer dan Dibajak

GoT meraih pencapaian spektakuler untuk rata-rata kotor penonton sejak musim pertama, mencapai 9,3 juta penonton per episode. Untuk musim kedua angkanya melonjak menjadi 11,6 juta, dan pada musim ketiga sudah di angka 14,2 juta.

Memasuki musim keempat, rata-rata kotor penonton GoT mencapai 18,6 juta orang, melampaui rekor The Sopranos. GoT pun didaulat sebagai acara HBO yang paling banyak ditonton. Musim kelima penonton bertambah lagi ke angka 20 juta, musim keenam sebanyak 25 juta, dan musim ketujuh sebesar 32,8 juta.

Karena hanya tayang di HBO, serial ini kerap mendapat cap elitis karena hanya bisa ditonton oleh pelanggan saluran itu. Namun tentu saja film ini bisa diunduh bajakannya atau ditonton secara ilegal. Bahkan saking gesitnya para pembajak, berkas sudah bisa diunduh beberapa menit usai episode ditayangkan di HBO. Sejak 2012 hingga 2017 situs TorrentFreak mencatat GoT sebagai acara televisi yang paling banyak dibajak.


Pada 2017, misalnya, setiap episodenya diunduh secara ilegal sebanyak lebih dari 90 juta kali pada minggu penayangan awal. Mengingat 15 juta di antaranya hanya unduhan di AS, GoT benar-benar memperoleh popularitas tinggi di tingkat global.

Lagi-lagi, populer tidak berarti ditonton semua orang. Deborah L. Jaramillo, profesor studi film dan televisi di Boston University, berkata pada Global News bahwa kadang popularitas lebih seperti ilusi. Jumlah unduhan ilegal yang besar pun belum mengubah pandangan Deborah bahwa perhatian untuk GoT cenderung over-hype.

“Ini terasa seperti semua orang memperbincangkan Game of Thrones di media sosial, dan hal ini memberikanmu sensasi bahwa semua orang menontonnya. Tapi sebenarnya belum tentu demikian."

Popularitas GoT di medsos memang seakan tidak terbendung. Deborah mengatakan GoT menyedot banyak penonton dari segmen usia antara 18 hingga 49 tahun. Dalam konteks segmen penonton ini, imbuhnya, semakin muda umurnya, semakin aktif ia bermain medsos.

Popularitas itu pun sampai melahirkan fenomena unik: ada banyak orang yang dirisak di medsos hanya karena mengaku belum atau tidak pernah menonton GoT.

Infografik Menonton GoT
Infografik Menonton GoT. tirto.id/Sabit



Salah satunya Mandy Wiener, reporter News24. Pertengahan April lalu ia membagikan pengalamannya di kolom News24, yang berawal dari cuitan sederhana di Twitter.

“Halo, nama saya Mandy dan saya tidak pernah menonton Game of Thrones barang satu episode pun dan saya baik-baik saja.”

Beberapa warganet merespons dengan pengakuan serupa. Sebagian lainnya ada yang menanggapi Mandy sinis, dan menyebutnya sebagai seseorang yang caper.

"Terus? Kamu pengen dapat medali?" cuit salah satu orang yang merespons Mandy.

Mandy kemudian menyadari satu hal: orang-orang yang dengan bangga mengaku tidak menonton GoT ini bisa membuat marah mereka yang menonton. Kebanggaan karena tidak menonton itu kerap disamakan dengan sikap elitis, tidak suka hanya karena serial itu sedang populer serta dibicarakan banyak orang, dan karenanya menunjukkan "kesombongan". Padahal mereka yang tidak menonton punya banyak alasan.

Mandy kemudian bertanya balik: mengapa respons terhadap orang yang tak menonton ini harus sedemikian heboh?

“Jika Anda dapat mencuit tentang menonton GoT, orang lain juga boleh dong mencuit tentang tidak menontonnya. Itu tidak ada hubungannya dengan Anda (si penonton), dan tidak memengaruhi kesenangan Anda terhadap serial itu."

Pengakuan tidak menonton itu juga tak selamanya mereka tidak mau menonton. Menurut Mandy, risakan-risakan yang dia terima malah mendorong Mandy untuk mencoba menonton GoT. Sayangnya, sebagaimana yang dirasakan Alya atau Ajeng, GoT memang bukan cup of tea-nya.

Pada akhirnya persoalan tonton-menonton ini berujung pada rumus yang sederhana belaka: selera tidak bisa dipaksa.

Baca juga artikel terkait GAME OF THRONES atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nuran Wibisono